Syiahindonesia.com - Tauhid merupakan fondasi utama dalam Islam yang membedakan antara keimanan yang murni dengan kemusyrikan. Salah satu perwujudan tertinggi dari Tauhid ini ada pada ibadah doa, khususnya Istighatsah (memohon pertolongan yang sangat mendesak di kala sempit dan kesulitan). Islam mengajarkan secara mutlak bahwa hak untuk dimintai pertolongan dalam hal-hal yang berada di luar kemampuan makhluk hanyalah milik Allah SWT semata. Namun, di dalam tradisi dan ajaran Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), hak prerogatif Allah ini runtuh akibat doktrin pengkultusan imamah yang melampaui batas.
Praktik istighatsah kepada para Imam yang telah wafat bukan lagi sekadar perkara furu'iyyah (cabang), melainkan telah masuk ke dalam ranah kemusyrikan nyata yang menodai kesucian Tauhid Uluhiyyah.
1. Memalingkan Hak Doa dari Allah kepada Makhluk
Dalam Al-Qur'an al-Karim, Allah SWT berkali-kali menegaskan bahwa doa adalah bentuk ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada siapa pun selain Dia. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah (berdoa kepada) seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jinn: 18).
Realitas Praktis Ajaran Syiah: Ketika mengunjungi pekuburan para Imam atau saat tertimpa musibah, kaum Syiah secara massal mengumandangkan seruan-seruan seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku), "Ya Husain", atau "Ya Shahibaz Zaman" (seruan kepada Imam ke-12 mereka yang ghaib). Mereka meminta kesembuhan penyakit, kelapangan rezeki, hingga keselamatan akhirat langsung kepada para Imam tersebut. Memohon perkara-perkara ghaib yang hanya dikuasai oleh Allah kepada makhluk yang telah dikubur adalah definisi mendasar dari perbuatan syirik besar (Asy-Syirkul Akbar).
2. Berdalih dengan Wasilah untuk Meniru Pola Jahiliyah
Untuk menghindari tuduhan syirik dari umat Islam, para ulama Syiah kerap menggunakan apologi (pembelaan) bahwa mereka tidak menyembah para Imam, melainkan hanya menjadikan mereka sebagai Wasilah (perantara) karena kedudukan para Imam yang suci di sisi Allah.
Argumen pembelaan ini sejatinya tidak ada bedanya dengan argumen yang digunakan oleh kaum musyrikin Quraisy pada zaman jahiliyah ketika mereka menyembah berhala-berhala seperti Lata, Uzza, dan Manat. Kaum jahiliyah kuno juga tidak meyakini berhala tersebut menciptakan alam semesta, mereka hanya menjadikannya perantara, sebagaimana yang direkam oleh Allah dalam Al-Qur'an:
"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah'..." (QS. Yunus: 18).
3. Keyakinan Bahwa Imam Mendengar Doa dari Jauh
Agar ritual istighatsah kepada Imam ini dianggap logis oleh pengikutnya, teologi Syiah terpaksa membangun mitos baru: bahwa para Imam mereka memiliki kemampuan mendengar dan melihat yang tak terbatas, bahkan setelah mereka wafat. Mereka meyakini bahwa di mana pun seorang pengikut Syiah berseru "Ya Ali", sang Imam akan mendengar seruan tersebut dan langsung memberikan bantuan.
Secara tidak sadar, Syiah telah memindahkan Sifat-Sifat Kesempurnaan Allah SWT seperti As-Sami' (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat) yang mutlak dan tak terbatas kepada manusia. Ini adalah bentuk kesyirikan dalam aspek Tauhid Asma' was Sifat. Manusia yang telah wafat, bagaimanapun mulianya mereka, telah terputus dunianya dan berada di alam barzakh, tidak memiliki kemampuan mendengar jutaan bisikan manusia secara bersamaan di berbagai belahan bumi.
4. Kontradiksi Nyata dengan Ajaran Asli Ahlul Bait
Dongeng istighatsah yang dipaksakan oleh kaum Syiah ini sangat bertolak belakang dengan keteladanan asli yang diwariskan oleh Ali bin Abi Thalib dan keturunan beliau yang lurus. Dalam kitab-kitab sejarah, Sayyidina Ali dikenal sebagai ahli ibadah yang lurus, yang jika dihadapkan pada kesulitan, beliau langsung tersungkur sujud memohon hanya kepada Allah.
Dalam wasiatnya yang terkenal kepada putranya, Hasan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib justru mengajarkan murni Tauhid:
"Ketahuilah bahwa Zat yang di tangan-Nya ada perbendaharaan langit dan bumi (Allah) telah mengizinkanmu untuk berdoa dan menjamin bagimu untuk mengabulkannya. ... Dan Dia tidak menempatkan antara dirimu dengan diri-Nya seorang perantara pun yang menghalangi-Mu..."
Ahlul Bait yang asli mendidik umat untuk langsung mengetuk pintu rahmat Allah tanpa birokrasi perantara, sementara sekte Syiah justru mengurung umat dalam ketergantungan makhluk yang merusak kemurnian tauhid.
5. Kewaspadaan Umat Islam terhadap Ritual Syirik Terselubung
Di Indonesia, infiltrasi ajaran istighatsah ala Syiah ini sering kali dibungkus secara halus melalui majelis-majelis taklim atau pembacaan syair-syair pujian (kasidah) yang sepintas mirip dengan tradisi lokal Sunni. Jargon "Cinta Ahlul Bait" dipakai untuk menuntun masyarakat awam sedikit demi sedikit mulai memanggil-manggil nama Imam dalam doa mereka.
Umat Islam Sunni harus jeli membedakan antara bertawasul yang disyariatkan (seperti bertawasul dengan amal shalih atau dengan asmaul husna) dengan istighatsah syirik yang meminta langsung ke kuburan tokoh-tokoh suci.
Kesimpulan: Doa adalah Inti Ibadah Hanya untuk Allah
Kesesatan teologis Syiah dalam praktik istighatsah kepada para Imam menunjukkan betapa jauhnya sekte ini telah melenceng dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mereka mengubah agama yang awalnya membebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluk menjadi agama yang mengkultuskan kuburan dan individu.
Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaah, keselamatan, kesembuhan, dan perlindungan di kala sempit hanya diminta dengan menghadapkan wajah dan hati secara ikhlas kepada Allah SWT, Sang Pemilik Semesta Alam. Kita menghormati Sayyidina Ali dan seluruh Ahlul Bait, namun kita tidak akan pernah menyejajarkan mereka dengan hak-hak ketuhanan Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: