Breaking News
Loading...

Penyelewengan Makna Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Syiah

Syiahindonesia.com - Konsep amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Islam yang berfungsi menjaga kemurnian akidah, kelurusan ibadah, serta ketertiban sosial umat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar. Namun dalam praktik dan doktrin Syiah, konsep agung ini mengalami penyelewengan makna dan fungsi, karena diarahkan bukan untuk menegakkan kebenaran syariat secara menyeluruh, melainkan untuk membenarkan agenda ideologis tertentu, terutama doktrin imamah dan loyalitas mutlak kepada imam-imam versi mereka. Akibatnya, amar ma’ruf nahi munkar tidak lagi menjadi instrumen perbaikan umat, tetapi berubah menjadi alat legitimasi konflik, propaganda, dan pembenaran sikap ekstrem terhadap sejarah serta tokoh-tokoh utama Islam.

Makna Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Islam yang Sahih

Dalam Islam, amar ma’ruf nahi munkar bermakna mengajak kepada segala bentuk kebaikan yang diakui oleh syariat dan mencegah segala bentuk keburukan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Ayat ini menegaskan bahwa standar ma’ruf dan munkar ditentukan oleh wahyu, bukan oleh hawa nafsu, sentimen politik, atau kepentingan kelompok tertentu. Rasulullah ﷺ pun menjelaskan prinsipnya dengan tegas:

مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan ilmu, hikmah, dan sesuai kemampuan, bukan dengan provokasi atau kekerasan ideologis.

Distorsi Konsep dalam Doktrin Syiah

Dalam Syiah, amar ma’ruf nahi munkar sering ditarik keluar dari koridor syariat yang universal dan dijadikan alat untuk membenarkan sikap permusuhan terhadap mayoritas sahabat Nabi ﷺ dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kebaikan (ma’ruf) didefinisikan sempit sebagai loyalitas total kepada imam-imam Syiah, sementara kemungkaran (munkar) dipersepsikan sebagai segala bentuk sikap yang tidak sejalan dengan doktrin imamah. Dengan definisi seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar kehilangan objektivitas syar’inya dan berubah menjadi instrumen ideologis.

Penyelewengan ini tampak jelas ketika celaan, tuduhan, dan penghinaan terhadap para sahabat Nabi ﷺ dibungkus dengan dalih nahi munkar. Padahal, Islam secara tegas melarang mencela sahabat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengatasnamakan nahi munkar untuk menabrak larangan Nabi ﷺ merupakan kontradiksi serius yang menunjukkan adanya penyimpangan metodologis dalam memahami agama.

Amar Ma’ruf sebagai Alat Propaganda dan Mobilisasi

Dalam sejarah dan praktik kontemporer, Syiah sering menggunakan slogan amar ma’ruf nahi munkar untuk memobilisasi massa, membenarkan aksi-aksi provokatif, bahkan melegitimasi kekerasan simbolik maupun naratif terhadap pihak yang berbeda. Konsep ini tidak lagi difungsikan sebagai sarana perbaikan akhlak dan ibadah, melainkan sebagai alat propaganda politik dan sektarian. Akibatnya, esensi dakwah yang seharusnya lembut, bijaksana, dan mengedepankan persatuan umat berubah menjadi sarana polarisasi.

Padahal Allah Ta’ala memerintahkan dakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menegaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh dipisahkan dari adab, ilmu, dan tujuan menjaga kemaslahatan umat.

Dampak Penyelewengan terhadap Persatuan Umat

Penyelewengan makna amar ma’ruf nahi munkar dalam Syiah berdampak langsung pada rusaknya persatuan umat Islam. Ketika perbedaan pendapat dan ijtihad diperlakukan sebagai kemungkaran yang harus “dilawan”, maka ruang dialog ilmiah tertutup dan digantikan oleh sikap saling mencurigai. Umat Islam pun terpecah, bukan karena perbedaan itu sendiri, tetapi karena cara menyikapinya yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ dan para sahabat.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami bahwa amar ma’ruf nahi munkar harus berjalan seiring dengan prinsip jama’ah, menjaga persatuan, dan menghindari fitnah yang lebih besar. Kaidah fiqh menyatakan bahwa mencegah kerusakan yang lebih besar didahulukan daripada menarik kemaslahatan yang kecil, sebuah prinsip yang sering diabaikan dalam praktik sektarian.

Pentingnya Meluruskan Pemahaman di Indonesia

Di Indonesia, penyelewengan konsep amar ma’ruf nahi munkar oleh Syiah kerap dikemas dalam bahasa aktivisme moral dan keadilan sosial, sehingga tampak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Namun tanpa pemahaman yang lurus, umat—khususnya generasi muda—dapat terjebak pada narasi yang secara perlahan menggeser standar kebenaran dari Al-Qur’an dan Sunnah kepada loyalitas ideologis. Oleh karena itu, penguatan pendidikan akidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi sangat krusial agar umat mampu membedakan antara dakwah yang tulus dan propaganda yang menyimpang.

Penutup

Penyelewengan makna amar ma’ruf nahi munkar dalam Syiah merupakan persoalan serius yang tidak boleh dipandang remeh, karena menyentuh inti ajaran Islam tentang dakwah, akhlak, dan persatuan umat. Ketika konsep ini diselewengkan untuk membenarkan agenda ideologis dan sektarian, maka tujuan mulia amar ma’ruf nahi munkar justru terkhianati. Jalan yang benar adalah kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, agar amar ma’ruf nahi munkar tetap menjadi cahaya perbaikan, bukan alat perpecahan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: