Pendahuluan
Syiah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) memiliki kumpulan hadis yang berbeda total dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Perbedaan ini tidak sekadar pilihan sumber, tetapi berkaitan dengan ideologi, konstruksi sejarah, dan doktrin imamah mereka. Akibatnya, Syiah membangun syariat tersendiri yang sering bertentangan dengan Islam yang dibawa Nabi ﷺ dan diajarkan para sahabat.
1. Akar Masalah: Syiah Menolak Mayoritas Sahabat
Ahlus Sunnah menerima hadis dari seluruh sahabat yang tsiqah. Namun Syiah:
-
Menganggap mayoritas sahabat murtad, kecuali sekitar 3–5 orang:
-
Ali r.a.
-
Salman Al-Farisi
-
Abu Dzar
-
Miqdad
-
Ammar bin Yasir (menurut sebagian riwayat mereka)
-
Karena mereka menolak para sahabat yang menjadi rantai utama sanad hadis, otomatis hadis-hadis dalam Shahih Bukhari, Muslim, dan kitab Sunni lainnya dianggap tidak valid.
Konsekuensinya: mereka harus membuat “rantai periwayatan” versi sendiri, yang berujung pada munculnya kitab hadis berbeda.
2. Syiah Membangun Doktrin Berdasarkan Imamah, Bukan Sunnah Nabi
Inti akidah Syiah adalah Imamah, bukan tauhid. Bagi mereka:
-
Imam ma‘shum = lebih tinggi dari Nabi kecuali Nabi Muhammad ﷺ
-
Imam tidak mungkin salah
-
Imam memiliki ilmu ghaib
-
Imam memiliki wewenang syariat
Karena itu, hadis Nabi ﷺ dianggap kurang, dan mereka lebih memilih perkataan imam-imam mereka.
Syiah akhirnya menyusun literatur yang lebih menonjolkan ucapan Imam ketimbang Nabi ﷺ.
3. Daftar Kitab Hadis Utama Syiah
Syiah punya empat kitab induk (“Al-Kutub al-Arba’ah”):
-
Al-Kāfī
– karya Al-Kulaini
– berisi ±16.000 hadis
– lebih dari 50% dianggap dha’if oleh ulama Syiah sendiri
– penuh riwayat ekstrem seperti imam tahu ghaib dan alam diciptakan untuk imam -
Man Lā Yahduruhu Al-Faqīh
– karya Ash-Shaduq
– sarat riwayat akidah yang menyimpang seperti bolehnya mut’ah, raj’ah, dan imamah wajib seperti rukun iman -
Tahdzīb al-Ahkām
– karya Ath-Thusi
– banyak hadis syariat yang bertentangan dengan ijma’ ulama Ahlus Sunnah -
Al-Istishrāb
– karya Ath-Thusi
– disusun khusus untuk “membenarkan” praktik fikih Syiah
Kitab-kitab ini tidak mencerminkan hadis Nabi ﷺ, tetapi lebih merupakan teks-teks ideologis Syiah.
4. Metodologi Ilmu Hadis Syiah Tidak Konsisten
Ahlus Sunnah memakai kaidah:
“Sanad shahih + matan tidak syadz dan tidak berillat = hadis diterima.”
Sedangkan Syiah menerapkan:
-
Hadis yang mendukung imamah = diterima
-
Hadis yang bertentangan dengan imamah = ditolak, meskipun sanadnya kuat
-
Hadis yang mendukung sahabat = otomatis ditolak
-
Hadis yang menjelekkan sahabat = dimasukkan walau sanadnya kacau
Hasilnya adalah buku hadis ideologis, bukan buku hadis berdasarkan metodologi ilmiah.
5. Bukti Penyimpangan Syiah dalam Isi Kitab Hadis Mereka
a. Hadis-hadis yang meninggikan imam melebihi Nabi
Dalam Al-Kāfī:
“Imam mengetahui apa yang di langit dan bumi.”
— Al-Kāfī 1/260
Ini bertentangan langsung dengan Al-Qur’an:
“Tidak ada yang mengetahui yang ghaib selain Allah.” (QS. An-Naml: 65)
b. Hadis tahrif (penyimpangan) Al-Qur’an
Dalam Al-Kāfī terdapat riwayat:
“Al-Qur’an telah dikurangi dan diubah setelah Rasulullah wafat.”
Ini jelas bertentangan dengan ijma’ seluruh ulama Islam.
c. Hadis yang menghalalkan nikah mut’ah
“Barang siapa tidak melakukan mut’ah maka ia telah kufur.”
— Al-Kāfī
Padahal Nabi ﷺ mengharamkan mut’ah secara final pada hari Khaibar.
d. Hadis tentang raj’ah
Syiah percaya imam dan orang tertentu akan hidup kembali sebelum kiamat untuk membalas dendam. Ini tidak ada dalam Islam.
6. Mengapa Isi Kitab Hadis Syiah Berbeda? (Kesimpulan Inti)
Ahlus Sunnah
-
Berpegang pada Al-Qur’an & Sunnah
-
Hadis dilihat dengan ilmu sanad
-
Semua sahabat dihormati
Syiah
-
Doktrin imamah → filter hadis
-
Menolak sahabat
-
Ucapan imam dianggap wahyu
-
Kaidah hadis ideologis, bukan ilmiah
Karena itu, mereka harus membuat kumpulan hadis sendiri agar ajaran imamah tetap “tampak ilmiah”.
7. Dampaknya terhadap Syariat Islam
Perbedaan kitab hadis menghasilkan:
-
Syariat mut’ah
-
Shalat 3 waktu
-
Najisnya Ahlus Sunnah
-
Bolehnya caci maki sahabat
-
Raj’ah
-
Tahrif Al-Qur’an
-
Imam ma‘shum
-
Wilayah imam sebagai rukun agama
Semua ini tidak ada dalam Islam yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Penutup
Perbedaan kitab hadis antara Syiah dan Ahlus Sunnah bukan sekadar perbedaan mazhab—tetapi perbedaan agama, metodologi, dan fondasi akidah. Selama Syiah tetap menjadikan imamah sebagai inti ajaran, mereka akan terus mempertahankan kitab hadis yang menyimpang dari Sunnah Nabi ﷺ yang sahih.
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: