Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Diantara sekte Syiah adalah sekte Syiah Itsna Asyariyah –meskipun sekte ini juga memiliki berbagai macam kebid’ahan- namun mereka sedikit lebih ringan bahayanya dari dua sekte sebelumnya. Mereka beriman kepada Allah, RasulNya dan hari berbangkit, akan tetapi mereka juga melakukan bid’ah-bid’ah besar dan kemungkaran-kemungkaran yang buruk, bahkan seruan ajaran mereka sampai kepada sebagian keluarga-keluarga besar di kota Persia dan Iraq, dampaknya adalah keberhasilan mereka menguasai pemerintahan di berbagai wilayah.

Mereka juga berhasil merekrut dan mensyi’ahkan keluarga besar Bani Saman yang merupakan asli keturunan Persia. Keluarga Bani Saman telah menguasai sebagian besar negeri Persia (Iran sekarang) dan berkuasa dari tahun 261 H – 389 H, namun daulah ini baru nampak dipermulaan abad keempat Hijriyah.

Sekte ini juga berhasil merekrut keluarga besar Bani Hamdan, yang berasal dari keturunan bangsa Arab dari kabilah Bani Taghlib. Bani Hamdan berkuasa di wilayah Maushul Iraq dari tahun 317 – 369 H, bahkan kekuasannya sampai ke Aleppo dari tahun 333 – 392 H. 

Yang paling berbahaya adalah keberhasilan mereka merekrut keluarga Bani Bawaih, yang merupakan keturunan Persia asli. Kemudian mereka merumuskan berdirinya daulah di wilayah Persia. Pada tahun 334 H, mereka berupaya menduduki kekhalifahan Bani Abasiyah, dengan tetap membiarkan khalifah tinggal di pusat kotanya agar tidak memicu pemberontakan kaum Muslimin ahlisunnah kepada mereka. Selama lebih dari seratus tahun penuh, mereka berhasil menguasai khilafah Abasiyah (sejak tahun 334 hingga 447 H) hingga muncullah dinasti Saljuk yang beraliran sunni menyelamatkan Iraq dari kekuasaan Syi’ah. Dalam rentang waktu itu, kaum Syiah menampakkan dendam mereka terhadap ulama-ulama Ahlisunnah dan khalifahnya. Mereka menulis cercaan terhadap para sahabat di pintu-pintu masjid dan terang-terangan mencela Abu Bakar dan Umar di khutbah-khutbah mereka, inilah periode yang sangat kelam dalam sejarah umat Islam.

Demikianlah, kita melihat bahwa abad keempat Hijriyah memang murni periode sekte Syi’ah. Sungguh, Al Buwahiyun telah menguasai bagian wilayah Iran dan semua wilayah Iraq. As Samaniyun menguasai bagian timur wilayah Iran, sebagian wilayah Afghanistam dan wilayah timur dunia Islam. Hamdaniyun menguasai sebagian wilayah Moshul dan Aleppo. Sekte Syiah Qaramithah menguasai wilayah timur Jazirah Arab, bahkan sampai ke wilayah Hijaz, Damaskus dan Yaman. Daulah Ubaidiyah (yang secara dusta menisbatkan kepada Al Fathimiyah) telah menguasai semua negeri Islam di wilayah Afrika, bahkan sampai wilayah Palestina, Suriah dan Lebanon.

Di akhir abad keempat Hijriyah, kekuasaan daulah Qaramithah mulai tumbang. Pada pertengahan abad kelima, daulah Bani Buwaih (447 H) juga tumbang, Sedangkan daulah Isma’iliyah Ubaidiyun masih eksis hingga pertengahan abad keenam Hijriyah (567 H), maka negeri-negeri Islam sunni mulai kembali mendapatkan kekuasaan di seluruh wilayah, meskipun ajaran sekte Syiah Itsna Asyariyah masih tetap ada di wilayah Persia dan sebagian wilayah Iraq, namun mereka tidak memiliki kekuasaan.

Kondisi tetap seperti itu hingga tahun 904 Hijriyah (permulaan abad ke sepuluh Hijriyah) sampai Isma’il Ash Shafawi merumuskan untuk mendirikan daulah Syiah As Shafawiyah Itsna Asyariyah di Iran (Shafawiyah adalah nisbat kepada leluhurnya Shafiyuddin Al Ardabili, dari keturunan Persia wafat tahun 729 H). Daulah ini semakin memperluas wilayahnya dan menjadikan Tibriz sebagai ibukotanya, dan terlibat perang sengit dengan tetangganya yaitu Daulah Utsmaniyah yang bermadzhab Ahlisunnah.

Daulah As Shafawiyah bersekongkol dengan Portugis untuk memerangi daulah Utsmaniyah dan berhasil menduduki sejumlah wilayah Iraq yang semula dikuasai Daulah Utsmaniyah. Mereka hampir berhasil menyebarkan faham Syi’ah di sana, sekiranya Sultan Saliem I tidak berhasil mengalahkan mereka dalam sebuah pertempuran besar yang masyhur dalam sejarah dengan Perang Jaldeiran tahun 920 H. Akhirnya Sultan Saliem I berhasil memukul telak mereka dan mengusir mereka dari Irak.
Hari-hari terus berlalu dan perseteruan masih berlanjut antara Shafawiyyin dan Utsmaniyyin. Sebagian besar peperagan terpusat di wilayah Irak, bahkan peperangan ini berlanjut selama lebih dari dua abad. Daulah Shafawiyah berkuasa di Iran sejak tahun 907-1148 H, kemudian jatuh pada pertengahan abad ke18 masehi, tepatnya tahun 1735 M. Karena itu, Iran terpecah menjadi beberapa wilayah yang diperebutkan antara Turki Utsmani, Rusia, Afghanistan dan beberapa panglima perang bawahan Sultan Abbas III, yang merupakan Sultan terakhir daulah Shafawiyah.

Daulah Utsmaniyah mulai memasuki masa lemahnya dan dikerumuni oleh bangsa Eropa dan Rusia. Akibatnya, kekuasaan Utsmani terhadap wilayah barat Iran mulai melemah. Wilayah ini silih berganti dikuasai oleh banyak pemimpin, akan tetapi mereka selalu loyal kepada para penguasa Barat. Sesekali mereka loyal kepada Inggris (yang menguasai wilayah dekat India dan Pakistan) dan sesekali loyal kepada Perancis, dan sesekali loyal kepada Rusia. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Baca juga: Sejarah Syiah Itsna 'Asyariyah Bag. 2

0 comments: