Breaking News
Loading...

Illustrasi, anak kecil
Syiahindonesia.com - Selain memperbolehkan melakukan ghibah, lebih jauh, Syiah juga memperbolehkan untuk menuduh zina terhadap Ahlussunnah. Malah, doktrin ini terpampang jelas dalam kitab yang paling monumental bagi mereka dan dianggap berada di urutan paling atas tingkat kesahihan, yakni al-Kâfî, karya Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini:

وَ اللهِ يَا أَبَا حَمْزَةَ إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَوْلَادُ بَغَايَا مَا خَلَا شِيْعَتَنَا.

“Demi Allah wahai Abu Hamzah, sesungguhnya seluruh manusia selain Syiah kita, adalah keturunan pelacur.”[6]

Seorang pakar tafsir Syiah terkemuka, Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi, dalam tafsirnya mencantumkan redaksi yang lebih ekstrem daripada pernyataan al-Kulaini di atas. Ia berkata:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إلاَّ وَإبْلِيْسٌ مِنَ الأَبَالِسَةِ بِحَضْرَتِهِ. فَإِنْ عَلِمَ أَنَهُّ مِنْ شِيْعَتِنَا، حَجَبَهُ عَنْ ذَلِكَ الشَّيْطَانِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ شِيْعَتِنَا، أثْبَتَ الشَّيْطَانُ أصْبُعَهُ السَّبَّابَةَ فِي دُبُرِهِ، فَكَانَ مَأْبُونًا وذَلِكَ يَخْرُجُ لِلْوَجْهِ، فَإِنْ كَانَتْ إمْرَأَةً أثْبَتَ فِي فَرْجِهَا فَكَانَتْ فَاجِرَةً.

“Tidaklah setiap bayi yang dilahirkan melainkan iblis ada di dekatnya. Jika ia (iblis) tahu bahwa si bayi termasuk pengikut (Syiah) kita, maka iblis menghalanginya dari gangguan setan. Namun jika bukan dari pengikut kita, maka setan meletakkan jari telunjuknya ke dalam anus hingga keluar ke wajahnya. Maka bayi tersebut disodomi. Jika bayi yang lahir adalah perempuan, maka telunjuk setan diletakkan di dalam vaginanya, dan jadilah si bayi sebagai pelacur.”[7]

Untuk mengakhiri pembahasan dalam sub bagian ini, kiranya perlu ditekankan, bahwa pelecehan-pelecehan Syiah terhadap sahabat, Ahlussunnah dan anti-Syiah, sebetulnya tidak berangkat dari kencintaan mereka—yang melampaui batas, ghuluw—terhadap Ahlul Bait (versi mereka). Hal itu bisa dibuktikan, bahwa ternyata Syiah juga mencaci setiap Ahlul Bait yang berdakwah untuk persatuan umat Islam, atau rela (tidak mencaci) terhadap para sahabat. Motor Revolisi Iran, Ayatullah Ruhullah Khomaini, suatu ketika dalam orasinya di hari ‘Id al-Ghadir (hari raya Ghadir), justru menyalahkan Sayyidina Ali Ra. karena beliau menerima tahkîm (arbitrase) dalam perang Shiffin, dan bahwa Sayyidina Hasan Ra. juga keliru, sebab beliau mau berdamai dan menyerahkan kursi kekhalifahan kepada Sayyidina Mu’awiyah Ra.[8]

Lebih jauh, Khomaini juga menyatakan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. tidak berhasil dalam menegakkan pemerintahan Islam. Selain itu, Khomaini juga berpandangan bahwa Rasulullah saw. dan orang setelahnya tidak mampu menerapkan dan menegakan Daulah Islamiyah, dan bahwa keadilah Tuhan hingga sekarang masih belum terbukti keberadaannya.[9]

[7] Lihat, Al-‘Ayasyi, Tafsîr al-‘Ayâsyi, hlm. 218.

[8] Lihat, Wajih al-Madini, Limâdzâ kaffara ‘Ulamâ’ al-Muslimîn al-Khamaini, Kairo (1408 / 1988), hlm. 41.

[9] Ibid.

0 comments: