Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Mengklaim Bahwa Imam Mereka Memiliki Ilmu Ghaib?

Syiahindonesia.com - Di dalam pilar akidah Islam yang murni, pengetahuan tentang urusan ghaib (ilm Al-Ghaib) merupakan hak prerogatif mutlak milik Allah SWT yang tidak dibagikan kepada makhluk-Nya, kecuali sebatas apa yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul sebagai mukjizat. Mengetahui kapan datangnya kiamat, apa yang akan terjadi esok hari, isi hati manusia, hingga takdir yang belum tertulis adalah wilayah rahasia ketuhanan (Asrariyyah) yang wajib diimani secara bulat.

Namun, di dalam bangunan teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), batas-batasan suci antara sifat ketuhanan (Rububiyah) dan sifat kemanusiaan (Basyariyyah) telah kabur secara radikal. Mereka secara berani mengklaim bahwa para Imam maksum mereka memiliki pengetahuan ghaib yang bersifat mutlak, komprehensif, dan melekat pada diri mereka sejak lahir hingga wafat. Klaim spekulatif ini sengaja dirancang demi menyokong beberapa kepentingan teologis dan politis yang menjadi urat nadi eksistensi mazhab mereka.

1. Menegakkan Doktrin Kemaksuman Mutlak (Ismah)

Alasan utama mengapa kelompok Syiah harus melekatkan sifat tahu perkara ghaib kepada para Imam mereka adalah untuk mengamankan doktrin Ismah (kemaksuman mutlak). Dalam teologi Syiah, seorang Imam diposisikan sebagai figur suci yang mustahil melakukan kesalahan kecil, lupa, keliru, maupun dosa besar sepanjang hidupnya.

Secara logika internal mereka, agar seseorang bisa menjadi pemimpin yang tidak pernah berbuat salah sedikit pun dalam memutuskan perkara dunia dan agama, maka ia harus dibekali dengan pengetahuan ghaib yang mendalam. Imam harus tahu apa yang tersembunyi di balik dinding, apa yang diniatkan oleh musuh-musuhnya, dan bagaimana dampak dari setiap keputusan hukum sebelum peristiwa itu terjadi. Jika Imam terbukti pernah lupa atau tidak tahu akan suatu hal, maka gugurlah status kemaksumannya, dan itu berarti runtuhlah seluruh fondasi sekte Syiah itu sendiri.

2. Klaim Bahwa Ilmu Imam Sempurna Tanpa Batas Waktu

Di dalam kitab hadits yang paling dianggap suci oleh kaum Syiah, yaitu kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab-bab khusus yang secara eksplisit mempromosikan pengkultusan ini. Di antaranya adalah bab yang berjudul: "Bahwasanya para Imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari mereka."

Di dalam kitab tersebut dinukil riwayat fiktif yang dicatut atas nama Imam mereka:

"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, aku mengetahui apa yang ada di surga dan apa yang ada di neraka, dan aku mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi."

Klaim ini jelas merupakan bentuk pembangkangan nyata terhadap teks suci Al-Qur'an al-Karim, di mana Allah SWT menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sekalipun—manusia paling mulia di jagat raya—tidak memiliki kuasa atas ilmu ghaib secara mandiri. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A'raf ayat 188:

قُلْلَاأَمْلِكُلِنَفْسِينَفْعًاوَلَاضَرًّاإِلَّامَاشَاءَاللَّهُۚوَلَوْكُنْتُأَعْلَمُالْغَيْبَلَاسْتَكْثَرْتُمِنَالْخَيْرِوَمَامَسَّنِيَالسُّوءُۚإِنْأَنَاإِلَّانَذِيرٌوَبَشِيرٌلِقَوْمٍيُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemaslahatan (bencana). Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman'.”

3. Pembenaran Atas Doktrin Wilayah Takwiniyyah (Kendali Kosmis)

Klaim kepemilikan ilmu ghaib juga menjadi batu loncatan bagi ulama Syiah untuk meloloskan doktrin ekstrem lainnya, yaitu Wilayah Takwiniyyah. Doktrin ini meyakini bahwa para Imam memiliki kendali ghaib atas seluruh atom dan elemen di alam semesta. Mereka diklaim mampu mengatur jalannya rotasi partikel alam, menurunkan hujan, hingga menghidupkan orang mati atas otoritas spiritual yang mereka miliki.

Untuk bisa mengendalikan alam kosmis, sang pengontrol tentu harus memiliki pengetahuan yang meliputi seluruh isi alam tersebut. Di sinilah letak penyelewengan terbesar Syiah: demi mendudukkan para Imam di atas takhta kekuasaan mistis, mereka merampas sifat-sifat khusus yang hanya milik Allah SWT lalu mengenakannya kepada makhluk yang mereka kultuskan.

4. Mitos "Kematian Atas Pilihan Sendiri"

Efek domino dari keyakinan ilmu ghaib ini melahirkan dogma aneh di kalangan pengikut Syiah, yaitu bahwa para Imam mengetahui secara persis kapan, di mana, dan dengan cara apa mereka akan wafat, serta mereka memilih sendiri waktu kematian tersebut.

Mitos ini sengaja dipelihara oleh para teolog Syiah terdahulu untuk menjawab kritik sejarah: Jika para Imam itu sakti dan tahu hal ghaib, mengapa mayoritas dari mereka tewas terbunuh atau diracun oleh musuh-musuhnya tanpa sempat menghindar?

Ulama Syiah berkelit dengan membuat dogma baru bahwa para Imam sebenarnya tahu makanan itu beracun atau tahu pasukan musuh akan membantai mereka, namun mereka sengaja memilih untuk mati demi menjalankan skenario langit. Jawaban apologetis ini justru melahirkan cacat logika baru, karena sama saja dengan menuduh para Imam melakukan tindakan bunuh diri yang diharamkan oleh syariat Islam.

Kesimpulan: Menjaga Batas Tauhid dari Bahaya Syirik Asma' wa Sifat

Klaim kelompok Syiah mengenai para Imam yang memiliki ilmu ghaib secara mutlak adalah bukti nyata bahwa sekte ini telah jatuh ke dalam kubang Ghuluw (sikap berlebihan yang melampaui batas). Mereka membungkus pengkultusan manusia dengan ornamen spiritualitas palsu, yang pada hakikatnya merusak kemurnian tauhid dalam aspek Asma' wa Sifat (Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah).

Baki kita umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia, benteng akidah kita harus dijaga dengan kokoh. Kita memuliakan para Imam dari kalangan Ahlul Bait sebagai ulama-ulama yang saleh, cerdas, dan bertakwa. Namun, kita menolak dengan tegas fiksi teologis yang menyetarakan kedudukan mereka dengan Sang Pencipta. Ilmu ghaib adalah milik Allah SWT semata, dan memindahkannya kepada manusia—siapa pun dia—adalah bentuk penyesatan akidah yang wajib diantisipasi demi keselamatan umat Islam di tanah air.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: