Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan Mereka dalam Memaknai Cinta kepada Ahlul Bait

Syiahindonesia.com – Cinta kepada Ahlul Bait Nabi ﷺ merupakan bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah yang sahih, dipahami sebagaimana pemahaman para sahabat dan generasi terbaik umat ini. Namun, Syiah menjadikan slogan “cinta Ahlul Bait” sebagai pintu masuk untuk menanamkan doktrin-doktrin yang menyimpang, berlebihan, dan bertentangan dengan prinsip tauhid serta manhaj Rasulullah ﷺ. Di Indonesia, narasi ini kerap dibungkus secara emosional dan historis, sehingga banyak kaum awam tidak menyadari bahwa konsep “cinta” yang ditawarkan Syiah sejatinya menyelisihi Islam yang murni.


Cinta kepada Ahlul Bait dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait dengan cinta yang benar: menghormati, memuliakan, dan mengikuti petunjuk agama tanpa ghuluw (berlebihan) dan tanpa merendahkan sahabat Nabi ﷺ yang lain. Allah ﷻ berfirman:

﴿قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ﴾
“Katakanlah (Muhammad): Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas dakwahku, kecuali kasih sayang kepada kerabatku.”
(QS. Asy-Syura: 23)

Ayat ini dipahami oleh para sahabat dan ulama tafsir sebagai perintah untuk mencintai keluarga Nabi ﷺ tanpa melampaui batas syariat. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي»
“Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi dasar kewajiban menjaga kehormatan Ahlul Bait, bukan dasar untuk mengangkat mereka pada kedudukan maksum atau ilahiah.


Ghuluw Syiah dalam Mengangkat Ahlul Bait

Penyimpangan paling mendasar Syiah adalah ghuluw dalam memaknai cinta kepada Ahlul Bait. Mereka mengangkat imam-imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه sebagai figur maksum, memiliki ilmu ghaib, dan menjadi sumber hukum agama. Bahkan dalam literatur Syiah, ketaatan kepada imam diposisikan sebagai syarat diterimanya iman dan amal.

Padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya dari sikap berlebihan terhadap tokoh agama:

«إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ»
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Ahlus Sunnah memandang Ahlul Bait sebagai manusia mulia yang saleh dan bertakwa, namun tetap manusia yang tidak maksum selain para nabi. Mengangkat mereka di atas batas kemanusiaan justru merusak makna cinta yang diajarkan Islam.


Cinta Palsu dengan Menghina Sahabat Nabi ﷺ

Syiah mengklaim cinta kepada Ahlul Bait, namun pada saat yang sama mereka menghina, mencela, bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi ﷺ seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم. Padahal, Ahlul Bait sendiri—termasuk Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه—menjalin hubungan yang baik dengan para sahabat tersebut.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ﴾
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.”
(QS. Al-Hasyr: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa iman yang benar menuntut doa dan kasih sayang kepada seluruh sahabat, bukan kebencian dan caci maki. Cinta kepada Ahlul Bait tidak mungkin benar jika dibangun di atas kebencian kepada generasi terbaik Islam.


Memutarbalikkan Sejarah demi Emosi dan Sentimen

Syiah kerap menggunakan tragedi Karbala sebagai alat propaganda emosional untuk membangun identitas permusuhan. Peristiwa sejarah tersebut diolah secara sepihak, dibumbui kisah-kisah palsu, ratapan ritual, dan narasi dendam lintas generasi. Padahal Ahlus Sunnah memandang tragedi Karbala sebagai musibah besar yang disikapi dengan ilmu, keadilan, dan kesabaran—bukan dengan ritual yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ»
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek pakaian (karena musibah).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ritual ratapan dan penyalahan massal yang dipelihara Syiah jelas bertentangan dengan sunnah dan mencederai makna sabar yang diajarkan Islam.


Mengklaim Cinta Ahlul Bait dengan Menyelisihi Sunnah

Cinta sejati kepada Ahlul Bait menurut Ahlus Sunnah adalah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, karena Ahlul Bait adalah orang-orang yang paling taat kepada sunnah tersebut. Allah ﷻ berfirman:

﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)

Namun Syiah justru menolak banyak hadis sahih, mengganti praktik ibadah dengan ritual-ritual baru, dan menjadikan imam sebagai otoritas di atas sunnah Nabi ﷺ. Ini adalah kontradiksi nyata antara klaim cinta dan praktik keagamaan.


Penyalahgunaan Istilah Ahlul Bait untuk Agenda Ideologis

Dalam dakwahnya, Syiah sering mempersempit makna Ahlul Bait hanya pada kelompok tertentu yang sesuai dengan agenda imamah mereka, sambil menafikan istri-istri Nabi ﷺ yang jelas termasuk Ahlul Bait berdasarkan Al-Qur’an:

﴿إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ﴾
“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait.”
(QS. Al-Ahzab: 33)

Ayat ini turun dalam konteks istri-istri Nabi ﷺ, namun Syiah memanipulasinya untuk membangun klaim eksklusif yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ.


Dampak Berbahaya bagi Umat Islam Indonesia

Penyimpangan makna cinta kepada Ahlul Bait berpotensi memecah belah umat, menumbuhkan kebencian, dan merusak tauhid. Di Indonesia, pendekatan emosional Syiah sering menyasar pemuda dan kaum awam melalui kajian sejarah sepihak, budaya populer, dan narasi ketertindasan. Tanpa ilmu yang benar, umat mudah terjebak dalam simpati yang berujung pada penerimaan akidah yang menyimpang.


Kesimpulan

Cinta kepada Ahlul Bait adalah ajaran Islam yang agung, namun harus dipahami dan diamalkan sesuai Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, dan pemahaman para sahabat. Syiah telah menyimpangkan makna cinta tersebut dengan ghuluw, penghinaan terhadap sahabat, pemalsuan sejarah, dan penolakan sunnah. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah menolak konsep cinta ala Syiah dan mengajak umat Islam Indonesia untuk mencintai Ahlul Bait secara lurus: tanpa berlebihan, tanpa kebencian, dan tanpa menyelisihi sunnah Nabi ﷺ.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: