Syiahindonesia.com - Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu (Dzun Nurain—pemilik dua cahaya) adalah Khalifah Rasyid ketiga, salah satu sahabat paling awal memeluk Islam (Al-Awwalun al-Awwalun), serta menantu Rasulullah SAW yang menikahi dua putri beliau, Sayyidah Ruqayyah dan Sayyidah Ummu Kultsum. Beliau dikenal di seluruh penjuru dunia Islam sebagai sosok yang amat pemalu, dermawan luar biasa yang mendanai Pasukan Tabuk dan membeli Sumur Ruma untuk umat, serta pemimpin visioner yang memperluas wilayah Islam hingga berhasil melakukan pembakuan dan penyatuan Mushaf Al-Qur'an (Mushaf Utsmani).
Namun, dalam tradisi teologi dan literatur Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), Khalifah Utsman bin Affan RA menempati posisi yang sangat buruk. Beliau menjadi salah satu sasaran utama celaan, vonis pengkafiran, hingga ritual pengutukan (la'nah). Praktik mengutuk dan membenci Utsman bin Affan RA bukan sekadar bentuk prasangka pribadi, melainkan doktrin terstruktur yang menjadi bagian dari ajaran Tabarra (berlepas diri dan membenci musuh-musuh para Imam) dalam teologi Syiah.
Berikut adalah pemaparan komprehensif mengenai latar belakang, bentuk-bentuk celaan, serta bantahan ilmiah terhadap kebiasaan kelompok Syiah dalam mengutuk Khalifah Utsman bin Affan RA:
1. Bentuk-Bentuk Celaan dan Pengutukan Syiah terhadap Utsman bin Affan RA
Di dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah, sosok Utsman bin Affan RA dilukiskan dengan sangat keji. Berbagai tuduhan dan cacian dialamatkan kepada beliau demi meruntuhkan kredibilitas kepemimpinannya:
Tuduhan Murtad dan Pengkafiran: Dalam literatur klasik Syiah seperti Kasyf al-Ghummah dan Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi, Utsman bin Affan RA beserta Abu Bakar dan Umar dituduh telah murtad dari Islam sepeninggal Rasulullah SAW karena dianggap merampas hak kekhalifahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
Ritual Pengutukan (Lainah): Dalam doa-doa atau ziarah yang diajarkan dalam kitab Syiah (seperti Ziyarat Ashura dan doa Shanamai Quraysh—Dua Berhala Quraisy), nama Utsman bin Affan RA secara implisit maupun eksplisit termasuk dalam jajaran figur yang dilaknat dan dikutuk secara rutin.
Pengagungan Pembunuh Utsman: Kelompok Syiah cenderung membela, membenarkan, dan mengagungkan para pemberontak radikal (proto-Khawarij) yang mengepung rumah Utsman di Madinah hingga mengeksekusi beliau secara zalim saat beliau sedang membaca Al-Qur'an.
2. Tuduhan-Tuduhan Palsu Syiah terhadap Utsman dan Bantahannya
Untuk membenarkan tindakan pengutukan tersebut, para ideolog Syiah menyusun sejumlah tuduhan historis terhadap Utsman bin Affan RA. Namun, seluruh tuduhan tersebut runtuh ketika diuji dengan fakta sejarah yang sahih:
a. Tuduhan Nepotisme (Mengangkat Kerabat Bani Umayyah)
Tuduhan Syiah: Utsman dituduh melakukan korupsi dan nepotisme dengan hanya membagikan jabatan gubernur dan harta kas negara (Baitul Maal) kepada kerabatnya dari Banu Umayyah.
Bantahan Ilmiah: Utsman bin Affan RA menunjuk pejabat berdasarkan kualifikasi, rekam jejak, dan kemampuan militer/administrasi demi menjaga stabilitas wilayah Islam yang sangat luas. Sebagian besar gubernur yang ditunjuk (seperti Mu'awiyah bin Abi Sufyan di Syam dan Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh di Mesir) membuktikan keberhasilan mereka dengan memperluas wilayah kekuasaan Islam dan memenangkan pertempuran laut pertama dalam sejarah Islam (Ghazwat Dzat as-Sawari). Mengenai harta, Utsman adalah seorang pengusaha konglomerat yang sudah kaya raya sebelum Islam. Beliau justru sering mendermakan harta pribadinya untuk membiayai kebutuhan masyarakat dan menafkahi sanak saudaranya dari uang pribadinya sendiri, bukan dari Baitul Maal.
b. Tuduhan Membakar dan Merusak Al-Qur'an
Tuduhan Syiah: Utsman dituduh merusak wahyu karena memerintahkan pembakaran mushaf-mushaf pribadi milik Sahabat lain saat proses kodifikasi Al-Qur'an.
Bantahan Ilmiah: Penyeragaman dan penulisan Mushaf Utsmani adalah salah satu jasa terbesar Utsman bagi peradaban dunia. Keputusan ini diambil atas musyawarah dan persetujuan seluruh Sahabat utama di Madinah, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, demi mencegah perpecahan Umat akibat perbedaan dialek bacaan. Sayyidina Ali RA sendiri secara tegas menyatakan:
"Janganlah kalian mengatakan tentang Utsman melainkan kebaikan. Demi Allah, tidaklah dia melakukan apa yang dilakukannya terhadap mushaf-mushaf Al-Qur'an melainkan atas persetujuan kami semua (para Sahabat)." (HR. Ibn Abi Dawud dalam Kitab al-Mashahif).
3. Kedudukan Utsman bin Affan RA dalam Al-Qur'an, Hadits, dan Pandangan Sayyidina Ali RA
Tradisi mengutuk Utsman bin Affan RA yang dipelihara oleh Syiah berbenturan secara frontal dengan kesaksian Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Sayyidina Ali RA sendiri mengenai kemuliaan Utsman:
a. Malaikat Pun Malu Kepada Utsman
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan Utsman:
أَلاَ أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ
"Apakah aku tidak merasa malu kepada seorang laki-laki yang para malaikat saja malu kepadanya?" (HR. Muslim).
b. Jaminan Surga dari Rasulullah SAW
Utsman bin Affan RA adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (Al-'Asyaratul Mubasysyaruna bil Jannah). Rasulullah SAW juga bersabda saat Utsman mendanai Pasukan Tabuk (Jaysh al-'Usrah):
مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ
"Tidak ada yang dapat membahayakan Utsman atas apa yang dia lakukan setelah hari ini." (HR. Tirmidzi).
c. Sikap Sayyidina Ali RA terhadap Pembunuhan Utsman
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA tidak pernah mengutuk Utsman, melainkan sangat mencintai dan menghormati beliau. Saat pemberontak mengepung rumah Utsman, Sayyidina Ali mengutus dua putra kandungnya, Hasan dan Husein, untuk berdiri di depan pintu rumah Utsman guna melindungi beliau dengan nyawa mereka. Ketika Utsman akhirnya terbunuh secara teraniaya, Sayyidina Ali RA sangat berduka, berlepas diri dari para pembunuh tersebut, dan mengutuk siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan Utsman.
Kesimpulan
Kebiasaan kelompok Syiah dalam mengutuk Khalifah Utsman bin Affan RA adalah perbuatan keji yang didasari oleh kebencian sektarian dan pendistorsian fakta sejarah. Mengutuk sosok yang dicintai Rasulullah SAW, dibela oleh Malaikat, dan dihormati oleh Sayyidina Ali RA adalah bukti nyata jauhnya teologi Syiah dari nilai-nilai ajaran Islam yang murni.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, memuliakan Utsman bin Affan RA—sebagaimana memuliakan Abu Bakar, Umar, dan Ali radhiyallahu 'anhum—adalah kewajiban akidah. Merekalah generasi terbaik (Khairul Qurun) yang telah diridhai oleh Allah SWT, dan mencintai mereka adalah bagian utama dari keimanan seorang Muslim sejati.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: