Breaking News
Loading...

Jurnalmuslim.com - Seorang Sunni tinggal sekampung dengan orang Syiah. Orang Syiah di kampung itu terkenal sering berbuat maksiat; mabuk-mabukkan, mencuri, dsb.

Suatu hari, tetangganya yang Sunni mencoba datang untuk menasehati. Maka, mereka pun bercakap-cakap di dalam rumahnya.

Sunni: Kamu gak bosan ya setiap hari begitu terus, terus-terusan bermaksiat dan tidak pernah sadar. Hidup di dunia itu kan hanya sebentar.

Syiah: Apaan sih kamu tu? Kamu datang ke sini cuma pengin ceramah?

Sunni: Aku sebenarnya kasihan sama kamu. Bukan hanya kamu yang rugi, tapi orang lain juga. Sadarlah! Cobalah banyak-banyak zikir dan berbuat baik.

Syiah: Hhhh… Udah ah. Aku jadi kayak gini juga gara-gara kamu. Dulu waktu aku diciptakan, tanahku tercampur dengan tanahmu.

Sunni: %$^& (bingung). Kok bisa?

Syiah: Iya, kamu kan sumber maksiat. Aku itu sebenarnya diciptakan dari tanah suci khusus, tapi tanah kita tercampur. Makanya aku jadi kayak gini. Kamu juga jangan bangga, kamu bisa berbuat baik kayak gitu itu, juga karena udah tercampur dengan tanahku.

Sunni: %$$$^&%#$ (tambah bingung)



Cerita tersebut tidak nyata, hanya untuk menggambarkan betapa lucunya apa yang diyakini Syiah. Perlu diketahui, ada satu keyakinan Syiah yang menggelikan dan benar-benar tidak masuk akal. Yaitu Aqidah Thinah (keyakinan tentang asal penciptaan).

Penganut Syiah meyakini bahwa mereka diciptakan dari tanah khusus, sedangkan Ahlus Sunnah dari tanah yang lain. Maka diaduklah tanah tersebut. Sehingga perbuatan maksiat atau kejahatan yang dilakukan Syiah, maka dipengaruhi tanah Ahlus Sunnah. Sedangkan jika Ahlus Sunnah melakukan kebaikan, maka dipengaruhi tanah khusus Syiah. Kemudian pada Hari Kiamat, keburukan orang Syiah akan ditimpakan kepada Ahlus Sunnah. Sedangkan kebaikan Ahlus Sunnah, akan diberikan kepada orang Syiah.

Sebagian tokoh Syiah memang menganggap riwayat ini Ahad[1], seperti Al-Murtadha dan Ibn Idris. Tapi, hal ini dibantah oleh kalangan mereka sendiri yang menyatakan bahwa riwayatnya Mutawatir[2]. Sebagaimana dikatakan oleh Nikmatullah Al-Jaza’iri dalam Al-Anwar An-Nu’maniyah.

Selain itu, “syaikh” mereka yang bernama Al-Kulaini mengatakan hal ini dengan menyebutkan tujuh hadits dalam Bab Thinatul Mukmin wal Kafir (Tanah Mukmin dan kafir). Juga, dalam Biharul Anwar yang ditulis 67 hadits terkait hal itu dalam Bab Thinah dan Perjanjian.

Penulis: Rudy

Footnote:

[1] Hadits Ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir, perawinya hanya satu atau lebih. Bisa bernilai shahih, hasan, muwatsaq, ataupun dhaif.

[2] Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, sehingga tidak mungkin berbohong atau ada kesalahan. Hadits ini adalah hujjah kuat untuk beramal. seperti ini adalah hujjah dan harus dijadikan landasan dalam beramal. Sedangkan hadis ahad adalah hadis yang tidak mencapai derajat tawatur, rawi yang meriwayatkannya satu atau lebih.

(kiblat)

0 comments: