Syiahindonesia.com – Salah satu doktrin akidah Syiah yang paling bermasalah dan jarang dipahami oleh kaum Muslimin awam adalah konsep Raj’ah, yaitu keyakinan bahwa sebagian manusia—terutama para imam Syiah dan musuh-musuh mereka—akan hidup kembali ke dunia sebelum hari kiamat untuk membalas dendam, menegakkan kekuasaan, dan memenangkan kelompok tertentu. Doktrin ini bukan sekadar isu cabang, melainkan menyentuh fondasi akidah tentang kehidupan setelah mati, hari kebangkitan, dan keadilan Allah ﷻ. Dalam Islam yang murni, konsep Raj’ah tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah ﷺ, bahkan bertentangan secara langsung dengan nash-nash yang tegas.
Apa Itu Raj’ah dalam Keyakinan Syiah?
Dalam literatur Syiah Itsna ‘Asyariyah, Raj’ah dipahami sebagai kembalinya sebagian orang yang telah mati ke dunia sebelum hari kiamat. Mereka meyakini bahwa para imam Syiah akan kembali untuk memerintah, sementara orang-orang yang memusuhi Syiah akan dibangkitkan kembali untuk menerima hukuman dan kehinaan di dunia. Keyakinan ini dijadikan bagian dari iman dan diajarkan sebagai doktrin yang harus diyakini.
Masalahnya, Islam tidak pernah mengajarkan adanya dua kali kehidupan dunia setelah kematian. Kehidupan dunia berakhir dengan kematian, lalu manusia berada di alam barzakh hingga hari kebangkitan (yaumul ba’ts). Tidak ada satu pun dalil sahih yang menyebutkan kembalinya manusia ke dunia untuk hidup normal sebelum kiamat.
Al-Qur’an Menegaskan Tidak Ada Kembali ke Dunia
Al-Qur’an secara tegas menolak kemungkinan manusia kembali ke dunia setelah mati. Allah ﷻ berfirman:
﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ • لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾
“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Ayat ini sangat jelas: permintaan untuk kembali ke dunia ditolak, dan setelah kematian manusia masuk ke alam barzakh sampai hari kebangkitan, bukan kembali hidup di dunia seperti klaim Raj’ah.
Raj’ah Bertentangan dengan Konsep Hari Kiamat
Dalam akidah Islam, kebangkitan manusia secara fisik hanya terjadi sekali, yaitu pada hari kiamat. Allah ﷻ berfirman:
﴿ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ • ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ﴾
“Kemudian sesungguhnya kalian setelah itu benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 15–16)
Urutannya tegas: hidup → mati → dibangkitkan pada hari kiamat. Tidak ada ruang bagi doktrin Raj’ah yang mengklaim adanya kebangkitan sementara di dunia sebelum kiamat.
Tidak Ada Contoh dari Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat
Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan Raj’ah, tidak pernah menyinggung adanya kebangkitan kembali ke dunia, dan tidak pernah menyuruh para sahabat untuk menunggu kembalinya tokoh-tokoh tertentu sebelum kiamat. Padahal, jika Raj’ah merupakan bagian penting dari iman, tentu Nabi ﷺ tidak akan menyembunyikannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ»
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara…”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa setelah kematian, manusia tidak kembali ke dunia untuk beramal atau hidup ulang. Amal berhenti sampai hari perhitungan.
Raj’ah dan Akar Pemikiran Balas Dendam Politik
Salah satu sisi paling berbahaya dari konsep Raj’ah adalah muatan dendam politik dan kebencian ideologis. Doktrin ini dibangun di atas narasi bahwa dunia belum “adil” karena kekuasaan tidak berada di tangan imam Syiah, sehingga diperlukan “kehidupan kedua” untuk membalas musuh dan menegakkan kekuasaan versi mereka.
Ini bertentangan dengan konsep keadilan Allah ﷻ dalam Islam. Allah menegakkan keadilan-Nya secara sempurna di hari kiamat, bukan melalui kebangkitan ulang sebagian manusia untuk agenda kelompok tertentu. Allah ﷻ berfirman:
﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا﴾
“Kami akan memasang timbangan keadilan pada hari kiamat, maka tidak ada satu jiwa pun yang dizalimi sedikit pun.”
(QS. Al-Anbiya’: 47)
Raj’ah Menyerupai Kepercayaan Non-Islam
Konsep Raj’ah memiliki kemiripan dengan keyakinan agama-agama dan filsafat non-Islam yang mempercayai reinkarnasi atau kembalinya tokoh-tokoh tertentu ke dunia. Ini menunjukkan bahwa Raj’ah bukan berasal dari wahyu, melainkan hasil serapan pemikiran luar yang dibungkus dengan istilah Islam.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah menolak seluruh konsep kehidupan berulang atau kebangkitan duniawi sebelum kiamat, karena hal tersebut merusak kemurnian akidah tentang akhirat.
Bahaya Raj’ah bagi Akidah Umat Islam
Meyakini Raj’ah membuka pintu pada berbagai penyimpangan lanjutan:
-
Meragukan finalitas hari kiamat
-
Menjadikan imam sebagai pusat harapan keselamatan
-
Memelihara kebencian lintas generasi
-
Menggeser fokus keadilan dari akhirat ke agenda duniawi
Di Indonesia, doktrin seperti ini berbahaya karena dapat memecah belah umat dan menanamkan keyakinan yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan
Konsep Raj’ah dalam Syiah adalah doktrin sesat yang bertentangan secara jelas dengan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, dan ijma’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Islam mengajarkan bahwa manusia hidup sekali, mati sekali, dan dibangkitkan sekali pada hari kiamat. Tidak ada kebangkitan duniawi untuk balas dendam, kekuasaan, atau kemenangan kelompok tertentu. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia wajib waspada terhadap penyebaran doktrin Raj’ah dan berpegang teguh pada akidah Islam yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: