Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahannya dalam Menggunakan Dalil Al-Qur'an

Syiahindonesia.com - Al-Qur'an al-Karim adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk (huda), pembeda antara yang hak dan yang batil (furqan), serta pedoman hidup utama bagi seluruh kaum Muslimin. Dalam tradisi keilmuan Islam, memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an memiliki tata cara, standar kaidah kebahasaan, serta metodologi yang sangat ketat (usul at-tafsir). Seseorang tidak diperbolehkan secara seenaknya memotong, memelintir, atau memaksakan makna suatu ayat demi membela prasangka politik maupun doktrin kelompoknya.

Namun, dalam teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), penggunaan Al-Qur'an sebagai dalil mengalami deviasi dan metodologi penafsiran yang sangat menyimpang. Demi melegitimasi doktrin-doktrin sentral mereka—seperti Wilayah (kepemimpinan mutlak 12 Imam), Raj'ah (kebangkitan kembali para Imam sebelum Kiamat), hingga Taqiyyah—para mufassir dan ulama Syiah melakukan berbagai pemelintiran tekstual maupun kontekstual terhadap Al-Qur'an.

Berikut adalah pendedahan komprehensif mengenai bentuk-bentuk kesalahan dan penyimpangan kelompok Syiah dalam menggunakan serta mempraktikkan pendalilan (istidlal) dari ayat-ayat Al-Qur'an:

1. Membuang Asbabul Nuzul dan Konteks Historis Ayat

Kesalahan paling mendasar dalam metodologi tafsir Syiah adalah kebiasaan mencabut ayat-ayat Al-Qur'an dari akar sejarahnya (Asbabul Nuzul) lalu memaksakan ayat tersebut untuk berbicara tentang para Imam Syiah.

Bentuk Penyimpangan: Setiap kali menemukan kata-kata mulia dalam Al-Qur'an seperti "Al-Imam" (Pemimpin), "Al-Haqq" (Kebenaran), "Al-Nur" (Cahaya), atau "Al-Sirat al-Mustaqim" (Jalan yang Lurus), para mufassir Syiah hampir selalu menafsirkannya secara spesifik sebagai Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA atau para Imam Syiah lainnya.

Sebagai contoh, firman Allah SWT dalam Surah Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6).

Dalam beberapa kitab tafsir rujukan Syiah (seperti Tafsir al-Qummi dan Tafsir al-Ayyashi), frasa "Al-Sirat al-Mustaqim" ditafsirkan secara tunggal bahwa jalan yang lurus itu adalah "Mengenal dan Mengikuti Wilayah Ali bin Abi Thalib".

Bantahan Ilmiah: Membatasi makna umum Al-Qur'an menjadi isu sektarian tunggal tanpa dukungan indikasi (qarinah) bahasa maupun riwayat sahih dari Rasulullah SAW adalah bentuk manipulasi teks. "Al-Sirat al-Mustaqim" dalam bahasa Arab dan konteks Al-Qur'an bermakna Islam, Al-Qur'an, dan jalan hidup yang diridhai Allah SWT untuk seluruh manusia, bukan monopoli doktrin politik satu kelompok.

2. Penggunaan Tafsir Batin yang Ekstrem dan Mengada-ada (At-Tafsir al-Bathini)

Untuk menutupi kenyataan bahwa nama-nama 12 Imam dan doktrin Wilayah tidak pernah tertulis dalam Al-Qur'an, ulama-ulama Syiah menciptakan mekanisme penafsiran esoteris atau tafsir batin yang liar. Mereka mengeklaim bahwa Al-Qur'an memiliki makna zahir (kulit luar) dan makna batin (isi dalam yang hanya diketahui oleh para Imam mereka).

Bentuk Penyimpangan: Dengan metodologi batiniah ini, kata-kata yang dalam Al-Qur'an secara jelas merujuk pada benda alam atau ibadah diubah maknanya secara drastis:

  • Kata "Matahari" (Asy-Syams) ditafsirkan sebagai Rasulullah SAW.

  • Kata "Bulan" (Al-Qamar) ditafsirkan sebagai Sayyidina Ali RA.

  • Kata "Malam" (Al-Lail) ditafsirkan sebagai para Musuh Syiah (Khulafaur Rasyidin).

  • Kata "Pohon yang Terkutuk" (Asy-Syarajah al-Mal'unah) ditafsirkan sebagai Bani Umayyah atau Sahabat Nabi.

Bantahan Ilmiah: Metode tafsir batiniah ini merusak tatanan bahasa Arab dan meruntuhkan fungsi Al-Qur'an sebagai penjelas (Bayan). Jika setiap kata dalam Al-Qur'an bebas ditafsirkan keluar dari makna bahasanya tanpa aturan (Dhawabit), maka siapapun bisa memutarbalikkan isi Al-Qur'an sesuai selera dan hawa nafsunya. Para ulama Ahlus Sunnah menyepakati bahwa tafsir batin yang membatalkan makna zahir bahasa Arab adalah penafsiran yang batil dan tergolong sebagai penyesatan (at-tahrif al-ma'nawi).

3. Memelintiran Ayat-Ayat Umum Menjadi Khusus (Takhsis Tanpa Dalil)

Syiah sering kali mengambil ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang janji Allah kepada seluruh orang beriman (al-mukminun), lalu secara sepihak membatasi (takhsis) bahwa janji tersebut hanya berlaku bagi orang yang meyakini kepemimpinan 12 Imam Syiah.

Bentuk Penyimpangan: Firman Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 55:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakannya amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi..." (QS. An-Nur: 55).

Mufassir Syiah mengklaim bahwa ayat ini diturunkan khusus untuk Imam Mahdi Syiah dan para pengikutnya yang akan bangkit berkuasa di akhir zaman, serta menolak bahwa kekhalifahan yang dimaksud telah diwujudkan oleh Allah SWT melalui era kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum.

Bantahan Ilmiah: Khithab (sasaran pembicaraan) dalam ayat tersebut menggunakan lafaz jamak "Alladzina aamanu minkum" yang ditujukan langsung kepada para Sahabat Nabi yang hidup bersama Rasulullah SAW di Madinah saat ayat itu turun. Merekalah generasi pertama yang terbukti secara faktual diberikan kekuasaan dan kemakmuran oleh Allah di muka bumi (al-istikhlaf fi al-ardh) melalui penaklukan wilayah-wilayah besar dunia.

4. Tuduhan Adanya Penyuntingan Teks Al-Qur'an (Tahrif al-Lafzi)

Puncak dari kegagalan Syiah dalam menemukan dalil Wilayah yang eksplisit dalam Al-Qur'an adalah munculnya teori bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini telah dikurangi dan diubah oleh para Sahabat Nabi.

Bentuk Penyimpangan: Dalam kitab-kitab induk Syiah seperti Fashl al-Khitab fi Tahrifi Kitabi Rabb al-Arbab karya Al-Nuri Al-Thabarsi, terkumpul ribuan riwayat Syiah yang menuduh bahwa nama "Ali" dan kata "Wilayah" awalnya ada di ribuan ayat Al-Qur'an, namun sengaja dihapus oleh para Sahabat setelah Rasulullah SAW wafat.

Bantahan Ilmiah: Meyakini adanya perubahan, pengurangan, atau penyuntingan pada teks Al-Qur'an adalah kekufuran yang nyata karena secara langsung mendustakan janji pemeliharaan Allah SWT:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).

Al-Qur'an yang dibaca oleh kaum Muslimin di seluruh dunia hari ini adalah Kitab Suci yang sama persis sebagaimana yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW dan dihimpun oleh para Sahabat RA, tanpa berkurang atau bertambah satu huruf pun.

Kesimpulan

Kesalahan dan penyimpangan kelompok Syiah dalam berdalil dengan Al-Qur'an bersumber dari satu akar masalah: mereka menetapkan doktrin politik lebih dulu, baru kemudian mencari-cari dan memaksakan ayat Al-Qur'an agar sesuai dengan doktrin tersebut. Seharusnya, seorang Muslim yang jujur menjadikan Al-Qur'an sebagai pemimpin (imam) yang membimbing pemikirannya, bukan menjadikan ideologinya sebagai pemimpin yang menyetir makna Al-Qur'an.

Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, mempelajari kaidah tafsir yang benar dan membentengi diri dari metodologi pemelintiran Al-Qur'an versi Syiah adalah kewajiban yang mendesak. Memelihara pemahaman Al-Qur'an sesuai dengan pembacaan para Sahabat dan ulama salaf adalah jaminan keselamatan akidah dan kunci persatuan Umat Islam di Tanah Air.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: