Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Gemar Mengkafirkan Sahabat?

Syiahindonesia.com - Salah satu titik perbedaan paling krusial dan mendasar yang memisahkan antara Islam murni (Ahlussunnah wal Jama'ah) dengan teologi Syiah adalah cara pandang mereka terhadap generasi Sahabat Rasulullah SAW. Di saat Ahlussunnah memuliakan, mendoakan, dan menetapkan seluruh sahabat sebagai generasi terbaik yang adil ('Adalatus Shahabah), doktrin Syiah justru dibangun di atas fondasi pengafiran, pelaknatan, dan pembunuhan karakter terhadap mayoritas sahabat Nabi.

Dalam kitab-kitab induk mereka (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini), terdapat riwayat ekstrem yang mereka yakini keabsahannya, yang menyatakan bahwa: "Seluruh manusia (sahabat) murtad setelah wafatnya Nabi SAW kecuali tiga orang; Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi." Mengapa sekte ini begitu gemar dan mewajibkan pengafiran terhadap para pembela awal Islam tersebut? Berikut adalah akar penyebabnya:

1. Demi Melegitimasi Doktrin Keagamaan "Imamah"

Akar utama dari kegemaran mengafirkan sahabat ini bukan karena masalah personal, melainkan kebutuhan teologis untuk menyelamatkan doktrin Imamah (kepemimpinan 12 imam). Syiah menetapkan bahwa Imamah adalah rukun iman yang paling utama dan ditunjuk langsung melalui wasiat langit (Nash).

Menurut logika teologi Syiah:

  • Jika Ali bin Abi Thalib RA adalah penerima wasiat mutlak pasca-wafatnya Nabi, maka para sahabat yang membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman dianggap telah sengaja menentang perintah Allah dan Rasul-Nya.

  • Untuk mempertahankan dogma bahwa sistem pemerintahan pasca-Nabi harus berupa teokrasi garis keturunan, Syiah terpaksa menuduh ribuan sahabat yang hadir di Saqifah Bani Sa'idah dan yang hidup pada masa Khulafaur Rasyidin sebagai para pelaku konspirasi massal dan pengkhianat agama.

2. Doktrin "Tabarra'" (Kewajiban Membenci) sebagai Pilar Ibadah

Di dalam manhaj Syiah, iman seseorang tidak akan sempurna hanya dengan mencintai Ahlul Bait (Tawalla’). Cinta tersebut dianggap palsu jika tidak dibarengi dengan doktrin Tabarra’, yaitu kewajiban berlepas diri, membenci, memusuhi, dan melaknat musuh-musuh Ahlul Bait.

Siapa yang mereka definisikan sebagai musuh utama? Tragisnya, label tersebut disematkan kepada figur-figur agung seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta para istri Nabi khususnya Ummul Mukminin Aisyah RA dan Hafshah RA. Melaknat dan mengafirkan tokoh-tokoh suci Sunni ini dikemas oleh para mullah mereka sebagai ritual ibadah harian yang mendatangkan pahala besar, sehingga rasa benci tersebut dipelihara secara turun-temurun melalui doktrin doktrinasi sejak dini.

3. Upaya Meruntuhkan Otoritas Sumber Hukum Islam (Al-Qur'an dan Sunnah)

Secara tidak langsung, pengafiran terhadap generasi sahabat memiliki dampak sistemik yang sangat berbahaya bagi eksistensi agama Islam itu sendiri: yaitu runtuhnya kepercayaan terhadap validitas syariat.

Para ulama Ahlussunnah menjelaskan bahwa para sahabat adalah jembatan emas yang menghubungkan umat generasi setelahnya dengan Rasulullah SAW.

  • Merekalah yang mendengar langsung ayat Al-Qur'an diturunkan, lalu menghafal, menulis, dan mengumpulkannya.

  • Merekalah yang menyaksikan langsung perbuatan Nabi, lalu meriwayatkan ribuan hadits hukum.

Jika teologi Syiah berhasil menanamkan doktrin bahwa mayoritas sahabat telah murtad, kafir, dan fasik, maka secara otomatis seluruh Al-Qur'an dan Hadits yang dibawa melalui jalur periwayatan para sahabat tersebut akan gugur kredibilitasnya. Ketika otoritas sumber asli Islam ini runtuh, Syiah dengan mudah menyusupkan kitab-kitab tandingan dan hadits palsu buatan para mullah mereka untuk diadopsi oleh umat.

4. Warisan Ideologis Abdullah bin Saba' (Sekte Rafidhah Pertama)

Kegemaran mengafirkan sahabat memiliki akar historis yang kuat dari sosok Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Bin Saba' adalah konseptor pertama yang mengembuskan isu-isu provokatif di tengah umat:

  • Dia yang pertama kali mendewakan dan menyebut Ali memiliki hak ketuhanan/wasiat ghaib.

  • Dia pula yang pertama kali memelopori gerakan mencela, mencaci maki, dan mengafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Para ulama menyebut sekte Syiah ekstrem ini sebagai Rafidhah (yang berarti: para penolak) karena mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar yang sah. Narasi kebencian dan pengafiran yang ada di dalam mimbar-mimbar Syiah modern saat ini tidak lain adalah kelanjutan estafet dari racun ideologis yang ditanamkan oleh Abdullah bin Saba' berabad-berabad lalu.

5. Pertentangan Nyata dengan Ayat Al-Qur'an

Tindakan Syiah yang gemar mengafirkan sahabat menabrak secara frontal ayat-ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit memuji, menjamin surga, dan menyatakan keridhaan Allah kepada para sahabat Nabi. Salah satunya di dalam Surat At-Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."

Ketika kelompok Syiah mengafirkan para Sahabat Muhajirin dan Anshar, mereka pada hakikatnya sedang menentang kesaksian mutlak dari Allah SWT. Mengklaim orang yang telah diridhai oleh Allah sebagai seorang kafir adalah bentuk kesesatan akidah yang sangat nyata.

Kesimpulan

Alasan Syiah gemar mengafirkan sahabat adalah demi mempertahankan kelangsungan doktrin politik-keagamaan mereka (Imamah), menjalankan ritual kebencian (Tabarra'), serta meruntuhkan jembatan transmisi syariat Islam yang murni.

Sebagai umat Islam di Indonesia yang berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah, kita wajib membentengi diri dari infiltrasi paham yang sarat akan caci maki ini. Menghormati dan mencintai seluruh sahabat Nabi, serta mencintai Ahlul Bait secara proporsional, adalah bagian integral dari keimanan kita. Kita menolak keras segala bentuk ideologi yang menjadikan aktivitas melaknat generasi terbaik Islam sebagai jalan menuju tuhan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: