Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Memanipulasi Kisah-Kisah Islam untuk Kepentingan Mereka?

Syiahindonesia.com - Dalam sejarah panjang Islam, kisah-kisah tentang para nabi, sahabat, dan peristiwa besar umat memiliki posisi yang sangat penting karena darinya kaum Muslimin memahami ajaran, akidah, dan manhaj hidup yang lurus. Namun, di tengah perjalanan sejarah tersebut, muncul berbagai kelompok yang menafsirkan bahkan memelintir kisah-kisah Islam sesuai dengan kepentingan ideologis mereka. Salah satu yang paling sering disorot oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah adalah praktik manipulasi sejarah yang dilakukan oleh Syiah, khususnya dalam menggambarkan peristiwa-peristiwa besar Islam demi menguatkan doktrin imamah dan keyakinan khas mereka.

Pentingnya Sejarah dalam Islam

Dalam Islam, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sarana untuk mengambil ibrah dan meneguhkan iman. Al-Qur’an sendiri banyak mengisahkan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ﴾
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

Ahlus Sunnah memahami ayat ini sebagai dorongan untuk menjaga kejujuran dalam meriwayatkan sejarah, karena penyimpangan terhadap fakta sejarah dapat berujung pada penyimpangan akidah dan amalan.

Metode Syiah dalam Menafsirkan Sejarah

Syiah dikenal memiliki metode penafsiran sejarah yang sangat selektif. Mereka cenderung hanya mengambil riwayat-riwayat yang sejalan dengan doktrin imamah, sementara menolak atau menakwil riwayat shahih yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Metode ini tidak jarang melibatkan penggunaan hadis-hadis lemah bahkan palsu, yang kemudian dijadikan dasar untuk menilai para sahabat Nabi ﷺ secara negatif.

Dalam pandangan Ahlus Sunnah, para sahabat adalah generasi terbaik yang telah Allah ridai. Rasulullah ﷺ bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, Syiah sering memutarbalikkan fakta ini dengan menggambarkan mayoritas sahabat sebagai pengkhianat amanah Rasulullah ﷺ setelah wafat beliau.

Manipulasi Kisah Sahabat Nabi

Salah satu contoh paling jelas adalah bagaimana Syiah memanipulasi kisah Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Dalam literatur Syiah, ketiga khalifah ini sering digambarkan sebagai perampas hak Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Padahal, dalam sejarah Islam versi Ahlus Sunnah, pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah dilakukan melalui musyawarah para sahabat besar, dan Ali sendiri berbaiat kepadanya demi menjaga persatuan umat.

Manipulasi ini tidak berhenti pada satu tokoh, tetapi diperluas dengan menggambarkan konflik-konflik politik sebagai bukti adanya konspirasi besar melawan Ahlul Bait. Padahal, konflik yang terjadi lebih tepat dipahami sebagai ijtihad para sahabat dalam kondisi sulit, bukan sebagai pengkhianatan terhadap agama.

Perang Jamal dan Shiffin dalam Narasi Syiah

Perang Jamal dan Shiffin sering dijadikan bahan utama oleh Syiah untuk menanamkan kebencian terhadap para sahabat tertentu. Dalam versi Syiah, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Thalhah, Zubair, dan Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhum digambarkan sebagai pemberontak yang sengaja menentang Ali. Narasi ini disusun sedemikian rupa untuk mengesankan bahwa hanya Ali dan pengikutnya yang berada di atas kebenaran mutlak.

Ahlus Sunnah memandang peristiwa ini sebagai fitnah besar yang terjadi karena perbedaan ijtihad, bukan karena kebencian terhadap agama atau Ahlul Bait. Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan kewajiban menahan lisan dari mencela para sahabat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

«لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي»
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.” (HR. Muslim)

Kisah Karbala dan Eksploitasi Emosi

Tragedi Karbala adalah peristiwa yang sangat menyedihkan dalam sejarah Islam, dan Ahlus Sunnah pun mencintai serta menghormati Al-Husain radhiyallahu ‘anhu. Namun, Syiah sering mengeksploitasi peristiwa ini secara berlebihan, bahkan menjadikannya alat propaganda untuk menanamkan doktrin kebencian dan ratapan ritual yang tidak memiliki dasar dalam sunnah.

Dalam banyak majelis Syiah, kisah Karbala disampaikan dengan narasi emosional yang berlebihan, disertai tambahan-tambahan cerita yang tidak memiliki sanad shahih. Tujuannya bukan lagi untuk mengambil pelajaran, tetapi untuk memperkuat loyalitas buta terhadap imamah Syiah.

Penolakan terhadap Riwayat Shahih

Ciri lain manipulasi sejarah oleh Syiah adalah penolakan terhadap kitab-kitab hadis utama Ahlus Sunnah seperti Shahih Bukhari dan Muslim. Riwayat-riwayat shahih yang memuji para sahabat atau menunjukkan keharmonisan mereka dengan Ali sering dianggap tidak valid atau dituduh sebagai rekayasa politik Dinasti Umayyah.

Padahal, ilmu hadis dalam Islam dibangun di atas metodologi yang ketat, dengan sanad yang jelas dan kritik perawi yang mendalam. Mengabaikan metodologi ini berarti membuka pintu bagi subjektivitas dan kepentingan ideologis semata.

Dampak Manipulasi Sejarah bagi Umat

Manipulasi kisah-kisah Islam tidak hanya berdampak pada pemahaman sejarah, tetapi juga pada persatuan umat. Ketika generasi muda Muslim dicekoki dengan narasi yang penuh kebencian terhadap para sahabat, maka yang lahir adalah sikap ekstrem dan permusuhan internal. Ini jelas bertentangan dengan tujuan Islam sebagai agama yang menyeru kepada persatuan dan ukhuwah di atas kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Sikap Ahlus Sunnah dalam Menyikapi Sejarah

Ahlus Sunnah wal Jama‘ah memiliki prinsip adil dan seimbang dalam menyikapi sejarah. Para sahabat dihormati, Ahlul Bait dicintai, dan konflik masa lalu dipahami dengan ilmu serta adab. Tidak ada pengkultusan berlebihan, dan tidak pula ada caci maki terhadap generasi terbaik umat ini.

Dengan sikap ini, Ahlus Sunnah berusaha menjaga kemurnian Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan dipraktikkan oleh generasi awal umat.

Penutup

Manipulasi kisah-kisah Islam oleh Syiah merupakan persoalan serius yang harus diwaspadai, khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya berakidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Pemahaman sejarah yang menyimpang dapat menjadi pintu masuk bagi penyimpangan akidah yang lebih besar. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali kepada Al-Qur’an, sunnah yang shahih, dan pemahaman para ulama salaf dalam memahami sejarah dan ajaran Islam secara utuh dan lurus.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: