Breaking News
Loading...

Syiah dan Konsep Bid'ah yang Berlebihan

Syiahindonesia.com - Pemahaman terhadap ajaran Islam yang murni menuntut setiap Muslim untuk bersikap waspada terhadap berbagai bentuk deviasi dan penyimpangan akidah yang dapat mengikis keautentikan sunnah Rasulullah SAW. Dalam konteks dinamika pemikiran Islam di Indonesia, ancaman penetrasi ajaran Syiah menjadi salah satu isu krusial yang memerlukan kecermatan kritis. Salah satu fondasi utama yang mendasari berbagai penyimpangan dalam tradisi Syiah adalah konstruksi dan penerapannya terhadap konsep bid'ah yang cenderung berlebihan serta manipulatif. Memahami bagaimana kelompok Syiah memformulasi, mengubah, dan mempraktikkan konsep bid'ah menjadi langkah krusial untuk membentengi umat dari doktrin-doktrin yang berseberangan dengan prinsip mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja).

Konsep bid'ah dalam terminologi Islam menduduki posisi mendasar karena berkaitan langsung dengan keabsahan suatu ibadah dan pemeliharaan kemurnian syariat. Secara kebahasaan dan syar'i, bid'ah merujuk pada segala bentuk rekayasa atau penambahan dalam urusan agama yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an, Sunnah, maupun contoh para Sahabat. Namun, dalam doktrinasi Syiah, pengertian ini kerap diputarbalikkan. Mereka menciptakan amalan-amalan baru yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, lalu melegitimasinga dengan alasan kecintaan kepada Ahlul Bait. Di sisi lain, amalan-amalan shahih yang bersumber dari Sunnah justru dituduh sebagai bid'ah oleh mereka. Ketidakseimbangan metodologis inilah yang perlu dikaji secara mendalam agar masyarakat tidak terjebak dalam perangkap pemikiran yang mengaburkan batas antara kebenaran dan kesesatan.

Pengertian Bid'ah dalam Perspektif Islam dan Penyimpangan Syiah

Secara fundamental, Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas mengenai bahaya bid'ah dalam agama. Dalam banyak riwayat shahih, beliau menegaskan pentingnya memegang teguh Sunnah dan menjauhi segala bentuk perkara baru yang diada-adakan dalam urusan ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada asal-usulnya, maka perkara tersebut tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa setiap penambahan atau pengubahan dalam syariat yang tidak berdasar pada dalil yang shahih adalah batil. Ahlus Sunnah wal Jama'ah memegang teguh prinsip ini dengan menjadikan Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, serta kesepakatan para Sahabat (Ijma') sebagai tolok ukur utama dalam menilai suatu perkara agama.

Namun, dalam tradisi pemikiran Syiah, konsep peribadatan dan ajaran mengalami distorsi yang masif. Kelompok Syiah cenderung melonggarkan kriteria bid'ah demi mengakomodasi ritual-ritual baru yang diciptakan oleh para ulama mereka. Selama suatu ritual ditujukan untuk mengagungkan para Imam Dua Belas (A-immah Al-Atsna 'Asyar), ritual tersebut akan dianggap sah, bahkan dikategorikan sebagai amalan utama, meskipun secara tegas bertentangan dengan ajaran Islam yang murni. Pendekatan selektif dan subyektif ini membuat doktrin Syiah penuh dengan inovasi ibadah yang tidak memiliki akar dalam tradisi kerasulan.

Karakteristik Konsep Bid'ah yang Berlebihan dalam Tradisi Syiah

Pengembangan konsep bid'ah dalam ajaran Syiah dicirikan oleh beberapa fenomena utama yang menunjukkan sejauh mana ajaran ini telah keluar dari koridor Islam yang hanif:

1. Dekonstruksi dan Inovasi dalam Peribadatan

Salah satu bentuk bid'ah yang paling mencolok dalam Syiah adalah penambahan frasa dalam adzan. Mereka menambahkan kalimat Waitu "Asyhadu anna 'Aliyan waliyullah" (Aku bersaksi bahwa Ali adalah kekasih Allah) serta "Hayya 'ala khairil 'amal" (Marilah menuju sebaik-baik amalan). Penambahan ini secara eksplisit mengubah struktur adzan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW dan dipraktikkan oleh para Sahabat. Pengubahan syariat yang sudah tawkifi (pasti dan terikat dalil) seperti ini merupakan bentuk bid'ah hakiki yang nyata.

2. Sakralisasi Ritual Ratapan dan Penganiayaan Diri

Ritual Asyura atau peringatan karbala yang dipraktikkan oleh mayoritas pengikut Syiah merupakan contoh paling ekstrem dari bid'ah yang berlebihan. Dalam peringatan tersebut, mereka melakukan tindakan melukai diri sendiri (tatbir) menggunakan pisau, rantai, atau pedang hingga berdarah-darah sebagai bentuk duka cita atas kematian Husein bin Ali RA. Islam secara tegas melarang perbuatan meratap (niyahah) dan melukai diri sendiri saat tertimpa musibah. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

"Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliyah." (HR. Bukhari)

Mengubah kedukaan menjadi ritual tahunan yang penuh dengan aksi melukai diri sendiri jelas merupakan bid'ah yang direkayasa dan jauh dari moralitas serta ajaran keagamaan yang lurus.

3. Konsep Imamah sebagai Dasar Pembentukan Bid'ah

Landasan utama dari maraknya praktik bid'ah dalam Syiah adalah doktrin Imamah. Menurut ajaran Syiah, para Imam memiliki sifat ma'shum (terbebas dari dosa dan kesalahan) serta memiliki wewenang untuk menetapkan atau menghapus hukum agama layaknya Nabi. Kedudukan Imam yang ditempatkan sejajar atau bahkan melebihi para Nabi ini memberikan ruang tanpa batas bagi lahirnya syariat-syariat baru. Setiap perkataan dan perbuatan Imam dianggap sebagai sumber hukum mutlak, sehingga fatwa para ulama Syiah yang mengatasnamakan Imam dengan mudah menggantikan Sunnah Rasulullah SAW yang shahih.

Tuduhan Bid'ah yang Manipulatif Terhadap Sunnah Rasulullah

Selain menciptakan amalan-amalan baru tanpa basis dalil, strategi Syiah yang sangat berbahaya adalah memutarbalikkan tuduhan bid'ah kepada ajaran Ahlus Sunnah. Amalan-amalan yang disepakati oleh mayoritas umat Islam dan didasarkan pada tradisi para Sahabat kerap dituduh sebagai bid'ah oleh para ulama Syiah.

Sebagai contoh, ibadah shalat Tarawih secara berjamaah pada bulan Ramadan—yang dihidupkan kembali secara teratur pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA—sering dimusuhi dan dituduh sebagai bid'ah yang sesat oleh kelompok Syiah. Padahal, Rasulullah SAW sendiri pernah melakukan shalat malam di bulan Ramadan secara berjamaah selama beberapa malam bersama para Sahabat sebelum beliau menghentikannya karena khawatir ibadah tersebut diwajibkan atas umatnya.

Tuduhan-tuduhan manipulatif semacam ini dirancang untuk merusak legitimasi para Sahabat Nabi, khususnya Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA). Dengan mengklaim bahwa para Sahabat telah mengubah syariat Islam dan melakukan bid'ah, Syiah berupaya menanamkan kebencian dalam diri pengikutnya terhadap generasi terbaik umat Islam. Allah SWT telah memuji para Sahabat dalam Al-Qur'an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah." (QS. At-Taubah: 100)

Mencela dan menuduh para Sahabat sebagai pelaku bid'ah secara tidak langsung merupakan penolakan terhadap ayat Al-Qur'an yang secara tegas menyatakan keridhaan Allah terhadap mereka.

Dampak Bahaya Pemahaman Bid'ah Syiah Bagi Umat di Indonesia

Penyebaran doktrin Syiah yang mengusung konsep bid'ah secara berlebihan membawakan ancaman serius, baik dari sudut pandang teologis maupun stabilitas sosial di Indonesia:

  • Pengikisan Akidah Murni: Penetrasi pemikiran Syiah secara perlahan dapat mengikis pemahaman akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Amalan-amalan murni yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah berisiko digantikan oleh ritual-ritual lokal bermuatan doktrin Syiah.

  • Perpecahan dan Disintegrasi Sosial: Doktrin Syiah yang mengkafirkan atau mencaci para Sahabat dan istri-istri Nabi (seperti Ummul Mukminin Aisyah RA) sangat berpotensi memicu gesekan sosial dan konflik internal umat Islam yang berujung pada perpecahan bangsa.

  • Pengaburan Hukum Fiqih: Konsep pelonggaran bid'ah demi legitimasi akidah Syiah menciptakan ketidakpastian hukum fiqih di tengah masyarakat, seperti legalisasi nikah mut'ah (kontrak) yang secara eksplisit telah diharamkan oleh Rasulullah SAW hingga hari kiamat.

Strategi Benteng Akidah Menghadapi Penetrasi Ajaran Syiah

Untuk mengantisipasi dan membendung penyebaran ajaran sesat Syiah di bumi Nusantara, diperlukan langkah-langkah strategis dan terstruktur dari seluruh elemen masyarakat Muslim:

  1. Penguatan Edukasi Literasi Keislaman: Masjid, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam harus mengintensifkan kajian-kajian akidah Aswaja serta pemahaman Sunnah yang shahih. Umat perlu dibekali dengan ilmu fiqih dan keimanan yang kokoh agar mampu mengenali serta menolak doktrin-doktrin penyimpangan secara kritis.

  2. Kewaspadaan Terhadap Narasi Taqiyyah: Kelompok Syiah sering menggunakan prinsip taqiyyah (menyembunyikan keyakinan asli) untuk menyusup ke dalam komunitas Ahlus Sunnah. Mengedukasi masyarakat mengenai karakteristik dan taktik propaganda Syiah menjadi hal yang sangat krusial.

  3. Penyebaran Dakwah yang Santun dan Berdasar Dalil: Menghadapi syubhat dan pemikiran Syiah harus dilakukan dengan argumen ilmiah yang kuat, berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih, serta disampaikan secara bijak tanpa mengedepankan emosi semata.

Secara keseluruhan, konsep bid'ah yang dikembangkan dalam doktrin Syiah bukanlah sekadar perbedaan cabang (furu'iyah), melainkan sebuah bentuk penyimpangan mendasar dari akar ajaran Islam (ushul). Dengan merekayasa ibadah baru, mensakralkan ritual yang bertentangan dengan syariat, serta menuduh Sunnah sebagai bid'ah, Syiah telah membangun kerangka berpikir yang berbahaya bagi keutuhan akidah umat. Kesadaran kolektif untuk terus mendalami, menjaga, dan mengamalkan ajaran Islam yang murni merupakan benteng utama dalam melindungi Indonesia dari penyebaran paham yang menyesatkan ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: