Syiahindonesia.com - Dalam tatanan keilmuan Islam, para ulama memegang peranan yang sangat sentral. Merekalah para pewaris nabi (warasatul anbiya') yang bertugas menjaga, memelihara, dan mentransmisikan ajaran Islam dari generasi ke generasi. Mulai dari Kodifikasi Al-Qur'an, penyusunan kitab-kitab hadits, perumusan metodologi hukum Islam (usul al-fiqh), hingga sejarah peradaban Islam—semuanya dibangun di atas dedikasi dan keilmuan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Namun, di dalam teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), terdapat sikap penolakan dan pengingkaran sistematis terhadap khazanah keilmuan yang diwariskan oleh ulama Ahlus Sunnah. Sikap ini bukan sekadar perbedaan madzhab atau variasi pendapat fikih, melainkan pembatalan total (invalidation) terhadap otentisitas Sanad keilmuan Islam yang berada di luar koridor para Imam dan ulama Syiah.
Berikut adalah pemaparan mendalam dan komprehensif mengenai bentuk-bentuk pengingkaran, motif teologis, serta dampak berbahaya dari penolakan kelompok Syiah terhadap peran ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah:
1. Penolakan Sistem Sanad dan Kodifikasi Hadits Ahlus Sunnah
Kesalahan mendasar dalam metodologi Syiah adalah penolakan mereka terhadap seluruh kitab rujukan hadits utama (Kutubus Sittah) yang disusun oleh imam-imam hadits Ahlus Sunnah seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibn Majah.
Bentuk Pengingkaran:
Gugurnya Kredibilitas Perawi: Karena Syiah menjatuhkan vonis murtad dan fasik kepada mayoritas Sahabat Nabi serta para Tabi'in yang memihak kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka secara otomatis seluruh perawi hadits yang meriwayatkan jalur keilmuan mereka dianggap gugur kredibilitasnya (matruk / ditolak).
Isolasi Keilmuan: Syiah menolak hadits-hadits sahih yang menjadi fondasi syariat Islam hanya karena perawinya adalah ulama Ahlus Sunnah. Sebaliknya, mereka membatasi sumber hukum hanya pada kitab-kitab internal mereka (Kutubul Arba'ah) seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, yang dipenuhi riwayat-riwayat bermasalah dan tanpa metode penelitian sanad (rijal) yang objektif.
2. Pengecilkan dan Pembatalan Peran Empat Imam Madzhab Fikih
Dalam bidang fikih dan hukum Islam, dunia Islam mengenal empat pilar Imam Madzhab utama: Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Bentuk Pengingkaran:
Kelompok Syiah menganggap pemikiran dan metodologi ijtihad keempat Imam Madzhab tersebut sebagai bentuk kesesatan dan penggunaan ra'yu (akal-akalan) yang tidak sah.
Imam Abu Hanifah sering kali mendapat sorotan tajam dan celaan dalam literatur Syiah karena dianggap mendahulukan qiyas daripada riwayat para Imam Ahlul Bait.
Syiah menegaskan bahwa hanya Madzhab Ja'fari (yang diklaim dinisbatkan kepada Imam Ja'far Ash-Shadiq) yang sah untuk diikuti, sementara ijtihad jutaan ulama Ahlus Sunnah sepanjang abad dianggap tidak berharga secara teologis.
3. Pengabaian Jasa Ulama Ahlus Sunnah dalam Kodifikasi dan Penjagaan Al-Qur'an
Al-Qur'an yang berada di tangan seluruh umat Islam hari ini dihimpun, ditransmisikan, dan dijaga oleh figur-figur ulama Ahlus Sunnah dari masa ke masa.
Bentuk Pengingkaran:
Generasi Sahabat: Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan penyatuan Mushaf Utsmani pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA sering kali dicurigai atau bahkan dituduh oleh sebagian ideolog Syiah sebagai proses yang tidak murni.
Ahli Qira'at dan Mufassir: Ulama-ulama pakar Al-Qur'an dan tafsir legendaris seperti Imam At-Thabari, Ibn Kathir, Al-Qurthubi, serta para Imam Qira'at Asy'arah (sepuluh bacaan Al-Qur'an) diabaikan oleh Syiah. Mereka lebih memilih rujukan tafsir batiniah (esoteris) yang mengaitkan hampir setiap ayat dengan doktrin Wilayah dan Imamah.
4. Motif Teologis di Balik Pengingkaran
Mengapa Syiah begitu gigih menolak dan mengabaikan peran ulama Ahlus Sunnah? Ada dua alasan teologis utama:
Doktrin Ismah (Kamaksuman Imam): Dalam ajaran Syiah, ilmu agama hanya boleh diambil dari sosok yang maksum (terbebas dari dosa dan salah), yaitu 12 Imam mereka. Karena ulama Ahlus Sunnah adalah manusia biasa yang tidak maksum, maka seluruh karya, ijtihad, dan fatwa mereka dianggap tidak memiliki otoritas keagamaan sama sekali.
Keterikatan dengan Tawalla dan Tabarra: Teologi Syiah mewajibkan penganutnya untuk Tawalla (setia kepada para Imam Syiah) dan Tabarra (berlepas diri serta membenci siapa saja yang dianggap memusuhi atau berseberangan dengan para Imam). Karena ulama Ahlus Sunnah mengakui keabsahan Khulafaur Rasyidin, maka para ulama tersebut dicap sebagai pengikut penguasa zalim (Nawasib atau Ammhah).
5. Dampak Bahaya bagi Keutuhan Umat Islam
Pengingkaran Syiah terhadap peran ulama Ahlus Sunnah membawa implikasi yang sangat destruktif bagi tatanan keislaman:
Mencabut Umat dari Akar Sejarahnya: Dengan menolak ulama Ahlus Sunnah, Syiah secara tidak langsung mengajak Umat Islam untuk membuang 14 abad sejarah kejayaan peradaban, ilmu pengetahuan, dan transmisi hukum Islam.
Membangun Tembok Sektarianisme: Penolakan terhadap otoritas keilmuan mayoritas Umat Islam menciptakan jurang pemisah yang amat dalam, sehingga mustahil terjadi penyatuan hakiki (taqrib) selama doktrin pembatalan keilmuan Ahlus Sunnah ini terus dipelihara.
Meruntuhkan Kepercayaan Terhadap Khazanah Islam: Jika ribuan ulama hadits, fikih, tafsir, dan sejarah Ahlus Sunnah dianggap salah dan sesat, maka narasi yang tersisa hanyalah narasi skeptisisme yang merusak kepercayaan generasi muda terhadap keutuhan syariat Islam.
Kesimpulan
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah benteng pertahanan akidah dan syariat Islam. Pengingkaran dan pelecehan yang dilakukan oleh kelompok Syiah terhadap peran serta karya para ulama tersebut merupakan upaya terselubung untuk memutus hubungan Umat Islam dari sumber ajaran yang otentik.
Bagi kaum Muslimin di Indonesia, menghormati, mempelajari, serta mempertahankan warisan keilmuan para ulama Ahlus Sunnah—mulai dari para Sahabat, Tabi'in, Empat Imam Madzhab, hingga ulama Nusantara—adalah benteng utama dalam memelihara kemurnian akidah dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari infiltrasi paham sektarian yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: