Syiahindonesia.com - Dalam panggung sejarah pemikiran dan hukum Islam, sosok Imam Abu Hanifah (An-Nu'man bin Tsabit) menduduki posisi yang sangat terhormat sebagai pendiri Mazhab Hanafi sekaligus salah satu pilar utama dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Kedalaman ilmu, ketelitian metodologi ijtihat, serta ketaqwaan beliau telah diakui oleh mayoritas ulama lintas generasi. Namun, dalam narasi dan literatur kelompok Syiah, kepribadian serta karya intelektual Imam Abu Hanifah sering kali menjadi sasaran tembak propaganda, tuduhan miring, dan pemutarbalikan fakta tanpa basis historis maupun ilmiah yang shahih. Menelusuri akar tuduhan palsu ini merupakan langkah penting untuk membentengi akidah umat Islam di Indonesia dari upaya pengikisan figur-figur panutan Aswaja.
Upaya mencederai reputasi para ulama besar Ahlus Sunnah merupakan salah satu strategi klasik yang digunakan oleh propaganda Syiah demi memuluskan doktrin-doktrin mereka. Dengan meruntuhkan kredibilitas para mujtahid utama seperti Imam Abu Hanifah, ajaran Syiah berupaya menanamkan keraguan di tengah umat terhadap keabsahan mazhab-mazhab fiqih yang diakui. Oleh karena itu, pengkajian mendalam mengenai pola tuduhan tanpa bukti ini perlu disajikan secara objektif berlandaskan rujukan sejarah yang otentik.
Figur Imam Abu Hanifah dalam Lintasan Sejarah Islam
Imam Abu Hanifah lahir pada masa sahabat masih ada dan tumbuh di Kufah, salah satu pusat peradaban dan ilmu pengetahuan Islam saat itu. Beliau dikenal sebagai pelopor penggunaan nalar hukum (ra'yu) yang terikat erat dengan kaidah-kaidah syariat, keahlian analogi (qiyas), serta prinsip istihsan. Keilmuan beliau diakui secara luas oleh para ulama sezamannya maupun sesudahnya. Imam Asy-Syafi'i bahkan pernah memberikan pujian yang sangat fenomenal:
النَّاسُ فِي الْفِقْهِ عِيَالٌ عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ
"Manusia dalam urusan fiqih adalah keluarga (yang bergantung) kepada Abu Hanifah." (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi)
Keagungan ulama yang dipuji secara luas oleh para imam mazhab lainnya ini menunjukkan betapa kokohnya posisi beliau dalam tradisi ilmiah Islam. Kendati demikian, keharuman nama beliau tidak menghentikan arus fitnah dan prasangka buruk yang dihembuskan oleh kalangan Syiah.
Ragam Tuduhan Tanpa Bukti Kelompok Syiah Terhadap Imam Abu Hanifah
Pengkaji literatur Syiah akan menemukan berbagai tuduhan unscientific dan manipulatif yang ditujukan kepada Imam Abu Hanifah. Di antara tuduhan-tuduhan utama yang sering diulang-ulang meliputi:
1. Tuduhan Menolak dan Meniadakan Hadits Nabi SAW
Salah satu narasi menyesatkan yang kerap dibangun oleh penulis-penulis Syiah adalah tuduhan bahwa Imam Abu Hanifah lebih mendahulukan akal (ra'yu) daripada hadits Nabi SAW, bahkan dituduh mengabaikan Sunnah. Tuduhan ini sangat tidak berdasar dan bertentangan dengan fakta metodologi hukum beliau. Imam Abu Hanifah menerapkan kriteria seleksi hadits yang sangat ketat untuk menjaga kemurnian syariat dari pemalsuan hadits yang marak terjadi di Kufah pada masa itu. Beliau secara tegas menyatakan:
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي
"Apabila sebuah hadits itu shahih, maka itulah mazhabku." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abidin)
Pernyataan ini membuktikan komitmen mutlak beliau terhadap Sunnah Rasulullah SAW. Pengetatan kriteria penerimaan riwayat yang dilakukan beliau justru lahir dari sikap kehati-hatian (wara'), bukan karena meremehkan Sunnah.
2. Tuduhan Menyelisihi dan Mengkhianati Ahlul Bait
Tuduhan lain yang kerap dilontarkan oleh propaganda Syiah adalah bahwa Imam Abu Hanifah memusuhi atau menyelisihi ajaran Ahlul Bait. Faktanya, sejarah mencatat bahwa Imam Abu Hanifah memiliki hubungan yang sangat dekat dan penuh rasa hormat terhadap para ulama dari kalangan keturunan Nabi SAW, seperti Imam Ja'far Ash-Shadiq dan Imam Zaid bin Ali.
Beliau berguru dan mengambil faedah ilmu dari mereka tanpa sedikit pun mengurangi penghormatan terhadap para Sahabat Nabi yang lain. Sikap menghormati Ahlul Bait sekaligus memuliakan para Sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali RA) adalah ciri khas utama Ahlus Sunnah, berbeda jauh dengan doktrin Syiah yang mengagungkan Ahlul Bait sambil mencaci-maki para Sahabat lainnya.
3. Tuduhan Rekayasa Hukum dan Kebohongan Teologis
Dalam beberapa kitab polemik Syiah, Imam Abu Hanifah dituduh membuat fatwa-fatwa rekaan yang bertolak belakang dengan syariat Islam demi melayani kepentingan penguasa atau sekadar menuruti hawa nafsu. Tuduhan ini sepenuhnya runtuh jika melihat rekam jejak kehidupan beliau. Imam Abu Hanifah dikenal sebagai sosok yang sangat independen, jujur, dan teguh menolak jabatan resmi pemerintahan. Beliau bahkan rela dipenjara dan dicambuk oleh penguasa Dinasti Abbasiyah karena menolak diangkat menjadi hakim agung (Qadhi al-Qudhat) demi mempertahankan integritas keilmuan dan ketakwaannya.
Motivasional di Balik Serangan Syiah Terhadap Imam Abu Hanifah
Tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang dilancarkan Syiah terhadap Imam Abu Hanifah tidak lahir dari ruang hampa, melainkan didorong oleh beberapa faktor ideologis:
Legitimasi Keimaman Eksklusif: Syiah mengklaim bahwa kebenaran hukum agama hanya berada di tangan para Imam Dua Belas yang ma'shum. Kehadiran mazhab-mazhab fiqih Sunnah yang mapan dan rasional seperti Mazhab Hanafi menjadi ancaman langsung bagi klaim monopolistik tersebut.
Strategi Deconstructive Terhadap Khazanah Sunnah: Dengan merusak citra pilar utama mazhab Sunnah, Syiah berharap dapat menciptakan keraguan (syubhat) di kalangan awam Muslim sehingga mereka lebih mudah berpaling ke doktrin-doktrin Syiah.
Dua Standar Ganda dalam Menilai Ulama: Syiah cenderung mengklaim ulama-ulama besar sebagai pengikut mereka jika terdapat persamaan teknis yang sangat kecil, tetapi akan menyerang dan memfitnah ulama tersebut secara membabi buta jika sang ulama secara tegas membela keutamaan Sahabat Nabi.
Menjaga Pemikiran Umat dari Propaganda dan Fitnah
Di Indonesia, di mana mayoritas Muslim berpegang pada tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kewaspadaan terhadap narasi-narasi yang merendahkan para ulama madzhab harus terus ditingkatkan. Fitnah terhadap Imam Abu Hanifah adalah salah satu pintu masuk untuk menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap keutuhan ilmu agama yang diwariskan secara bersambung (sanad) dari generasi ke generasi.
Allah SWT telah mengingatkan umat Islam agar selalu bersikap teliti (tabayyun) dalam menerima berita atau tuduhan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan (kebodohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Memahami fakta sejarah secara benar, mempelajari karya-karya otentik ulama Aswaja, serta kritis terhadap narasi-narasi revisionis yang diusung oleh kelompok Syiah merupakan benteng utama dalam memelihara kesucian ajaran Islam. Imam Abu Hanifah tetaplah seorang bintang gemilang dalam ilmu fiqih yang integritasnya tidak akan pernah ternoda oleh tuduhan-tuduhan hampa tanpa bukti.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: