Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - PBB mengatakan pada hari Selasa (20/02/2018) bahwa pihaknya sangat khawatir dengan kondisi di Ghouta Timur Suriah menyusul laporan bahwa sejumlah besar warga sipil terbunuh dalam serangan udara, lansir Anadolu Agency Rabu (21/2/2018).

“Sekretaris Jenderal sangat khawatir dengan situasi yang meningkat di Ghouta Timur dan dampaknya yang menghancurkan pada warga sipil,” kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres, dalam sebuah pernyataan tertulis.

Pernyataan tersebut mengatakan ada laporan bahwa lebih dari 100 orang telah terbunuh di Ghouta Timur sejak Senin, termasuk puluhan anak-anak, sementara lima rumah sakit atau klinik medis di daerah tersebut terkena serangan udara dan lebih dari 700 orang memerlukan evakuasi medis segera.

Hampir 400.000 orang di Ghouta Timur telah mengalami serangan udara, penembakan dan pemboman, kata pernyataan tersebut.

Akibat pengepungan pasukan rezim Suriah, penduduk daerah tersebut hidup dalam kondisi ekstrim, termasuk kekurangan gizi, tambahnya.

Sementara itu, ada laporan pemboman di Ghouta Timur di Damaskus, kata pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut mengatakan Ghouta Timur adalah bagian dari kesepakatan de-eskalasi yang dicapai Mei lalu di ibukota Kazakhstan, Astana, dan sekretaris jenderal mengingatkan semua pihak, terutama penjamin kesepakatan Astana, mengenai komitmen mereka dalam hal ini.

PBB telah berulang kali meminta penghentian penyerangan oleh rezim Assad untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dan evakuasi orang sakit dan terluka, kata pernyataan tersebut.

“Sekretaris Jenderal mendesak semua pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional dipatuhi, termasuk akses kemanusiaan yang tidak terhalang, evakuasi medis tanpa syarat, dan perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil,” tegas pernyataan tersebut.

Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi yang disahkan oleh Turki, Rusia dan Iran dimana tindakan agresi militer dilarang.

Namun rezim Syiah Bashar al-Assad terus menargetkan bagian-bagian perumahan di kota tersebut, menewaskan sedikitnya 539 orang dan melukai lebih dari 2.000 lainnya sejak 29 Desember tahun lalu.

Sebagai rumah bagi sekitar 400.000 penduduk sipil, Ghouta Timur tetap berada di bawah pengepungan yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Suriah telah dikepung dalam perang sipil yang menghancurkan sejak Maret 2011 ketika rezim Syiah Assad menindak para pengunjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

Sementara pejabat PBB mengatakan ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik tersebut dan puluhan juta lainnya mengungsi. Jurnalislam.com

0 komentar: