Syiahindonesia.com - Pembahasan mengenai doa dalam Islam merupakan perkara yang sangat penting, karena doa adalah inti dari ibadah dan cerminan langsung dari akidah seseorang. Dalam perspektif Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, doa harus ditujukan semata-mata kepada Allah ﷻ tanpa perantara yang tidak disyariatkan, tanpa pengagungan berlebihan kepada makhluk, dan tanpa lafaz-lafaz yang bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, ketika muncul praktik doa dalam Syiah yang menyelisihi prinsip-prinsip tauhid ini, para ulama Sunni menilai bahwa terdapat penyimpangan serius yang tidak bisa dianggap remeh, karena menyentuh fondasi paling mendasar dalam agama Islam.
Dalam Islam, Allah ﷻ menegaskan bahwa hanya kepada-Nya doa dan permohonan boleh dipanjatkan, sebagaimana firman-Nya: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu” (QS. Ghafir: 60). Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa doa adalah bentuk ibadah langsung kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada nabi yang telah wafat, dan bukan pula kepada tokoh-tokoh yang diagungkan. Namun dalam praktik doa Syiah, ditemukan banyak teks doa yang berisi permohonan kepada para imam, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, dan imam-imam lainnya, yang menurut Ahlus Sunnah merupakan bentuk penyimpangan akidah karena mengalihkan ibadah doa dari Allah kepada selain-Nya.
Salah satu contoh yang sering dikritik oleh ulama Sunni adalah doa-doa Syiah yang mengandung istighatsah kepada para imam, yakni meminta pertolongan secara langsung kepada mereka dalam perkara-perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah. Dalam sebagian literatur Syiah, terdapat doa dengan redaksi yang memohon rezeki, keselamatan, bahkan ampunan dosa kepada imam-imam mereka. Padahal dalam akidah Islam yang lurus, ampunan dosa hanya datang dari Allah ﷻ, sebagaimana firman-Nya: وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ yang artinya, “Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” (QS. Ali ‘Imran: 135). Ketika doa diarahkan kepada selain Allah dalam perkara ini, maka hal tersebut dinilai sebagai pelanggaran terhadap tauhid uluhiyah.
Selain itu, doa-doa Syiah juga banyak mengandung pengagungan ekstrem (ghuluw) terhadap para imam, dengan menyematkan sifat-sifat yang menurut Ahlus Sunnah hanya layak bagi Allah ﷻ. Dalam beberapa doa, para imam digambarkan mengetahui perkara gaib, mengatur alam semesta, dan memiliki kekuasaan spiritual yang mutlak atas kehidupan manusia. Padahal Allah ﷻ berfirman: قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ yang artinya, “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah” (QS. An-Naml: 65). Penyandaran sifat gaib kepada makhluk, menurut ulama Sunni, adalah bentuk penyimpangan akidah yang sangat berbahaya.
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ juga telah memperingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam memuji dan mengagungkan beliau, apalagi mengagungkan selain beliau. Nabi ﷺ bersabda: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ yang artinya, “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa bin Maryam” (HR. Bukhari). Jika kepada Rasulullah ﷺ saja umat Islam dilarang bersikap ghuluw, maka pengagungan berlebihan kepada para imam dalam doa-doa Syiah semakin menunjukkan penyimpangan yang nyata dari ajaran Islam yang murni.
Aspek lain yang dikritisi adalah muatan doa-doa Syiah yang berisi celaan, kutukan, dan permohonan keburukan atas para sahabat Nabi ﷺ. Dalam sejumlah teks doa Syiah, terdapat laknat terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan mayoritas sahabat Rasulullah ﷺ. Padahal Allah ﷻ telah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an dan meridhai mereka, sebagaimana firman-Nya: وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya” (QS. At-Taubah: 100). Doa yang berisi laknat terhadap orang-orang yang telah diridhai Allah jelas bertentangan dengan Al-Qur’an.
Dalam pandangan Ahlus Sunnah, doa seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh adab, ketundukan, dan harapan, bukan sarana menanamkan kebencian, dendam sejarah, dan permusuhan antar sesama kaum Muslimin. Doa-doa Syiah yang sarat dengan muatan ideologis dan politis dinilai telah keluar dari ruh ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Hal ini semakin memperkuat penilaian para ulama Sunni bahwa penyimpangan Syiah tidak hanya pada aspek sejarah dan politik, tetapi juga telah merasuk ke dalam ranah ibadah yang paling sakral.
Lebih jauh lagi, doa-doa Syiah sering kali dijadikan alat doktrinasi untuk menanamkan keyakinan bahwa para imam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari para nabi selain Muhammad ﷺ, bahkan dalam beberapa teks tersirat bahwa keberadaan para imam adalah syarat diterimanya doa dan ibadah. Konsep semacam ini tidak pernah dikenal dalam Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ yang artinya, “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjadi kaidah utama dalam masalah doa dan tawakal.
Dengan memahami berbagai penyimpangan dalam doa-doa Syiah ini, umat Islam di Indonesia diharapkan semakin waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kajian ilmiah dan sikap kritis yang dilandasi dalil-dalil yang sahih menjadi benteng penting untuk menjaga kemurnian akidah umat. Perbedaan pendapat dalam Islam memang ada, tetapi ketika perbedaan tersebut telah menyentuh pokok tauhid dan ibadah, maka kewaspadaan dan penjelasan yang tegas menjadi sebuah kewajiban demi menjaga agama Allah ﷻ.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: