Syiahindonesia.com – Tauhid adalah inti sari dari seluruh ajaran Islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, sejak Nabi Adam a.s. hingga puncaknya pada Nabi Muhammad ﷺ. Bagi umat Islam yang menetapi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kemurnian tauhid wajib dijaga dari dua sisi ekstrem: tasybih/tamsil (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta’thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Yang paling utama, hak-hak ketuhanan (Uluhiyah dan Rububiyah) serta sifat-sifat khusus-Nya tidak boleh digeser atau disematkan kepada makhluk apa pun, se mulia apa pun makhluk tersebut.
Namun, di dalam teologi sekte Syiah, terutama Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), bangunan teologi mereka runtuh pada fondasi yang paling mendasar: Konsep Ketuhanan. Demi mengangkat kedudukan para Imam mereka (Sayyidina Ali r.a. dan 11 keturunannya), Syiah terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan fatal yang mengaburkan batas suci antara khalik (Pencipta) dan makhluk (ciptaan). Mereka memberikan sifat-sifat eksklusif milik Allah SWT kepada para Imam, yang secara sadar maupun tidak, telah merusak kemurnian tauhid itu sendiri.
1. Menyerahkan Hak Rububiyah (Pengaturan Alam Semesta) kepada Imam
Kesalahan fatal pertama dalam akidah Syiah adalah keyakinan bahwa para Imam memegang kendali atas hukum alam dan takdir ciptaan. Bagi Sunni, Allah SWT adalah satu-satunya Penguasa, Pencipta, dan Pengatur alam semesta tanpa sekutu. Namun, literatur primer Syiah merekam doktrin yang sepenuhnya berbeda.
Ulama besar rujukan mutlak mereka, Al-Kulaini, menulis sebuah bab khusus dalam kitab suci mereka, Al-Kafi (Vol. 1, hal. 407), yang berjudul:
"Bab bahwa bumi ini seluruhnya adalah milik Imam."
Lebih jauh dari sekadar kepemilikan tanah, tokoh revolusi Syiah modern, Ayatullah Khomeini, dalam kitabnya yang sangat monumental, Al-Hukumah Al-Islamiyyah (hal. 52), menegaskan doktrin ekstrem ini secara eksplisit:
"Sesungguhnya para Imam kita memiliki kedudukan yang terpuji, derajat yang tinggi, dan kekuasaan khilafah yang tunduk kepada unsur-unsurnya seluruh butiran atom di alam semesta ini."
Meyakini bahwa butiran atom di alam semesta tunduk dan diatur oleh manusia (para Imam) adalah bentuk penggeseran tauhid Rububiyah. Kekuasaan absolut atas zarah dan atom di alam semesta hanyalah milik Allah SWT, dan menyematkannya kepada manusia adalah kesalahan teologis yang amat nyata.
2. Penyematan Sifat Al-Ghaib (Mengetahui Perkara Gaib) Secara Mutlak
Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan berulang kali bahwa pengetahuan tentang hari kiamat, masa depan yang mutlak, serta isi hati manusia adalah hak eksklusif-Nya. Allah berfirman dalam Surat An-Naml ayat 65:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah'."
Meskipun Allah memberikan sedikit bocoran perkara gaib kepada para Nabi melalui jalur wahyu sebatas untuk keperluan mukjizat, Syiah melompat jauh melampaui batasan ini. Mereka mendoktrinkan bahwa para Imam mengetahui segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi tanpa batas.
Kembali di dalam kitab Al-Kafi (Vol. 1, hal. 260), Al-Kulaini membuat bab-bab yang mengerikan bagi timbangan akidah yang lurus:
“Bab bahwa para Imam mengetahui apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi mereka.”
“Bab bahwa para Imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan mereka tidak mati kecuali atas pilihan mereka sendiri.”
Ketika manusia biasa diklaim memiliki pengetahuan gaib yang bersifat meliputi segala sesuatu (Inkisyaf Mutlak), maka sifat ilmu Allah yang Maha Mengetahui telah disejajarkan dengan makhluk-Nya.
3. Penyimpangan dalam Tauhid Uluhiyah (Hak Peribadatan dan Doa)
Dampak paling rusak dari salahnya konsep ketuhanan ini berpucuk pada tata cara ibadah sehari-hari. Kaum Muslimin Sunni dididik untuk hanya menghadapkan doa, permohonan tolong (istighatsah), dan penyembelihan hanya kepada Allah SWT (Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in).
Di dunia Syiah, kuburan dan punden para Imam (seperti di Karbala, Najaf, dan Masyhad) telah berubah fungsi menjadi pusat-pusat peribadatan yang menyaingi Masjidil Haram. Mereka mempraktikkan ritual doa yang secara langsung memanggil nama para Imam untuk meminta rezeki, kesembuhan, atau keturunan dengan jargon "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain".
Ulama-ulama Syiah membenarkan hal ini dengan dalih bahwa para Imam adalah Wasilah (perantara) yang maksum. Namun, menghadapkan redaksi doa penyerahan nasib langsung kepada makhluk yang telah wafat adalah bentuk penyimpangan komparatif yang merusak esensi ibadah yang murni hanya untuk Allah SWT.
4. Doktrin Bada’: Menuduh Allah Mengalami Perubahan Pikiran
Salah satu konsep teologi Syiah yang paling aneh dan menghina kesempurnaan sifat Allah adalah doktrin Bada’ (البداء). Secara bahasa, Bada’ berarti nampak jelas setelah sebelumnya tersembunyi, atau munculnya ide baru yang mengubah rencana awal.
Syiah memercayai bahwa Allah SWT bisa merencanakan atau menetapkan suatu takdir, namun kemudian di tengah jalan Allah baru mengetahui fakta baru yang tersembunyi, sehingga Allah mengubah keputusan-Nya dan membatalkan takdir tersebut. Doktrin ini awalnya diciptakan oleh para rabi Syiah terdahulu ketika ramalan masa depan para Imam mereka meleset dari kenyataan sejarah (seperti ketika Imam Ja'far memilih anaknya, Ismail, sebagai penerus, namun Ismail justru wafat lebih dulu). Demi menyelamatkan muka sang Imam dari ramalan yang salah, mereka mengeklaim bahwa "Allah telah mengubah pikiran-Nya (Bada’)."
Bagi umat Islam Sunni, doktrin ini adalah kekufuran yang amat keji. Menuduh Allah baru mengetahui sesuatu setelah peristiwa itu terjadi (Jahl) berarti menafikan sifat Allah yang Maha Mengetahui segalanya sejak azali. Ilmu Allah bersifat sempurna, tidak mengalami pembaruan, dan tidak membutuhkan revisi seperti akal manusia yang lemah.
5. Perbandingan Prinsip Ketuhanan: Sunni vs Syiah
Kesimpulan
Kesalahan fatal sekte Syiah dalam merumuskan konsep ketuhanan membuktikan bahwa demi fanatisme buta terhadap konsep Imamah, mereka rela mengorbankan kemurnian tauhid. Dengan mentransfer sifat-sifat khusus Allah—seperti mengalirkan takdir atom, mengetahui segala perkara gaib, hingga hak doa—kepada para Imam, Syiah telah keluar dari rel ketauhidan yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Sebagai benteng keimanan di bumi Nusantara, umat Islam wajib mengenali batas-batas tauhid secara kokoh. Memuliakan Ahlul Bait adalah kewajiban agama, namun menuhankan mereka secara terselubung dengan menyematkan sifat-sifat penciptaan adalah penyesatan yang harus ditolak demi keselamatan iman kita di hadapan Allah SWT kelak.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: