Syiahindonesia.com - Fenomena perpecahan di tengah umat Islam bukanlah perkara baru, namun sejarah mencatat bahwa salah satu sumber fitnah yang paling konsisten menimbulkan kegaduhan akidah, konflik sosial, dan keretakan ukhuwah adalah ajaran Syiah dengan berbagai sekte dan narasi ideologisnya. Di Indonesia, penyebaran paham Syiah sering kali dibungkus dengan bahasa toleransi, persatuan, dan kecintaan kepada Ahlul Bait, padahal di balik itu terdapat konsep-konsep teologis dan historis yang secara nyata bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, pembahasan ini penting sebagai langkah antisipatif agar umat Islam memahami akar fitnah tersebut dan tidak terjebak dalam propaganda yang menyesatkan.
Akar Historis Fitnah Syiah dalam Islam
Sejarah kemunculan Syiah tidak dapat dilepaskan dari konflik politik pasca wafatnya Rasulullah ﷺ. Ketika umat Islam sepakat membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah pertama, muncul kelompok yang menolak legitimasi tersebut dan mengklaim bahwa kepemimpinan umat Islam adalah hak eksklusif Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya. Klaim ini kemudian berkembang menjadi doktrin teologis yang menjadikan imamah sebagai rukun agama, sebuah konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
Padahal Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul.”
(QS. Ali ‘Imran: 144)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak dibangun di atas kultus individu atau garis keturunan tertentu, melainkan di atas wahyu dan risalah yang bersifat universal.
Konsep Imamah sebagai Sumber Perpecahan
Salah satu fitnah terbesar Syiah adalah doktrin imamah, yaitu keyakinan bahwa para imam mereka bersifat maksum, memiliki otoritas mutlak dalam agama, dan bahkan dianggap lebih utama daripada para nabi selain Nabi Muhammad ﷺ menurut sebagian ekstremis Syiah. Konsep ini secara langsung memecah umat Islam menjadi dua kubu: mereka yang dianggap “pengikut imam” dan mereka yang dicap sebagai penentang, bahkan dikafirkan.
Dalam Islam, tidak ada manusia yang maksum selain para nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi dalil tegas bahwa manusia, siapa pun dia, tidak luput dari kesalahan, sehingga klaim kemaksuman imam Syiah merupakan penyimpangan akidah yang serius.
Penghinaan terhadap Sahabat sebagai Strategi Fitnah
Upaya Syiah memecah umat Islam juga tampak jelas dalam sikap mereka terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Banyak kitab rujukan Syiah yang secara terang-terangan mencela, melaknat, bahkan menuduh kafir para sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Padahal para sahabat adalah generasi terbaik yang dipilih Allah untuk mendampingi Rasul-Nya dan menyampaikan Islam kepada generasi setelahnya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini secara tegas membatalkan seluruh narasi Syiah yang menuduh para sahabat sebagai pengkhianat agama.
Taqiyah: Alat Penyamaran dan Penipuan
Salah satu strategi paling berbahaya yang digunakan Syiah dalam menyusup ke tengah umat Islam adalah doktrin taqiyah. Dalam praktiknya, taqiyah sering dijadikan pembenaran untuk berbohong, menyembunyikan akidah sebenarnya, dan menampilkan wajah moderat demi menarik simpati umat Sunni. Akibatnya, banyak kaum awam yang tertipu karena melihat Syiah seolah-olah sama dengan Islam Ahlus Sunnah.
Islam memang membolehkan menyembunyikan iman dalam kondisi darurat dan ancaman nyawa, namun menjadikannya sebagai metode dakwah permanen adalah bentuk manipulasi agama yang sangat berbahaya dan merusak kepercayaan sosial antarumat Islam.
Distorsi Sejarah Karbala dan Eksploitasi Emosi Umat
Tragedi Karbala sering dijadikan alat propaganda Syiah untuk membangkitkan emosi dan kebencian terhadap mayoritas umat Islam. Kisah ini dikemas secara sepihak, dilebih-lebihkan, bahkan dipalsukan untuk menanamkan dendam sejarah yang tidak pernah selesai. Padahal Ahlus Sunnah memandang tragedi Karbala sebagai musibah besar yang harus disikapi dengan adil, ilmiah, dan tanpa ghuluw (berlebihan).
Ritual-ritual ratapan, melukai diri, dan pengkultusan tragedi Karbala sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabatnya, dan justru menjadi sarana efektif untuk memelihara perpecahan umat Islam lintas generasi.
Penyimpangan dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah
Syiah memiliki metode tafsir Al-Qur’an yang sangat berbeda dengan Ahlus Sunnah. Banyak ayat yang ditakwil secara paksa untuk mendukung doktrin imamah dan keutamaan imam-imam mereka. Bahkan tidak sedikit ulama Syiah yang meyakini adanya tahrif (perubahan) dalam Al-Qur’an, sebuah keyakinan yang secara langsung menafikan janji Allah dalam menjaga kitab-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)
Ayat ini menjadi bantahan paling kuat terhadap seluruh tuduhan bahwa Al-Qur’an telah berubah atau tidak utuh.
Dampak Sosial Syiah terhadap Persatuan Umat
Di berbagai negara, kehadiran Syiah sering kali diikuti oleh konflik horizontal, instabilitas politik, dan perpecahan sosial. Hal ini bukan semata-mata faktor politik, tetapi berakar dari doktrin ideologis yang membelah umat menjadi “kami” dan “mereka”, antara pengikut imam dan musuh Ahlul Bait versi Syiah.
Islam datang untuk menyatukan umat di atas tauhid dan sunnah, bukan membangun sekte eksklusif yang mengklaim keselamatan hanya untuk kelompok tertentu. Rasulullah ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.”
(HR. Malik)
Penutup: Kewaspadaan sebagai Bentuk Tanggung Jawab Akidah
Memahami penyimpangan Syiah dan strategi fitnah mereka bukanlah bentuk kebencian, melainkan kewaspadaan akidah dan tanggung jawab ilmiah dalam menjaga kemurnian Islam. Umat Islam Indonesia, yang selama ini dikenal moderat dan berpegang pada Ahlus Sunnah wal Jama’ah, harus terus dibekali pemahaman yang benar agar tidak terpengaruh oleh narasi palsu yang merusak persatuan.
Dengan kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat serta ulama salaf, umat Islam akan tetap kokoh menghadapi segala bentuk fitnah, termasuk fitnah Syiah yang berusaha memecah belah umat dengan berbagai kedok dan propaganda.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: