Syiahindonesia.com - Menghormati, mencintai, dan mendoakan keridaan bagi para sahabat Rasulullah ﷺ adalah bagian integral dari akidah umat Islam yang berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Para sahabat adalah generasi emas (Khairul Qurun) yang dipilih langsung oleh Allah SWT untuk menemani perjuangan dakwah Nabi, menyebarkan risalah Islam, serta menjadi mata rantai utama dalam menyampaikan Al-Qur'an dan As-Sunnah kepada generasi setelahnya.
Namun, di dalam teologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), kaum Muslimin disuguhkan pemandangan akidah yang sepenuhnya bertolak belakang. Mencela, melaknat, bahkan mengafirkan mayoritas sahabat Nabi bukan sekadar luapan emosi sejarah biasa, melainkan sebuah ritual yang dihalalkan, dilegalkan, bahkan dipandang sebagai bentuk ibadah agung yang mendatangkan pahala dalam sistem keagamaan mereka. Mengapa penyimpangan ini bisa terjadi? Untuk mengantisipasi penyebaran paham sesat ini di Indonesia, kita wajib membedah akar teologis yang mendasari mengapa Syiah menghalalkan tindakan nista tersebut.
1. Doktrin Imamah sebagai Parameter Keimanan
Alasan paling mendasar mengapa Syiah menghalalkan pencelaan terhadap sahabat Nabi adalah karena adanya doktrin Imamah (hak kepemimpinan ilahi yang diklaim harus dipegang secara eksklusif oleh Ali bin Abi Thalib r.a. dan keturunannya). Dalam teologi Syiah, Imamah diposisikan sebagai rukun iman yang paling utama.
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat melalui mekanisme musyawarah yang demokratis dan mufakat (Ijma') memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. sebagai khalifah pertama demi menjaga persatuan umat. Dalam kacamata Syiah, tindakan para sahabat membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman dinilai sebagai bentuk "pembangkangan massal" terhadap perintah Allah yang diklaim telah menunjuk Ali r.a. secara langsung. Akibatnya, Syiah melabeli mayoritas sahabat sebagai para pengkhianat risalah yang murtad dari iman, sehingga menghalalkan kehormatan mereka untuk dicaci dan dilaknat.
2. Kewajiban Ritual Tabarra' (Berlepas Diri dari Musuh Imam)
Dalam struktur akidah Syiah, iman seseorang tidak akan sempurna melainkan dengan memenuhi dua rukun yang saling mengikat: Tawalla (mencintai para Imam Syiah) dan Tabarra' (membenci dan berlepas diri dari para musuh Imam Syiah).
Doktrin Tabarra' inilah yang melahirkan ritual melaknat (la'nat) di dalam majelis-majelis keagamaan mereka. Bagi pengikut Syiah, melaknat para sahabat Nabi—khususnya Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a.—serta para istri Nabi seperti Ibunda Aisyah r.a. dan Ibunda Hafshah r.a., dipandang sebagai realisasi nyata dari rukun Tabarra'. Dalam kitab-kitab babon mereka seperti Al-Kafi dan Biharul Anwar, diproduksi ribuan riwayat palsu yang menjanjikan pahala selangit bagi siapa saja yang merutinkan laknat kepada para kekasih Rasulullah ﷺ tersebut.
3. Menolak Teks Al-Qur'an demi Memelihara Dendam Sejarah
Dengan menghalalkan pencelaan terhadap sahabat, sekte Syiah secara sadar telah menabrak dan mendustakan ayat-ayat Al-Qur'an yang secara tegas memberikan jaminan rida dan kesucian bagi generasi sahabat. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an melalui Surat Al-Fath ayat 18:
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu mendatangkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat."
Ayat ini berbicara tentang para sahabat yang ikut serta dalam Bai'atur Ridhwan (sekitar 1.400 sahabat, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman). Allah SWT secara tegas mempersaksikan bahwa Dia telah rida kepada mereka dan mengetahui kesucian isi hati mereka. Ketika Syiah menghalalkan caci maki terhadap mereka, Syiah pada hakikatnya sedang menggugat keputusan dan ilmu Allah SWT—sebuah kelancangan teologis yang mengeluarkan mereka dari manhaj Islam yang murni.
4. Perbandingan Paradigma Sikap Terhadap Sahabat: Sunni vs Syiah
5. Bahaya Strategi Taqiyyah Syiah di Indonesia
Umat Islam di Indonesia yang mayoritas mutlak bermazhab Syafii wajib bersikap cerdas dan waspada tingkat tinggi terhadap pergerakan misionaris Syiah. Di ruang publik Nusantara, tokoh-tokoh Syiah tidak akan pernah berani memperlihatkan ritual mencela sahabat ini secara terang-terangan karena mereka tahu hal itu akan memicu penolakan keras dari masyarakat.
Mereka membungkus doktrin kebencian ini dengan menggunakan strategi Taqiyyah (berpura-pura sejalan dengan Sunni demi keamanan dan infiltrasi). Modus operandi mereka di Indonesia dapat dikenali melalui pola-pola berikut:
Jargon Persatuan Semu: Mereka sering mengadakan seminar tentang "Ukhuwah Islamiyah" dan mengeklaim menghormati sahabat. Namun, di dalam forum internal tertutup dan kurikulum pesantren mereka, kitab-kitab rujukan yang berisi instruksi melaknat Abu Bakar dan Umar tetap disucikan dan tidak pernah direvisi.
Pembunuhan Karakter Secara Halus: Melalui tulisan, media sosial, atau diskusi akademik, mereka tidak mencaci secara vulgar, melainkan menyelipkan narasi-narasi sejarah yang meragukan integritas moral sahabat tertentu (seperti Abu Hurairah r.a. atau Amr bin Ash r.a.) dengan tujuan mengikis rasa hormat pemuda Muslim terhadap generasi salaf.
Kesimpulan
Penghalalan mencela sahabat Nabi di dalam ajaran Syiah adalah noda hitam yang merusak esensi akhlak dan akidah Islam. Doktrin ini lahir dari ambisi politik sejarah yang dipaksakan menjadi rukun iman melalui konsep Imamah dan Tabarra'. Dengan meruntuhkan kredibilitas para sahabat, Syiah secara praktis sedang berusaha meruntuhkan validitas Al-Qur'an dan As-Sunnah yang dibawa oleh para sahabat tersebut.
Sebagai benteng pertahanan umat di Indonesia, kita wajib memperteguh pemahaman akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mencintai dan membela kehormatan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ adalah kewajiban iman yang tidak bisa ditawar. Menutup rapat pintu infiltrasi ajaran Syiah adalah langkah nyata untuk menjaga kemurnian agama dan menyelamatkan generasi muda Muslim dari racun kebencian sektarian yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: