Breaking News
Loading...

Membongkar Kesalahan Syiah dalam Memahami Al-Qur'an

Syiahindonesia.com - Al-Qur'an al-Karim adalah firman Allah yang agung, diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas (bilsānin 'arabiyyin mubīn). Keotentikan teksnya dijamin langsung oleh Allah Swt., dan maknanya dipahami secara lurus oleh para sahabat berdasarkan bimbingan langsung dari Rasulullah SAW.

Namun, di tangan para teolog dan mullah Syiah, Al-Qur'an diperlakukan dengan metodologi yang sangat merusak. Demi memaksakan doktrin politik-keagamaan mereka—terutama konsep Imamah dan pengultusan Ahlul Bait—mereka melakukan distorsi makna secara masif.

Bagi ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, metode tafsir Syiah bukan sekadar perbedaan ijtihad, melainkan sebuah penyelewengan sistematis terhadap kalamullah. Berikut adalah beberapa kesalahan fatal dan kejanggalan metodologi Syiah dalam memahami Al-Qur'an:

1. Pemaksaan Ayat Melalui Metode "Tafsir Bathiniyyah" (Takwil Liar)

Salah satu penyimpangan paling mencolok dalam kitab-kitab tafsir induk Syiah (seperti Tafsir al-Ayyashi atau Tafsir al-Qummi) adalah adopsi metode Tafsir Bathin. Mereka mengeklaim bahwa setiap ayat Al-Qur'an memiliki makna lahir (tekstual) dan makna batin (tersembunyi) yang hanya diketahui oleh para imam mereka.

Dengan tameng "makna batin" inilah, para mullah Syiah melakukan pencocokan paksa (tathbīq) yang absurd dan menabrak kaidah bahasa Arab:

  • Ketika Al-Qur'an menyebut kata Cahaya (An-Nur), Petunjuk, atau Jalan yang Lurus, mereka selalu menakwilkannya secara mutlak sebagai "Ali bin Abi Thalib dan para Imam."

  • Sebaliknya, jika ada ayat yang mencela tentang Berhala (Al-Jibt wat-Thaghut), Kegelapan, atau Fasik, mereka secara keji menuduh bahwa yang dimaksud di batin ayat tersebut adalah para sahabat mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Metode tafsir tebak-tebakan ini membuang seluruh perangkat ilmu bahasa, asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), dan konteks kalimat, sehingga Al-Qur'an kehilangan fungsi aslinya sebagai petunjuk yang jelas bagi seluruh umat manusia.

2. Kontradiksi Akut: Antara Isu "Tahrif" dan Klaim Mengikuti Al-Qur'an

Di panggung publik atau dalam dialog persatuan (taqrib), tokoh-tokoh Syiah kontemporer sering kali mengeklaim bahwa mereka mengimani Al-Qur'an yang sama dengan kaum muslimin Sunni. Namun, klaim ini runtuh ketika kita membongkar kitab-kitab rujukan utama akidah mereka sendiri.

Dalam literatur klasik Syiah, terdapat konsensus (ijma') dari ulama-ulama besar purba mereka (seperti Al-Kulaini dalam Al-Kafi dan Al-Nuri al-Tabarsi dalam kitab khusus Fashl al-Khithab) yang menyatakan telah terjadi Tahrif (perubahan/pengurangan) pada mushaf Al-Qur'an yang ada hari ini.

Narasi khurafat mereka mengeklaim:

  • Mushaf yang asli dan lengkap diklaim berada di tangan Ali bin Abi Thalib (disebut Mushaf Ali), yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari Al-Qur'an sekarang, dan kini dibawa bersembunyi oleh Imam ke-12 di lubang gaibnya.

  • Mereka menuduh para sahabat sengaja menghapus ayat-ayat atau surat yang secara eksplisit menyebutkan nama Ali dan hak imamah keturunannya.

Ini adalah paradoks yang sangat menggelikan. Di satu sisi mereka mengaku menjadikan Al-Qur'an sebagai dalil, namun di sisi lain kitab-kitab suci mereka menuduh Al-Qur'an yang dipegang umat Islam hari ini sudah cacat dan tidak lengkap akibat manipulasi para sahabat.

3. Penyelewengan Makna Istilah "Ahlul Bait"

Kesalahan fundamental lainnya adalah pembatasan dan pengultusan istilah Ahlul Bait dalam ayat-ayat Al-Qur'an, salah satunya pada Surat Al-Ahzab ayat 33 (Ayat Tat-hir).

"...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)

Dalam pemahaman Syiah, ayat ini dijadikan dalil bahwa Ali, Fatimah, Hasan, Husein, hingga 9 keturunannya adalah sosok-sosok yang maksum (suci dari kesalahan) dan merekalah satu-satunya "Ahlul Bait" yang dimaksud.

Ulama Sunni membongkar kekeliruan ini dari dua sisi:

  • Konteks Kalimat (Siyāq al-Ayah): Jika membaca Surat Al-Ahzab dari ayat 28 hingga 34, seluruh khitab (redaksi pembicaraan) ditujukan secara langsung kepada istri-istri Nabi SAW. Maka secara urutan bahasa, istri-istri Nabi adalah pihak pertama yang masuk dalam kategori Ahlul Bait (keluarga rumah tangga) Nabi. Syiah dengan sengaja mendepak istri-istri Nabi (terutama Aisyah dan Hafshah) dari ayat ini demi dendam politik mereka.

  • Maksum vs Doa Keberkahan: Ahlussunnah tidak menafikan bahwa Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein termasuk Ahlul Bait berdasarkan hadis kain (Kisa). Namun, ayat tersebut berisi kehendak Allah untuk membersihkan mereka, bukan sertifikasi otomatis bahwa mereka menjadi manusia setengah dewa yang maksum dan wajib disembah perkataannya.

Kesimpulan

Kesalahan Syiah dalam memahami Al-Qur'an bersumber dari satu hulu: mereka menetapkan akidah/doktrin politiknya terlebih dahulu, baru kemudian mencari-cari ayat Al-Qur'an untuk dicocokkan secara paksa. Jika ayat tersebut tidak mendukung, mereka akan menggunakan takwil batin yang liar, dan jika tetap mentok, mereka akan menuduh ayat tersebut telah dikurangi oleh para sahabat.

Ahlussunnah wal Jama'ah memegang teguh prinsip bahwa Al-Qur'an harus dipahami sesuai dengan apa yang diturunkan, dipraktikkan oleh Rasulullah, dan dipahami oleh generasi awal Islam secara jujur, tanpa ada titipan agenda politik atau mitos-mitos pengultusan manusia.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: