Syiahindonesia.com - Al-Qur'an al-Karim merupakan sumber utama ajaran Islam yang diturunkan sebagai petunjuk (huda), pembeda antara yang hak dan yang batil (furqan), serta penjelas bagi segala sesuatu. Keagungan Al-Qur'an menuntut setiap muslim untuk memahami dan menafsirkannya dengan kaidah-kaidah ilmu tafsir yang sah (qawa'id at-tafsir), ilmiah, serta merujuk pada pemahaman para sahabat, tabiin, dan ulama muktabar. Namun, sepanjang sejarah perkembangan aliran-aliran dalam Islam, Al-Qur'an kerap kali dijadikan sebagai alat legitimasi politik dan doktrin sektarian. Salah satu kelompok yang paling menonjol dalam membelokkan makna Al-Qur'an demi melanggengkan ajaran sektariannya adalah kelompok Syiah.
Penyalahgunaan tafsir Al-Qur'an oleh kelompok Syiah bukan sekadar perbedaan sudut pandang metodologis biasa, melainkan sebuah penyimpangan fundamental yang merusak tatanan keilmuan Islam. Dengan memaksakan ayat-ayat Al-Qur'an agar sejalan dengan doktrin utama mereka—seperti imamah, ismah (kesucian imam), taqiyyah, dan kebencian terhadap para sahabat Nabi—penafsiran Syiah sering kali keluar dari koridor bahasa Arab, asbabun nuzul, serta konteks historis yang benar.
Metodologi Penyimpangan Tafsir dalam Tradisi Syiah
Secara metodologis, penafsiran Al-Qur'an dalam tradisi Syiah, khususnya kelompok Rafidhah atau Imamiyyah Ithna Asyariyah (Dua Belas Imam), mengandalkan pendekatan batinil mazmum (penafsiran batin yang tercela). Mereka membagi Al-Qur'an menjadi dua dimensi: zhahir (makna tersurat) dan batin (makna tersirat). Dalam pandangan mereka, makna zhahir Al-Qur'an hanyalah kulit luar, sedangkan inti kebenaran terletak pada makna batin yang klaimnya hanya diketahui secara eksklusif oleh para imam mereka.
Prinsip penafsiran semacam ini secara perlahan mengikis otoritas bahasa Arab dan kaidah syariat. Ketika suatu ayat secara lugas membicarakan masalah tauhid, hukum, atau kisah para nabi, ulama Syiah dapat membelokkan maknanya secara ekstrem untuk mencocokologikan ayat tersebut dengan doktrin para imam mereka.
Imam asy-Syafii rahimahullah pernah mengingatkan bahaya membelokkan ayat Al-Qur'an tanpa dasar ilmu dan bahasa yang shahih. Begitu pula para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara tegas menolak tafsir batin yang bertentangan dengan kaidah bahasa dan dalil shahih lainnya.
Distorsi Makna Ayat demi Doktrin Imamah
Doktrin imamah adalah pilar utama dalam ajaran Syiah. Bagi mereka, kedudukan imam hampir setara dengan nabi, bahkan dianggap memiliki sifat ma'shum (terbebas dari dosa dan kesalahan) serta memiliki hak prerogatif untuk menentukan hukum. Demi menegakkan doktrin yang tidak memiliki landasan eksplisit dalam Al-Qur'an ini, para mufasir Syiah melakukan penafsiran paksa (at-tafsir bi ar-ra'yi al-madzmum) terhadap sejumlah ayat.
1. Manipulasi Makna Ulil Amri dalam Surah An-Nisa' Ayat 59
Salah satu ayat yang paling sering disimpangkan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa': 59)
Dalam tafsir Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kata Ulil Amri dipahami secara umum sebagai para ulama dan umara (pemimpin) yang menegakkan syariat Allah. Namun, dalam kitab-kitab tafsir Syiah seperti Tafsir al-Qummi dan Tafsir al-Ayyashi, kata Ulil Amri dibatasi secara eksplisit hanya untuk 12 Imam Syiah yang ma'shum. Penafsiran ini dengan sengaja mengabaikan fakta sejarah dan tata bahasa Arab, di mana ayat tersebut ditujukan kepada kaum mukminin secara umum pada masa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ketika para imam versi Syiah tersebut belum ada.
2. Membelokkan Makna Kepemimpinan dalam Surah Al-Ma'idah Ayat 55
Ayat lain yang kerap dijatuhkan pada doktrin kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu secara eksklusif adalah:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (rukuk).” (QS. Al-Ma'idah: 55)
Kelompok Syiah mengklaim bahwa ayat ini turun khusus berkenaan dengan Ali Radhiyallahu 'Anhu yang memberikan cincin saat sedang rukuk dalam salat. Berdasarkan riwayat yang lemah dan palsu ini, mereka menyimpulkan bahwa hak kepemimpinan (wilayah) setelah Nabi hanyalah milik Ali dan keturunannya.
Padahal, secara tata bahasa Arab, bentuk kata alladhina amanu (orang-orang yang beriman) mengindikasikan bentuk jamak yang mencakup seluruh sahabat dan orang-orang beriman secara umum. Penafsiran sektarian Syiah ini memotong makna persaudaraan Islam yang inklusif menjadi doktrin kepemimpinan mutlak satu garis keturunan.
Penistaan Terhadap Para Sahabat Melalui Tafsir Sektarian
Salah satu bahaya paling mendasar dari penyebaran ajaran Syiah adalah kebencian systematically yang ditanamkan terhadap para sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, serta Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu 'Anhum. Kebencian ini direfleksikan secara merusak dalam tafsir-tafsir buatan ulama mereka.
Dalam kitab-kitab tafsir utama Syiah, seperti Al-Burhan fi Tafsir Al-Qur'an karya Al-Bahrani atau Al-Kafi karya Al-Kulaini, ayat-ayat yang sejatinya mencela orang-orang kafir, munafik, atau musyrikin sering kali secara keji dialamatkan kepada para sahabat Nabi.
Sebagai contoh, ketika Al-Qur'an membicarakan istilah al-jibt dan at-thaghut dalam Surah An-Nisa' ayat 51, ulama tafsir Syiah tanpa rasa takut kepada Allah menafsirkan al-jibt dan at-thaghut sebagai lambang dari Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu 'Anhuma. Ini merupakan bentuk kejahatan intelektual dan penistaan terhadap generasi terbaik umat Islam yang telah dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur'an:
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٍ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100)
Bagaimana mungkin suatu ajaran mengklaim berpegang teguh pada Al-Qur'an, tetapi pada saat yang sama menafsirkan Al-Qur'an untuk memaki dan mengkafirkan orang-orang yang dipuji langsung oleh Allah di dalam Al-Qur'an itu sendiri?
Bahaya Tuduhan Tahrif (Pemalsuan) Al-Qur'an
Puncak dari penyalahgunaan Al-Qur'an dalam ajaran Syiah adalah adanya doktrin Tahrif Al-Qur'an (keyakinan bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini sudah diubah, dikurangi, atau ditambahi oleh para sahabat). Meskipun sebagian pemikir Syiah modern berusaha menyembunyikan doktrin ini di hadapan publik Ahlus Sunnah (taqiyyah), kitab-kitab induk mereka sarat dengan riwayat yang menegaskan tuduhan pemalsuan tersebut.
Ulama besar Syiah, Al-Mirza an-Nuri at-Thabrasi, bahkan menulis kitab khusus berjudul Fashl al-Khitab fi Ithbat Tahrif Kitab Rabb al-Arbab untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an telah mengalami perubahan. Mereka mengklaim bahwa nama-nama imam Syiah dan kekhalifahan Ali sebenarnya tercantum secara eksplisit dalam Al-Qur'an, namun dihapus oleh para sahabat setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Klaim keji ini secara langsung mendustakan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menjamin pemeliharaan Al-Qur'an hingga akhir zaman:
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Jika suatu kelompok sudah berani meragukan keotentikan teks Al-Qur'an dan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai selera hawa nafsu politik, maka asas kepercayaan terhadap agama itu sendiri telah hancur.
Pentingnya Mewaspadai Penyebaran Tafsir Syiah di Indonesia
Di Indonesia, infiltrasi ajaran Syiah sering kali masuk melalui pintu akademis, literatur sejarah, dan karya tulis ilmiah yang dibungkus dengan narasi kecintaan kepada Ahlul Bait. Buku-buku tafsir, terjemahan, serta jurnal-jurnal ilmiah berhaluan Syiah disebarkan secara terstruktur untuk mengikis keyakinan umat Islam terhadap kebenaran manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Para pemuda dan mahasiswa sering kali menjadi sasaran utama propaganda ini. Mereka disuguhi dengan narasi-narasi tafsir yang seolah-olah rasional dan kritis, padahal mengandung distorsi makna yang amat fatal. Jika tidak dibentengi dengan pemahaman ulumul Qur'an yang kuat, masyarakat muslim dapat dengan mudah terkecoh oleh retorika penafsiran batin yang menyesatkan tersebut.
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberi peringatan keras terhadap siapa saja yang menafsirkan Al-Qur'an hanya berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran tanpa dasar ilmu yang benar:
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang berkata (menafsirkan) tentang Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri (tanpa ilmu), maka hendaklah ia bersiap-siap mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Tirmidzi)
Langkah Mengantisipasi Penyebaran Tafsir Sesat
Untuk membentengi NKRI dan umat Islam Indonesia dari bahaya penyebaran ajaran serta tafsir sesat Syiah, beberapa langkah strategis harus terus digalakkan:
Penguatan Edukasi Qawa'id at-Tafsir: Lembaga pendidikan Islam, pesantren, dan universitas harus memperkuat pengajaran kaidah-kaidah tafsir yang benar sesuai pemahaman Salafus Shalih dan ulama Ahlus Sunnah.
Literasi Kritis terhadap Literatur Syiah: Umat Islam perlu diberi pemahaman dan kesadaran akan ciri-ciri penafsiran sektarian Syiah, sehingga mereka tidak mudah terkecoh oleh propaganda yang berkedok cinta Ahlul Bait.
Peran Aktif Para Ulama dan Dai: Para ulama harus senantiasa menyampaikan dakwah yang meluruskan syubhat-syubhat yang disebarkan oleh kelompok Syiah, serta membentengi keagungan Al-Qur'an dan kemuliaan para sahabat Nabi.
Pengawasan Media dan Literatur: Pihak berwenang bersama lembaga keagamaan resmi seperti MUI harus aktif memantau dan memberikan edukasi publik terkait buku-buku atau konten media yang mengandung tuduhan penistaan sahabat dan penyimpangan penafsiran Al-Qur'an.
Menjaga kemurnian Al-Qur'an dan pemahamannya adalah kewajiban setiap muslim. Dengan memahami pola-pola penyalahgunaan tafsir yang dilakukan oleh kelompok Syiah, umat Islam di Indonesia akan mampu menjaga akidah, persatuan, dan keutuhan tatanan keagamaan dari ancaman paham-paham yang menyimpang.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: