Syiahindonesia.com - Dalam diskursus ilmiah mengenai orisinalitas ajaran Islam, studi kritis terhadap sumber-sumber kodifikasi hadis merupakan fondasi paling krusial. Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, standarisasi kesahihan sebuah riwayat telah mapan sejak abad-abad awal hijriah melalui metodologi Musthalahil Hadits yang sangat ketat. Di sisi lain, dunia akademis sering kali dikejutkan oleh realitas internal di dalam tubuh sekte Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah (Dua Belas Imam). Ketika meneliti kitab-kitab hadis induk mereka, para peneliti tidak hanya menemukan perbedaan interpretasi sekuler, melainkan badai kontradiksi teologis dan hukum yang saling bertabrakan secara ekstrem. Pertanyaan mendasar pun mengemuka ke permukaan publik: Benarkah Syiah memiliki kitab hadis yang saling bertentangan? Dan mengapa kontradiksi internal tersebut bisa terjadi secara struktural?
Untuk mengantisipasi penyebaran propaganda Syiah yang kerap mengeklaim kebersihan dan keselarasan ajaran mereka di Indonesia, artikel ini akan membedah secara ilmiah, detail, dan tuntas mengenai rapuhnya bangunan kodifikasi hadis Syiah, bukti kontradiksi nyata di dalamnya, serta pengakuan jujur dari para ulama besar mereka sendiri.
Memahami Konstruksi "Hadis" dalam Perspektif Syiah
Sebelum melihat titik-titik kontradiksi, umat Islam harus memahami terlebih dahulu bahwa definisi "hadis" dalam pandangan Syiah sangat berbeda dengan pandangan Islam pada umumnya.
Bagi Ahlussunnah wal Jama'ah, hadis adalah segala hal yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat. Namun bagi Syiah, otoritas pembuatan syariat tidak berhenti pada wafatnya Rasulullah SAW. Mereka memasukkan ucapan, perbuatan, dan ketetapan dari 12 Imam mereka sebagai bagian dari hadis yang wajib ditaati dan berkedudukan setara dengan sabda Nabi SAW.
Akibat dari perluasan definisi ini, rentang waktu pengumpulan "hadis" versi Syiah membentang sangat panjang selama berabad-abad, mengikuti masa hidup para imam mereka. Karena ditulis dalam situasi politik, sosial, dan kepentingan kelompok yang terus berubah-ubah dari satu generasi imam ke generasi berikutnya, maka tidak heran jika naskah-naskah riwayat yang dihasilkan melahirkan tabrakan konsep yang sangat mencolok.
Empat Kitab Induk Syiah (Al-Kutub al-Arba'ah)
Dalam dunia Syiah, terdapat empat kitab yang dianggap sebagai rujukan utama dalam beragama, yang posisinya meniru Al-Kutubus Sittah (enam kitab hadis utama) milik umat Islam. Keempat kitab tersebut adalah:
Al-Kafi karya Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini.
Man La Yahdhuruhu al-Faqih karya Ibnu Babawayh al-Qummi (Syaikh Suduq).
Tahdzib al-Ahkam karya Abu Ja'far Muhammad bin Hasan ath-Thusi (Syaikh Thusi).
Al-Ibtishar fima Ukhtulifa minal Akhbar juga karya Syaikh ath-Thusi.
Menariknya, kitab keempat yang ditulis oleh Syaikh ath-Thusi, yaitu Al-Ibtishar, secara khusus ditulis justru untuk mengumpulkan hadis-hadis internal Syiah yang saling bertentangan dan bertolak belakang, lalu sang penulis mencoba mencari jalan tengah untuk merukunkan riwayat-riwayat yang cacat tersebut.
Bukti Kontradiksi Ekstrem dalam Kitab Hadis Syiah
Kontradiksi dalam kitab-kitab Syiah bukan sekadar perbedaan dalam masalah cabang ibadah (furu'iyyah), melainkan menyentuh ranah pokok akidah (ushul) hingga hukum-hukum syariat yang fundamental. Berikut adalah beberapa contoh nyata:
1. Kontradiksi Mengenai Kemurnian Al-Qur'an
Di satu sisi, terdapat ratusan riwayat dalam kitab Al-Kafi yang menegaskan secara vulgar bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah mengalami distorsi, pengurangan, dan perubahan (tahrif) oleh para sahabat. Namun di sisi lain, terdapat riwayat yang memerintahkan pengikut Syiah untuk menguji kesahihan hadis dengan cara mencocokkannya dengan Al-Qur'an. Rasulullah SAW (versi riwayat Syiah) disebut bersabda:
مَا جَاءَكُمْ عَنِّي لَا يُوَافِقُ كِتَابَ اللهِ فَأَنَا لَمْ أَقُلْهُ
"Apa saja yang datang kepada kalian dari dariku yang tidak sesuai dengan Kitabullah (Al-Qur'an), maka aku tidak pernah mengucapkannya."
Pertanyaan Logis: Bagaimana mungkin menguji kebenaran sebuah hadis dengan mencocokkannya kepada Al-Qur'an, jika di saat yang sama hadis-hadis mereka yang lain mengeklaim bahwa Al-Qur'an tersebut sudah tidak murni dan diubah? Ini adalah lingkaran setan kontradiksi yang merusak otoritas dua sumber hukum sekaligus.
2. Kontradiksi dalam Masalah Hukum Nikah Mut'ah
Nikah mut'ah (nikah kontrak) adalah salah satu doktrin syahwat yang paling gencar dipromosikan oleh Syiah. Dalam kitab Al-Kafi dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih, diproduksi puluhan hadis yang memuji nikah mut'ah dengan pahala yang mengada-ada, bahkan mengeklaim orang yang melakukan mut'ah derajatnya setara dengan Nabi.
Namun, di dalam kitab Tahdzib al-Ahkam (Jilid 2, Halaman 251), Syaikh ath-Thusi justru meriwayatkan sebuah hadis sahih dari jalur Ali bin Abi Thalib RA yang melarang keras praktik tersebut:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ حَرَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ لُحُومَ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ وَنِكَاحَ الْمُتْعَةِ
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi mengharamkan pada hari Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut'ah."
Hadis ini menciptakan kebingungan luar biasa di internal Syiah. Mengapa Imam Ali RA mengharamkan sesuatu yang oleh para mullah Syiah zaman sekarang dianggap sebagai ibadah paling mulia?
3. Kontradiksi Mengenai Status Khilafah Abu Bakar dan Umar
Propaganda luar Syiah selalu menampilkan narasi bahwa Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA adalah perampas hak khilafah Ali RA. Namun dalam literatur hadis dan tarikh mereka, ditemukan riwayat di mana Ali bin Abi Thalib RA justru memuji kepemimpinan kedua khulafaur rasyidin tersebut dengan pujian yang sangat tinggi, menyebut masa kepemimpinan mereka sebagai masa yang penuh berkah, keadilan, dan bersih dari fitnah.
Pengakuan Jujur Para Ulama Klasik Syiah
Kenyataan bahwa kitab-kitab hadis Syiah dipenuhi oleh pertentangan yang tidak logis bukanlah tuduhan sepihak dari ulama Sunnah. Hal ini adalah fakta empiris yang diakui secara jujur oleh para mahaguru teolog Syiah terdahulu.
Syaikh ath-Thusi (wafat 460 H), salah satu tokoh terbersar mereka, secara blak-blakan menulis dalam mukadimah kitabnya, Tahdzib al-Ahkam:
"Aku melihat sekelompok ulama kita (Syiah) telah berselisih dan saling bertolak belakang dalam riwayat-riwayat mereka. Hampir tidak ada satu hadis pun melainkan ada hadis lain yang menyelisihinya, dan tidak ada satu riwayat pun melainkan ada riwayat lain yang mendustakannya... Hal ini sampai pada titik di mana musuh-musuh kita (Ahlussunnah) menggunakan kekacauan riwayat ini untuk mencela mazhab kita."
Begitu pula al-Kulaini dalam mukadimah kitab Al-Kafi, ia mengakui kesulitannya dalam menyaring hadis karena banyaknya riwayat yang bertentangan yang bersumber dari para imam, sehingga pada akhirnya ia menyerahkan standarisasi kebenaran hadis kepada pilihan subjektif masing-masing pengikutnya.
Mengapa Hadis Syiah Bisa Saling Bertentangan?
Ada dua faktor utama yang menyebabkan kitab-kitab hadis Syiah menjadi gudang kontradiksi:
Penyalahgunaan Doktrin Taqiyyah: Dalam teologi Syiah, Taqiyyah (berbohong atau menyembunyikan keyakinan asli demi keselamatan atau strategi) adalah bagian dari sembilan persepuluh bagian agama. Ketika para imam Syiah ditanya oleh pengikutnya mengenai suatu hukum di bawah pengawasan penguasa Bani Umayyah atau Bani Abbasiyah, mereka kerap memberikan jawaban yang sesuai dengan fatwa Sunni. Akibatnya, para perawi Syiah mencatat kedua jawaban tersebut: jawaban asli dan jawaban atas dasar Taqiyyah. Ketika dibukukan, kedua teks ini bercampur baur dan tidak ada mullah yang bisa membedakan mana sabda yang murni dan mana sabda yang lahir dari sandiwara politik.
Maraknya Para Pembohong dalam Sanad Syiah: Mayoritas perawi hadis dalam silsilah Syiah adalah orang-orang yang divonis sebagai Kadzdzab (pembohong besar) dan Ghalat (ekstremis) oleh para ahli kritik hadis. Demi menaikkan status sosial atau mencari keuntungan materi, para perawi palsu ini dengan mudah mencatut nama Imam Ja'far ash-Shadiq atau Imam Muhammad al-Baqir untuk memproduksi fatwa-fatwa pesanan.
Kesimpulan: Benteng Akidah Umat Islam Indonesia
Fakta-fakta ilmiah di atas memberikan kesimpulan yang sangat benderang: Kitab-kitab hadis Syiah terbukti secara tekstual dan historis memiliki pertentangan yang sangat parah dan tidak dapat dirukunkan. Sebuah ajaran yang mengeklaim bersumber dari langit tetapi dipenuhi oleh pertentangan internal menunjukkan bahwa ajaran tersebut bukanlah murni dari Allah dan Rasul-Nya, melainkan hasil rekayasa politik manusia yang dipaksakan.
Bagi kaum muslimin di Indonesia, mengetahui kerancuan epistemologi hadis Syiah ini adalah modal utama untuk membentengi diri, keluarga, dan masyarakat dari infiltrasi ajaran Rafidhah. Ketika mereka datang membawa syubhat dan mencoba menggoyahkan keyakinan umat terhadap Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, kita dapat dengan tegas membalikkan fakta bahwa kitab-kitab rujukan mereka sendirilah yang sedang mengalami cacat bawaan berupa kontradiksi massal yang diakui oleh para ulama mereka sendiri.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: