Syiahindonesia.com - Al-Qur'an al-Karim diturunkan oleh Allah SWT dengan kesucian bahasa, susunan kalimat yang sempurna, serta konteks sejarah (Asbabul Nuzul) yang saling berkaitan. Untuk memahami makna suatu ayat secara benar, para mufassir dan ulama Islam selalu mengaitkan ayat tersebut dengan konteks turunnya, kaidah bahasa Arab, serta ayat-ayat sebelum dan sesudahnya (siyaq al-ayah).
Namun, dalam teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), salah satu ayat Al-Qur'an yang paling sering dipelintir untuk melegitimasi doktrin Wilayah (kepemimpinan mutlak Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA) adalah Surah Al-Ma'idah ayat 67, yang dikenal sebagai Ayat Tabligh. Kelompok Syiah menjadikan ayat ini sebagai dalil utama klaim bahwa Rasulullah SAW diperintahkan secara mutlak untuk melantik Sayyidina Ali sebagai Khalifah pertama.
Berikut adalah pendedahan komprehensif mengenai bentuk pemahaman keliru kelompok Syiah terhadap Ayat Tabligh beserta bantahan ilmiah berlandaskan Al-Qur'an, Hadits, dan kaidah tafsir yang shahih:
1. Teks Ayat Tabligh dan Klaim Narasi Syiah
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 67:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al-Ma'idah: 67).
Klaim dan Penafsiran Syiah: Para mufassir dan ideolog Syiah (seperti dalam Tafsir al-Qummi dan Tafsir al-Ayyashi) mengklaim bahwa ayat ini turun menjelang akhir hayat Rasulullah SAW di Ghadir Khum. Mereka mengeklaim bahwa perintah "baligh ma unzila ilaika" (sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu) dalam ayat ini merujuk secara khusus pada kewajiban melantik Ali bin Abi Thalib RA sebagai pimpinan mutlak (Imam) Umat Islam. Mereka bahkan menuduh bahwa jika Nabi SAW tidak menyampaikan pelantikan Ali ini, maka seluruh risalah kenabian dianggap gagal total.
2. Bantahan Ilmiah dan Pembongkaran Kesalahan Penafsiran Syiah
a. Pelanggaran Terhadap Konteks Ayat (Siyaq al-Ayah)
Salah satu kaidah utama dalam tafsir Al-Qur'an adalah memperhatikan susunan ayat sebelum dan sesudahnya. Surah Al-Ma'idah ayat 67 berada di tengah-tengah pembahasan mengenai Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), bukan tentang kepemimpinan politik di internal kaum Muslimin.
Ayat 65-66 (Sebelumnya): Membahas tentang Ahli Kitab, janji Allah jika mereka beriman, serta perintah agar mereka mendirikan Taurat dan Injil.
Ayat 67 (Ayat Tabligh): Perintah kepada Nabi SAW untuk menyampaikan seluruh risalah Islam tanpa takut kepada gangguan manusia (khususnya penolakan dari Ahli Kitab dan musyrikin).
Ayat 68 (Setelahnya): Berbunyi: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu'..."
Memutus ayat 67 dari rangkaian pembicaraan mengenai Ahli Kitab lalu memaksakannya menjadi ayat tentang "pelantikan kekhalifahan Ali" adalah bentuk pemelintiran konteks Al-Qur'an (at-tahrif al-ma'nawi) yang sangat nyata.
b. Menuduh Rasulullah SAW Menyembunyikan Wahyu
Narasi Syiah yang mengeklaim bahwa Nabi SAW sempat ragu atau takut menyampaikan masalah kepemimpinan Ali hingga perlu "diancam" oleh Allah melalui ayat ini secara tidak langsung menuduh Rasulullah SAW memiliki sifat penakut atau menyembunyikan wahyu.
Padahal, Rasulullah SAW adalah sosok yang paling pemberani dan Al-Amin (terpercaya). Beliau telah menyampaikan seluruh isi Al-Qur'an dan hukum Islam sejak di Makkah—termasuk ayat-ayat yang menentang tradisi nenek moyang Quraisy—tanpa ada satu huruf pun yang disembunyikan. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha secara tegas menyatakan:
"Barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan Allah kepadanya, sungguh ia telah melakukan kebohongan yang besar terhadap Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
c. Makna * Perlindungan Allah* ('Ishmatun Nas)
Frasa "Wallahu ya'shimuka minan naas" (Dan Allah memelihara engkau dari gangguan manusia) turun di Makkah/Madinah awal ketika Rasulullah SAW sering dijaga oleh para Sahabat dari ancaman pembunuhan kaum Musyrikin dan Yahudi. Setelah ayat ini turun, Rasulullah SAW melarang para Sahabat untuk terus mengawal beliau secara fisik karena Allah telah menjamin keselamatan jiwanya dari pembunuhan musuh-musuh Islam hingga tugas risalah selesai.
Ayat ini sama sekali tidak berkaitan dengan ketakutan terhadap para Sahabat Nabi sendiri (sebagaimana persangkaan buruk Syiah bahwa Nabi takut kepada para Sahabat di Ghadir Khum).
d. Pengagungan Masalah Imamah yang Melebihi Syariat Utama
Dalam konstruksi teologi Syiah, jika perintah dalam Ayat Tabligh ini ditafsirkan sebagai Wilayah Ali, berarti keberadaan hak kepemimpinan Ali dianggap lebih menentukan daripada pilar-pilar utama Islam seperti Tauhid, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Menganggap penyerahan kekuasaan politik kepada satu individu sebagai penentu sah atau tidaknya seluruh risalah kenabian adalah bentuk kerancuan berpikir yang tidak memiliki pijakan dalam Al-Qur'an.
Kesimpulan
Penafsiran kelompok Syiah terhadap Surah Al-Ma'idah ayat 67 (Ayat Tabligh) merupakan contoh nyata dari metodologi tafsir sektarian: menetapkan doktrin politik terlebih dahulu, lalu mencabut ayat Al-Qur'an dari konteksnya demi membenarkan doktrin tersebut.
Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ayat Tabligh adalah penegasan agung tentang kesempurnaan Rasulullah SAW dalam menyampaikan seluruh risalah Allah kepada seluruh umat manusia tanpa ada yang tersembunyi. Memahami Al-Qur'an sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan penafsiran para Sahabat serta ulama Salafus Shalih adalah kunci utama untuk menjaga kemurnian pemahaman Kitab Suci dari pemelintiran paham-paham menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: