Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebiasaan Mereka Mengutuk Para Sahabat Nabi

Syiahindonesia.com - Dalam Islam, para sahabat Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena mereka adalah generasi pertama yang menerima wahyu, membela dakwah Islam, serta menyampaikan Al-Qur’an dan Sunnah kepada umat hingga hari ini. Namun dalam ajaran Syiah, terdapat kebiasaan yang sangat menyimpang dan berbahaya, yaitu mengutuk, mencela, bahkan mengkafirkan sebagian besar sahabat Rasulullah ﷺ. Praktik ini bukan sekadar perbedaan pandangan sejarah, melainkan telah menjadi doktrin ideologis yang merusak akidah dan menghancurkan persatuan umat Islam.

Salah satu ciri utama ajaran Syiah adalah kebencian sistematis terhadap para sahabat yang tidak sejalan dengan konsep imamah versi mereka. Dalam banyak literatur Syiah klasik, para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan رضي الله عنهم dituduh sebagai pengkhianat, perampas hak Ahlul Bait, bahkan disebut murtad setelah wafatnya Nabi ﷺ. Tuduhan ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang murni dan tidak pernah dikenal oleh generasi Salaf.

Padahal, Al-Qur’an secara tegas memuji para sahabat Nabi ﷺ dan menyatakan keridhaan Allah ﷻ kepada mereka. Allah berfirman:

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾
“محمد adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang di antara mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)

Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa para sahabat memiliki iman, akhlak, dan keutamaan yang diakui langsung oleh Allah ﷻ. Mengutuk mereka berarti menentang penilaian Allah sendiri.

Tidak hanya itu, Allah ﷻ juga berfirman:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini mencakup seluruh sahabat besar yang justru menjadi sasaran caci maki dalam ajaran Syiah.

Rasulullah ﷺ pun secara tegas melarang umat Islam mencela para sahabatnya. Dalam hadis sahih, beliau bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud atau setengahnya dari amal salah seorang dari mereka.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan para sahabat, sehingga mencela mereka merupakan dosa besar dan penyimpangan akidah.

Namun dalam praktik Syiah, mengutuk sahabat justru dijadikan bagian dari ritual, doa, dan narasi sejarah. Sejarah Islam ditulis ulang dengan penuh kebencian, seolah-olah Islam setelah wafat Nabi ﷺ berada di tangan para pengkhianat. Akibatnya, generasi Syiah dibentuk dengan rasa benci terhadap tokoh-tokoh utama Islam yang menjadi perantara sampainya Al-Qur’an dan Sunnah kepada umat.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak dahulu telah memperingatkan bahaya ajaran ini. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله menyatakan bahwa siapa saja yang mencela sahabat Nabi ﷺ, maka ia telah menyimpang dari jalan Islam. Sebab, mustahil seseorang mengaku mengikuti Islam, sementara ia membenci generasi yang menyampaikan Islam tersebut.

Lebih berbahaya lagi, kebiasaan mencela sahabat akan menggoyahkan kepercayaan umat terhadap seluruh bangunan syariat. Jika para sahabat dianggap pendusta dan pengkhianat, maka keabsahan Al-Qur’an, hadis, dan seluruh ajaran Islam ikut dipertanyakan. Inilah pintu besar kerusakan akidah yang dibuka oleh ajaran Syiah.

Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia wajib waspada terhadap ajaran Syiah yang menjadikan kebencian kepada sahabat sebagai identitas mazhab. Islam tidak pernah mengajarkan cinta kepada Ahlul Bait dengan cara membenci sahabat. Justru Ahlul Bait dan para sahabat hidup berdampingan, saling menghormati, dan bersama-sama membela Islam.

Jalan yang lurus adalah jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu mencintai seluruh sahabat Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait tanpa ghuluw, tanpa kebencian, dan tanpa fitnah yang merusak persatuan umat Islam.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: