Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Tidak Menyembah Allah dengan Cara yang Benar?

Syiahindonesia.com - Dalam diskursus teologi Islam, perkara tauhid dan tata cara ibadah (kaifiyah) merupakan dua pilar utama yang menentukan sah atau tidaknya keislaman seseorang. Setiap Muslim diwajibkan untuk memurnikan penghambaan hanya kepada Allah SWT serta mengikuti petunjuk lurus yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. Namun, ketika kita melakukan pembedahan ilmiah secara mendalam terhadap teks-teks dan praktik peribadatan dalam sekte Syiah (khususnya Syiah Dua Belas Imam atau Rafidhah), muncul sebuah pertanyaan mendasar yang sangat krusial bagi keselamatan akidah umat Islam di Indonesia: Benarkah Syiah tidak menyembah Allah dengan cara yang benar?

Melalui penelusuran objektif terhadap kitab-kitab induk peribadatan dan doa mereka, akan tersingkap realitas pahit bahwa teologi Syiah telah melahirkan penyimpangan serius yang mengotori kesucian tauhid. Mereka tidak hanya merombak tata cara ritual ibadah yang telah mapan sejak zaman Nabi, melainkan juga menyusupkan praktik-praktik yang mengarah pada kesyirikan berselubung cinta Ahlul Bait.

1. Penyusupan Tawasul Syirik: Memohon kepada Makhluk, Bukan kepada Khalik

Inti dari sebuah peribadatan adalah doa. Rasulullah SAW secara tegas bersabda dalam sebuah hadis sahih:

الدُّعَاءُهُوَالْعِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah (itu sendiri).” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Sebagai konsekuensinya, mengarahkan doa kepada selain Allah—baik itu berupa permohonan hajat, meminta keselamatan, atau pengampunan dosa—adalah bentuk penyelewengan hak prerogatif Allah SWT.

Realitas Penyelewengan Syiah:

Dalam kitab-kitab doa standar Syiah seperti Mafatihul Jinan karya Abbas Al-Qumi (kitab yang menjadi pegangan wajib ritual harian pengikut Syiah), terdapat doa-doa populer seperti Doa Istighatsah bil-Imam atau Doa Tawasul versi mereka. Di dalam ritual tersebut, pengikut Syiah diajarkan untuk memanggil nama-nama para Imam (seperti Sayyidina Ali, Sayyidina Husein, atau Fatimah Az-Zahra) secara langsung dengan lafaz:

"Ya Ali bin Abi Thalib, ya hujjatal-Lah 'ala khalqihi, ya sayyidana wa maulana, inna tawajjahna was-tasyfa'na wa tawassalna bika ilal-Lah, wa qaddamnaka baina yadai hajatina, ya wajihan 'indal-Lah, isyfa' lana 'indal-Lah..."

Secara lahiriah, mereka berdalih ini adalah "tawasul" atau perantara. Namun secara hakikat praktik, mereka telah menyamakan kedudukan para Imam dengan Allah karena meyakini para Imam yang telah wafat itu mendengar jutaan rintihan manusia secara serentak, mengetahui hal gaib, dan mampu mengabulkan hajat. Praktik mengiba di kuburan para Imam (seperti di Karbala dan Najaf) dengan ratapan meminta kesembuhan dan rezeki adalah bukti konkret bahwa mereka tidak mengarahkan peribadatan murni kepada Allah semata.

2. Meruntuhkan Syariat: Pengubahan Kaifiyah Salat yang Baku

Salat adalah tiang agama dan bentuk penyembahan kepada Allah yang paling agung. Rasulullah SAW telah mengunci tata cara salat agar tidak diubah-ubah oleh generasi setelahnya melalui sabda beliau yang sangat masyhur:

صَلُّواكَمَارَأَيْتُمُونِيأُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR. Bukhari).

Kontradiksi Praktik Salat Syiah:

Sekte Syiah secara radikal mengubah tata cara ibadah salat dari apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW dan diamalkan oleh mayoritas kaum Muslimin sedunia. Di antara penyimpangan ritual mereka adalah:

  • Penyatuan Dua Waktu Salat Secara Permanen: Syiah membolehkan dan membiasakan penggabungan (jamak) antara salat Zuhur dengan Asar, serta Magrib dengan Isya secara mutlak setiap hari tanpa adanya udzur syar'i (seperti safar atau hujan), sehingga mereka praktis hanya salat pada tiga waktu dalam sehari.

  • Kewajiban Sujud di Atas Turbah: Mereka mengharamkan dahi menyentuh sajadah kain biasa saat sujud. Mereka mewajibkan sujud di atas tanah padat khusus yang umumnya dibawa dari tanah Karbala (Turbah Husainiyyah), tempat terbunuhnya Sayyidina Husein. Ini adalah pengkultusan tanah yang tidak memiliki dasar hukum dalam Islam.

  • Penolakan Sedekep dan Lafaz Amin: Syiah mengharamkan bersedekep (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) saat berdiri tegak dalam salat, serta melarang pengucapan kata "Amin" setelah membaca Surah Al-Fatihah, dengan klaim bahwa tindakan tersebut membatalkan salat.

Perubahan-perubahan ini membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Allah berdasarkan petunjuk otentik Rasulullah SAW, melainkan berdasarkan fatwa-fatwa mullah yang menolak otoritas hadis-hadis sahih.

3. Menyamakan Hak Imam dengan Hak Allah: Doktrin Khums

Dalam syariat Islam yang murni, kewajiban finansial yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim untuk mensucikan hartanya adalah Zakat (2,5%). Zakat tersebut didistribusikan langsung kepada delapan asnaf (golongan) yang membutuhkan, demi keadilan sosial.

Realitas Doktrin Finansial Syiah:

Syiah mengadopsi konsep bernama Khums (seperlima atau 20%) dari setiap keuntungan bersih usaha yang diperoleh pengikutnya. Berdasarkan teologi mereka, harta Khums sebanyak 20% ini wajib diserahkan kepada para mullah atau marja' taqlid (ulama tertinggi Syiah) sebagai representasi dari hak milik Allah, Rasul, dan para Imam yang maksum.

Penyerahan harta dalam jumlah yang sangat besar ini diposisikan sebagai pilar ibadah yang wajib. Akibatnya, institusi keagamaan Syiah berubah menjadi mesin pemeras ekonomi umat berkedok ibadah spiritual. Penyembahan kepada Allah yang seharusnya melahirkan kebebasan dari penghambaan kepada manusia, justru di tangan teologi Syiah diubah menjadi ketundukan finansial mutlak kepada para mullah.

Tabel Perbandingan Analitis: Menilai Keabsahan Ritual Ibadah

Dimensi PeribadatanKonsep Islam yang Murni (Ahlussunnah)Konsep dan Praktik Sekte Syiah
Penyandaran DoaHanya ditujukan kepada Allah secara langsung tanpa perantara makhluk mati.Menggunakan Istighatsah (seruan darurat) langsung kepada para Imam yang wafat.
Kiblat dan Tempat SujudMenghadap Ka'bah; boleh sujud di atas permukaan bumi apa pun yang suci.Menghadap Ka'bah namun mengkultuskan tanah Karbala (Turbah) sebagai alas sujud wajib.
Waktu Pelaksanaan SalatDilakukan pada lima waktu yang terpisah sesuai ketetapan Al-Qur'an dan Sunnah.Dijamak secara permanen sehingga hanya dikerjakan dalam tiga waktu saja.
Pengagungan SyiarMengagungkan Masjidil Haram, Nabawi, dan Al-Aqsha melebihi tempat lain.Menempatkan makam para Imam di Najaf dan Karbala setara atau lebih utama dari Makkah.

Dampak Teologis dan Bahayanya Bagi Akidah Umat

Ketidakbenaran cara Syiah dalam menyembunyikan dan mempraktikkan ibadah kepada Allah berdampak sangat fatal bagi keutuhan akidah seorang Muslim. Ketika seseorang mulai terpengaruh oleh ajaran ini, ia secara perlahan akan menggeser pusat orientasi spiritualnya. Fokus ibadahnya tidak lagi murni mengagungkan kemahabesaran Allah SWT, melainkan disibukkan dengan ritual-ritual mistis meratapi kematian para Imam, memuja garis keturunan tertentu, dan menganggap makam-makam keramat memiliki daya magis untuk mengubah takdir.

Di Indonesia, para propagandis Syiah akan mencoba menyamarkan praktik-praktik ganjil ini dengan dalih "keanekaragaman madzhab" atau "ekspresi kultural mencintai keluarga Nabi." Kaum Muslimin awam yang tidak dibekali dengan pemahaman tauhid yang kokoh akan dengan mudah terkecoh, mengira bahwa apa yang dilakukan oleh pengikut Syiah adalah bagian dari variasi ibadah Islam, padahal sejatinya itu adalah pengikisan pondasi tauhid secara sistematis.

Kesimpulan

Berdasarkan investigasi ilmiah terhadap dokumen-dokumen keagamaan mereka, klaim bahwa Syiah tidak menyembah Allah dengan cara yang benar menemukan pijakan faktualnya yang nyata. Dengan mencampuradukkan doa dengan seruan kepada makhluk, merombak tata cara salat yang baku, serta mengkultuskan figur manusia di atas batas-batas syariat, Syiah telah keluar dari koridor peribadatan yang murni yang diridai oleh Allah SWT.

Al-Qur'an al-Karim telah memberikan peringatan keras bahwa ibadah yang diterima hanyalah ibadah yang ditujukan secara ikhlas kepada-Nya tanpa ada unsur sekutu sedikit pun. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jin ayat 18:

وَأَنَّالْمَسَاجِدَلِلَّهِفَلَاتَدْعُوامَعَاللَّهِأَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya bersamaan dengan (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin: 18).

Membentengi keluarga dan masyarakat Indonesia dari infiltrasi ajaran peribadatan Syiah adalah langkah penyelamatan yang mendesak. Persatuan umat yang hakiki tidak akan pernah tercapai jika fondasi penyembahan kepada Tuhan semesta alam telah dirusak oleh khurafat dan kesyirikan sektarian. Kemurnian ibadah harus kita jaga agar amalan kita bernilai di hadapan Allah SWT kelak.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: