Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Di antara perkara-perkara yang mengagumkan bagi kebanyakan kaum muslimin, khususnya beberapa tahun belakangan ini adalah sepak terjang Hizbullah Lebanon dan pemimpinnya Hasan Nasrullah. Bahkan majalah Newsweek Amerika menjulukinya sebagai tokoh yang paling kharismatik di dunia Islam, dan tokoh yang paling berpengaruh bagi mayoritas kaum Muslimin.

Sementara para ulama dan pemikir Muslim memiliki pendapat yang bermacam-macam dan bertolak belakang dalam menilai Hizbullah dan Hasan Nashrullah sebagai pemimpinnya. Di antara mereka ada yang membelanya mati-matian sampai menggelari Hasan Nashrullah sebagai Khalifah kaum muslimin, dan tak sedikit pula yang menyerangnya habis-habisan sampai mengeluarkan Hizbullah dari Islam secara keseluruhan, dan masih puluhan pendapat lagi yang berkisar di antara dua penilaian tadi.

Lantas bagaimanakah hakekat yang sesungguhnya dalam masalah ini? Bolehkah kita berbangga dengan sepak terjang Hizbullah selama ini? Pantaskah kita menganggapnya sebagai lambang kebanggaan, ataukah kita harus peringatkan orang-orang akan bahayanya? Dan bolehkan kita mengikuti gerakan ‘bungkam mulut’ yang dianjurkan oleh banyak kaum muslimin, dengan mengatakan: “Apa perlunya mengungkit-ungkit masalah ini sekarang?”, ataukah ‘bungkam mulut’ tadi ada artinya, mengingat peristiwa yang terus berlanjut dan masalah-masalah yang makin membingungkan… dan andajuga tahu bahwa orang yang diam dari kebenaran ibarat syaithan yang bisu?!

Sebagaimana yang biasa kami lakukan dalam penulisan makalah-makalah kami sebelumnya, untuk memahami sesuatu, kita harus menelusuri asal-usulnya. Kita harus mengetahui perkembangan dan bagaimana awal berdirinya? Sebagaimana kita juga harus faham kisah pendirinya, akidahnya, cara berfikir mereka, impian mereka, target mereka dan sarana yang mereka pergunakan untuk mewujudkannya. Ketika itulah kita akan tahu banyak hal yang selama ini tersembunyi. Kita akan menggunakan akal untuk mengarahkan perasaan dan sikap kita, sebab bisikan akal akan berbeda sama sekali dengan bisikan perasaan.

BAGAIMANA AWAL KEMUNCULAN HIZBULLAH

Hizbullah mulai muncul di Lebanon. Lebanon memiliki karakteristik yang berbeda dibandingnegeri-negeri Islam lainnya.Lebanon merupakan negeri multi golongan yang aneh bentuknya, sebab dataran Lebanon dihuni oleh sekitar 18 sekte agama yang semuanya diakui. Barangkali faktor geografis Lebanon yang pegunungan menjadikannya sarang bagi berbagai aliran yang saling bertentangan. Dari sana terdapat kaum Nasrani dengan berbagai sektenya, demikian pula Syiah, Druz, dan lain sebagainya.Orang-orang Lebanon mengakui bahwa tiga golongan terbesar di Lebanon adalah kaum muslimin Ahlisunnah, Syiah Itsna Asyariah, dan Nasrani Maronis.Jauh setelah mereka barulah muncul sekte Druz yang masih dianggap sebagai kaum muslimin, walau hakikatnyatidak demikian.

Penjajah perancis yang menginvasi  Lebanon pada tahun 1920 berupaya untuk menyatukanberbagai golongan ini.Bahkan mereka juga bertujuan untuk memfokuskansebagian besar kekuasaandi tangansekutu-sekutunya dari kalangan Nashrani Maranis. Pasca kemerdekaan Lebanon tahun 1943, Undang-undang Lebanon menetapkan dan memberikan jabatan presiden kepada Nashrani Maronis, jabatan kepala pemerintahan kepada Ahlisunnah, dan jabatan ketua DPR kepada Syi’ah. Undang-undang ini belum bisa diterapkan secara praktis hingga tahun 1959 M, yaitu setelah semua pusat pemerintahan menerima ketetapan yang dikeluarkan oleh pihak Nasrani Maronis tersebut.

Karena sensitifitas multi golongan ini, akhirnya penduduk Lebanon mengabaian masalah sensus penduduk yang dapat memberi gambaran lebih rinci akanprosentase masing-masing golongan. Namun, penelitian yang paling mendekati kebenaran ialah yang mengatakan bahwa prosentaseAhlisunnah berkisar 26%, Syi’ah 26%, sedangkan Maronis 22% dan Druz 5,6%.

Tentu saja setiap golongan akanberupaya bermarkas di wilayah tertentu sebagai basis kekuatan yang mempengaruhi daerah sekitarnya. Syiah misalnya, bermarkas di wilayah selatan Lebanon dan lembah Bikaa, sedangkan Ahlisunnahbermarkas di wilayah Utara dan Tengah Lebanon, serta kota-kota pesisir seperti Beirut, Tripoli, dan Saida. Sedangkan Maronis bermarkas di Gunung Lebanon dan Beirut Timur.

Barangkali, markaz Syi’ah yang berpusat di selatan Lebanon inilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dengan pihak Yahudi dalam dekade terakhir. Jadi, konflik antara Hizbullah dengan Israel–sebagaimana yang akan kami jelaskan- bukanlah konflik karena akidah, bukan pula karena Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bukan pula demi membebaskan Palestina. Konflik ini terjadi karena wilayah-wilayah strategis yang mereka kuasai terancam hilang dan mau tak mau mereka harus mempertahankannya. Sebab jika tidak, kisah mereka akan segera tamat!! Andai saja agresi militer Yahudi ditujukan kepada wilayah-wilayah kekuasaan Ahlisunnah, dapat dipastikan Syi’ah tidak akan bergerak sejengkal pun untuk melawan.

MUSA ASH SHADR DAN KAITANNYA DENGAN KRONOLOGI KISAH INI

Kita kembali ke awal awal…
Ahlisunnah dan Syi’ah pernah hidup sangat terpinggirkan dibandingkan kaum Maronis yang mendapat sokongan dari Perancis dan masyarakat dunia. Kemudian Sunni dan Syi’ah mulai berusaha mencari jati diri dan pengakuan eksistensi mereka, terutama di akhir era lima puluhan.Di saat Ahlisunnahkehilangan pihak yang memperjuangkan nasibnya, lebih-lebih seiring dengan munculnya gerakan nasionalis-komunis yang melanda dunia Arab waktu itu; saat itulah Syi’ah mendapat nafas segar untuk tumbuh dan berkembang. Tepatnya ketika seorang tokoh Syi’ah yang sangat berkesan menginjakkan kakinya di Lebanon dengan meninggalkan bekas-bekas nyata di peta Lebanon; dialah Musa Ash Shadr, tiba di Lebanon pada tahun 1959 M.

Musa As Shadr lahir di kota Qum Iran pada tahun 1067 M. Ia mendalami madzhab Syi’ah Itsna ‘Asyariyah di kota tersbut dan menjadi dosen di Universitas Qum,mengajar mata kuliah fikih dan mantiq. Kemudian pindah ke kota Najaf, Irak, pada tahun 1954 untuk melanjutkan studinya tentang Syi’ah di tangan sejumlah rujukan tokoh Syi’ah, seperti Muhsin Al Hakiem dan Abul Qasim Al Khu’iy. Setelah itu pindah ke Lebanon pada tahun 1959 dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Musa Ash Shadr tiba di Lebanon dengan membawa dua misi penting:

Pertama: Proyek besar Syi’ah mendirikan Daulah Syi’iyah di Lebanon, yaitu kenginannya menjadikan dasar madzhab Syiah Itsna Asyriyah dengan keyakinan dan pola pikir yang sesat serta bid’ah-bid’ahnya yang menyimpang menjadi madzhab resmi negara.Dalam makalah “Ushul As Syi’ah” saya telah menjelaskan secara rinci mengenai perkembangan Syiah dan pemikiran-pemikiran yang mereka yakini, meski telah diketahui  bahwa Syi’ah di Lebanon waktu itu belum menjadi aliran keagamaan, artinya bahwa mereka hanya membawa nama ‘syi’ah’ tanpa mengetahui tabiat dan prinsip dari madzhab mereka.

Kedua: Musa As Shadr tiba di Lebanon dengan membawa danayang melimpah demi memuluskan rencananya. Wajar, sebab marja’ (tokoh rujukan) Syi’ah di seluruh dunia memiliki kekayaan yang melimpah, karena mereka mendapat pemasukan dari khumus (20%) dengan anggapan bahwa mereka adalah ahlul bait. Harta (khumus) ini diserahkan kepada marja’dan marja’ dapat menggunakannya semau mereka. Dengannya, mereka mampu mengendalikan berbagai hal karena mereka telah membentuk kekuatan ekonomi raksasa. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

0 comments: