Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan dalam Konsep Doa kepada Imam

Syiahindonesia.com - Perbedaan mendasar antara akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) dan sekte Syiah Itsna Asyariyyah tidak hanya berkutat pada masalah suksesi kepemimpinan pasca-wafatnya Rasulullah SAW. Perbedaan yang paling krusial justru menyentuh jantung ibadah yang paling asasi, yaitu konsep doa.

Bagi umat Islam, doa adalah inti dari ibadah (mukhkhul ibadah) yang menjadi hak mutlak Allah SWT. Namun, dalam sistem teologi Syiah, kedudukan para Imam yang dikultuskan telah menggeser orientasi doa dari yang seharusnya murni kepada Sang Pencipta, menjadi bersandar kepada makhluk.

1. Menjadikan Imam sebagai Objek Doa Mandiri

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memberikan maklumat yang sangat tegas mengenai batasan kepada siapa sebuah permohonan boleh dilayangkan:

وَمَنْأَضَلُّمِمَّنْيَدْعُومِنْدُONِاللَّهِمَنْلَايَسْتَجِيبُلَهُإِلَىٰيَوْمِالْقِيَامَةِوَهُمْعَنْدُعَائِهِمْغَافِلُونَ

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah (berdoa kepada) sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?" (QS. Al-Ahqaf: 5).

Dalam praktik keagamaan Syiah, ayat-ayat semacam ini sering kali dikesampingkan dengan dalih kedudukan spiritual para Imam. Mereka menyusun doa-doa khusus yang secara redaksional meminta langsung kepada Imam yang telah wafat untuk menyelesaikan urusan duniawi dan ukhrawi mereka. Seruan-seruan seperti "Ya Ali, singkirkan kesulitanku" atau "Ya Husain, sembuhkan penyakitku" diposisikan sebagai wirid harian yang dianggap mendatangkan pahala besar.

2. Doktrin Tafwidh: Menganggap Imam Pengelola Alam Semesta

Keberanian kaum Syiah meminta berbagai hajat langsung kepada para Imam berakar dari doktrin Tafwidh (pendelegasian wewenang). Sebagian ulama besar mereka meyakini bahwa Allah SWT telah mendelegasikan pengaturan alam semesta, penciptaan, pemberian rezeki, dan pengabulan doa kepada para Imam maksum.

Ketika seorang pengikut Syiah meyakini bahwa Imam memiliki otoritas ghaib (wilahyah takwiniyyah) untuk mengatur partikel alam dan mengabulkan hajat, maka secara otomatis fungsi Allah sebagai Rabb (Pengatur) dan Mujib (Maha Pengabul Doa) telah terduplikasi. Penyimpangan konseptual ini melahirkan mentalitas beragama yang bergantung penuh pada figur Imam, sementara kedudukan Allah SWT seolah-olah menjadi nomor dua di balik tirai kekuasaan para Imam.

3. Modifikasi Format Doa dan Ziarah Radikal

Penyimpangan konsep doa ini juga termanifestasi dalam kitab-kitab doa standar Syiah seperti Mafatihul Jinan karya Syaikh Abbas Al-Qummi. Di dalam kitab tersebut, bab mengenai tata cara ziarah dan doa di makam para Imam dipenuhi dengan ritual yang menyimpang dari sunnah Nabi, di antaranya:

  • Menghadap Kubur, Membelakangi Kiblat: Saat memanjatkan doa di area Darikh (pagar makam Imam), mereka disyariatkan untuk menghadapkan wajah ke arah kuburan Imam, meskipun itu berarti harus membelakangi Ka'bah (Kiblat).

  • Sujud di Ambang Pintu Makam: Ritual ziarah Syiah sering kali mewajibkan atau menganjurkan penziarah untuk meletakkan dahi mereka di tanah (sujud) saat memasuki pintu gerbang makam sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sang Imam.

Format ini jelas merusak konsep dasar ibadah Islam, di mana sujud dan menghadapkan wajah ke arah tempat suci (Baitullah) hanya boleh dikonsentrasikan untuk mengagungkan Allah SWT, bukan jasad manusia yang tertimbun tanah.

4. Menafikan Hakikat "Dekatnya Allah" Tanpa Perantara

Al-Qur'an datang untuk meruntuhkan sekat-sekat birokrasi spiritual yang dianut oleh agama-agama terdahulu dan kaum pagan. Allah menegaskan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya tanpa membutuhkan perantara birokratis:

وَإِذَاسَأَلَكَعِبَادِيعَنِّيفَإِنِّيقَرِيبٌۖأُجِيبُدَعْوَةَالدَّاعِإِذَادَعَانِ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku..." (QS. Al-Baqarah: 186).

Sekte Syiah justru menghidupkan kembali konsep perantara tersebut dengan doktrin bahwa doa seorang mukmin tidak akan pernah naik atau didengar oleh Allah kecuali jika dilewatkan dan disetujui oleh jalur para Imam. Konsep ini mereduksi sifat Maha Pengasih Allah dan menjauhkan kaum Muslimin dari keintiman bermunajat langsung kepada Penciptanya.

Kesimpulan: Memurnikan Doa, Menyelamatkan Akidah

Penyimpangan kelompok Syiah dalam konsep doa menunjukkan bahwa sekte ini telah melangkah terlalu jauh dalam mengkultuskan manusia. Mereka membungkus permohonan kepada makhluk dengan ornamen kata-kata yang tampak agung, namun isinya meruntuhkan fondasi dasar dari kalimat Lailahaillallah.

Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, menjaga kemurnian doa adalah harga mati yang menentukan selamat atau tidaknya akidah seorang hamba di akhirat. Kita diperintahkan untuk mencintai keturunan Nabi Muhammad SAW, namun cinta tersebut tidak boleh diekspresikan dengan cara merampas hak prerogatif Allah SWT dan memberikannya kepada para Imam.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: