Breaking News
Loading...

Mengapa Ulama Sunni Tidak Mengakui Hadis dari Syiah?

Syiahindonesia.com - Penjagaan kemurnian ajaran Islam dari pemalsuan dan penyimpangan adalah salah satu mukjizat terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada umat ini. Ujung tombak dari penjagaan tersebut adalah Ilmu Musthalah al-Hadits (ilmu kritik sanad dan matan) yang dirumuskan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah dengan sangat ketat. Dalam proses penyaringan riwayat ini, ulama Sunni secara tegas menolak dan tidak mengakui hadis-hadis yang bersumber dari literatur dan jalur periwayatan Syiah Rafidhah. Penolakan ini bukan didasari oleh sentimen buta, melainkan bersandar pada kaidah ilmiah yang sangat objektif dan prinsip teologis yang fundamental.

Berikut adalah alasan-alasan utama mengapa ulama Sunni menolak riwayat hadis dari Syiah:

1. Doktrin Taqiyyah Menghancurkan Kredibilitas Perawi

Syarat paling mutlak bagi seorang perawi hadis dalam manhaj Ahlussunnah adalah sifat Shidq (jujur) dan 'Adalah (integritas moral dan agama). Namun, agama Syiah justru dibangun di atas fondasi Taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan asli dan menampakkan hal yang sebaliknya (berbohong) demi melindungi diri atau kelompoknya.

Dalam kitab-kitab Syiah, Taqiyyah dianggap sebagai sembilan persepuluh dari agama. Ketika sebuah sekte melegalkan kebohongan sebagai bagian dari ibadah, maka secara otomatis seluruh sistem periwayatan mereka gugur secara ilmiah. Ilmuwan hadis tidak mungkin bisa membedakan mana perkataan perawi Syiah yang jujur dan mana yang sedang melakukan Taqiyyah. Karena asas kepercayaan telah hancur oleh doktrin mereka sendiri, ulama Sunni menutup rapat pintu bagi riwayat kaum Rafidhah.

2. Mencela Sahabat: Memutus Jembatan Wahyu

Nabi Muhammad SAW tidak mewariskan kitab suci dan hadis langsung ke tangan kita, melainkan melalui perantara para Sahabat. Kaidah emas Ahlussunnah menetapkan bahwa seluruh Sahabat Nabi adalah adil (Kulluhum 'Udul) dan jujur dalam meriwayatkan agama.

Di sisi lain, Syiah Rafidhah memiliki akidah mengafirkan, melaknat, dan menuduh murtad mayoritas Sahabat Nabi, terutama para periwayat hadis utama seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, hingga Abu Hurairah. Dengan mencela dan membuang para Sahabat, Syiah pada hakikatnya telah menghancurkan jembatan yang menghubungkan umat ini dengan Rasulullah SAW. Ulama Sunni mustahil menerima hadis dari kelompok yang melaknat guru-guru utama penyambung lisan Nabi SAW.

3. Definisi "Hadis" yang Menyimpang (Kema'shuman Imam)

Bagi umat Islam, Hadis didefinisikan secara khusus sebagai segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang disandarkan murni kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Namun dalam tradisi Syiah, definisi hadis mengalami penyimpangan fatal. Mereka meyakini bahwa 12 Imam mereka memiliki sifat Ma'shum (suci dari dosa dan kesalahan) yang setara dengan Nabi. Akibatnya, perkataan para Imam (seperti Ja'far ash-Shadiq atau Muhammad al-Baqir) dianggap sebagai "wahyu" yang kedudukannya sama persis dengan firman Allah dan sabda Rasulullah. Kitab-kitab hadis Syiah (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini) dipenuhi dengan perkataan para Imam yang diklaim secara sepihak dan diangkat derajatnya menjadi hadis, sebuah praktik yang sangat ditolak oleh metodologi Sunni.

4. Lemahnya Metodologi Sanad (Rantai Periwayatan)

Kitab-kitab induk hadis Ahlussunnah, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, disusun dengan syarat sanad yang sangat ketat: ketersambungan rantai perawi, pertemuan fisik antar-perawi (liqoo'), dan keadilan setiap individu. Ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil (kritik perawi) meneliti rekam jejak setiap manusia dalam rantai tersebut.

Sebaliknya, literatur hadis Syiah sangat miskin akan metodologi ini. Kebanyakan hadis dalam kitab mereka diriwayatkan dengan sanad yang terputus (munqathi'), menggunakan metode "konon kabarnya", atau bersumber dari perawi-perawi fiktif yang tidak dikenal dalam catatan sejarah mana pun (majhul). Banyak narasi yang tiba-tiba disandarkan kepada Imam tertentu tanpa rantai transmisi yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Perbandingan Metodologi Hadis: Sunni vs Syiah

Prinsip Ilmu HadisAhlussunnah wal Jama'ahSyiah Rafidhah
Definisi HadisHanya perkataan, perbuatan, taqrir Rasulullah SAW.Termasuk perkataan 12 Imam yang dianggap ma'shum.
Status Sahabat NabiAdil, jujur, dan menjadi perantara utama transmisi wahyu.Mayoritas dianggap murtad/kafir, riwayatnya ditolak total.
Integritas Perawi (Kejujuran)Syarat mutlak. Perawi yang berbohong (kadzdzab) ditolak.Berbohong dilegalkan bahkan diwajibkan lewat doktrin Taqiyyah.
Metode Kritik SanadSangat ketat menggunakan ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil.Rapuh, penuh riwayat terputus (mursal/munqathi'), dan fiktif.

Catatan Kritis Ilmu Rijal: Ulama hadis Sunni masa lalu (seperti Imam Bukhari) terkadang menerima riwayat dari orang yang memiliki sedikit kecenderungan tasyayyu' (lebih mengutamakan Ali), dengan syarat mutlak: orang tersebut dikenal sangat jujur, tidak pernah mencaci maki Sahabat (bukan Rafidhah), dan tidak memiliki akidah Taqiyyah. Namun, untuk sekte ekstrem Rafidhah yang menghalalkan cacian kepada Sahabat dan melegalkan dusta, ulama ijma' (sepakat) menolak riwayat mereka secara total.

Kesimpulan

Penolakan ulama Ahlussunnah terhadap hadis-hadis versi Syiah bukanlah bentuk fanatisme golongan, melainkan sebuah keharusan metodologis demi menjaga keotentikan agama Islam. Akidah Syiah yang melegalkan kebohongan (Taqiyyah), mengafirkan Sahabat (pemutus sanad utama), dan meyakini kema'shuman para Imam secara fundamental telah bertabrakan dengan kaidah keilmuan hadis yang paling dasar. Mengambil ilmu agama dari sumber-sumber Syiah sama halnya dengan meneguk air dari gelas yang retak dan telah dicampur dengan racun khurafat.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: