Salah satu bukti utama kesesatan Syiah dalam tafsir Al-Qur’an adalah sikap mereka yang menjadikan doktrin imamah sebagai kunci utama memahami ayat-ayat Allah. Banyak ayat yang secara jelas berbicara tentang tauhid, kenabian, dan hukum-hukum syariat, dipaksa maknanya agar seolah-olah menunjuk pada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan para imam Syiah. Contohnya, ayat tentang kepemimpinan umat sering ditakwil secara sepihak agar sesuai dengan keyakinan mereka, padahal para mufassir dari kalangan sahabat dan tabi’in tidak pernah memahami ayat-ayat tersebut seperti yang diklaim Syiah. Metode ini jelas bertentangan dengan kaidah tafsir yang disepakati para ulama, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi awal umat Islam.
Dalam banyak kitab tafsir Syiah, ditemukan penafsiran ayat yang mencela para sahabat Nabi ﷺ secara terselubung maupun terang-terangan. Padahal Allah ﷻ secara jelas memuji para sahabat dalam Al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya:
﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100).
Ayat yang jelas ini justru ditakwil oleh Syiah dengan makna yang menyimpang, bahkan ada yang berani mengatakan bahwa pujian tersebut hanya berlaku untuk segelintir sahabat sesuai versi mereka, bukan seluruh sahabat sebagaimana dipahami oleh Ahlus Sunnah.
Bukti kesesatan lainnya adalah keyakinan sebagian ulama Syiah bahwa Al-Qur’an tidak utuh atau telah mengalami perubahan. Walaupun sebagian Syiah kontemporer berusaha menolak tuduhan ini, fakta sejarah menunjukkan bahwa dalam kitab-kitab klasik Syiah terdapat riwayat-riwayat yang menyatakan adanya ayat-ayat tentang imamah yang “hilang” atau “disembunyikan”. Keyakinan semacam ini jelas bertentangan dengan janji Allah ﷻ:
﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9).
Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa meragukan keutuhan Al-Qur’an sama saja dengan meragukan janji Allah, dan ini merupakan penyimpangan akidah yang sangat berbahaya.
Syiah juga dikenal sering menggunakan tafsir batini, yaitu menafsirkan ayat dengan makna tersembunyi yang tidak memiliki dasar dari bahasa Arab, konteks ayat, maupun penjelasan Nabi ﷺ. Metode ini membuka pintu kebebasan menafsirkan Al-Qur’an sesuai kehendak kelompok tertentu. Padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahaya menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu, sebagaimana sabdanya:
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menjadi peringatan keras agar umat Islam berhati-hati terhadap tafsir-tafsir menyimpang yang tidak memiliki landasan ilmiah.
Penyimpangan tafsir Syiah juga tampak dalam penolakan mereka terhadap banyak hadis sahih yang menjadi penjelas Al-Qur’an. Dengan menolak hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Syiah kehilangan rujukan utama dalam memahami ayat-ayat Allah. Akibatnya, mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan riwayat-riwayat lemah atau palsu dari imam-imam mereka sendiri, sehingga pemahaman yang lahir menjadi jauh dari ajaran Nabi ﷺ yang sebenarnya.
Para ulama besar Ahlus Sunnah seperti Imam Malik, Imam Ahmad, hingga ulama kontemporer telah berulang kali mengingatkan bahwa kesesatan Syiah berakar dari penyimpangan mereka dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Tafsir yang dibangun di atas kebencian kepada sahabat, pengkultusan imam, dan penolakan terhadap ijma’ umat tidak mungkin menghasilkan pemahaman Islam yang lurus. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia khususnya perlu dibekali pemahaman yang benar tentang tafsir Al-Qur’an agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda Syiah yang dibungkus dengan dalil-dalil ayat suci namun hakikatnya menyesatkan.
Sebagai penutup, menjaga kemurnian tafsir Al-Qur’an adalah kewajiban setiap Muslim, karena dari pemahaman yang benar akan lahir akidah dan amal yang benar pula. Penyimpangan Syiah dalam tafsir Al-Qur’an bukan sekadar perbedaan pendapat biasa, melainkan telah menyentuh pokok-pokok agama yang dapat merusak keimanan umat. Dengan memahami bukti-bukti kesesatan ini, diharapkan umat Islam semakin waspada dan tetap berpegang teguh pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang lurus dan selamat.
(albert/syiahindonesia.com)
0 komentar: