Syiahindonesia.com - Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah—pertemuan musyawarah sahabat Anshar dan Muhajirin pasca-wafatnya Rasulullah SAW untuk memilih pemimpin kaum Muslimin—merupakan salah satu peristiwa paling krusial dalam sejarah Islam. Peristiwa ini melahirkan kesepakatan pembaiatan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai Khalifah pertama, yang menjaga keutuhan umat di masa krisis.
Namun, di dalam literatur dan narasi teologis Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), peristiwa Saqifah digambarkan secara dramatis sebagai sebuah "konspirasi jahat" dan "kudeta berdarah". Narasi Syiah mengklaim bahwa para Sahabat Nabi berkumpul secara licik untuk merebut hak kekhalifahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang diklaim telah diwasiatkan oleh Nabi SAW di Ghadir Khum.
Jika dibedah secara kritis berdasarkan catatan sejarah yang shahih dan logika keilmuan, tuduhan dan narasi Syiah terhadap peristiwa Saqifah terbukti dipenuhi kedustaan serta pemelintiran fakta.
1. Kedustaan tentang Narasi "Kudeta dan Konspirasi Terencana"
Kelompok Syiah mengonstruksi cerita seolah-olah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidnah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhum telah merencanakan konspirasi rahasia untuk merebut kekuasaan segera setelah Nabi SAW wafat.
Rekayasa Faktual yang Membantah:
Inisiatif Kaum Anshar: Pertemuan di Saqifah tidak diprakarsai oleh Abu Bakar maupun Umar, melainkan oleh kaum Anshar (suku Aus dan Khazraj) yang berkumpul di bawah pimpinan Saad bin Ubadah radhiyallahu 'anhu karena kekhawatiran akan kekosongan kepemimpinan di Madinah.
Kedatangan yang Mendadak: Abu Bakar dan Umar baru menyusul ke Saqifah setelah mendapat laporan bahwa kaum Anshar sedang berkumpul untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Kehadiran para tokoh Muhajirin adalah untuk mencegah perpecahan antara Anshar dan Muhajirin, bukan untuk menjalankan skenario kudeta yang telah disiapkan sebelumnya.
2. Kedustaan tentang "Pengkhianatan Wasiat Ghadir Khum"
Pondasi utama tuduhan Syiah adalah klaim bahwa seluruh Sahabat yang hadir di Saqifah secara sadar mengkhianati "wasiat eksplisit" (nash sharih) penunjukan Sayyidina Ali sebagai Khalifah di Ghadir Khum.
Logika Sejarah yang Meruntuhkan Klaim:
Mustahilnya Pengkhianatan Massal: Ribuan Sahabat Nabi yang rela mengorbankan harta, jiwa, dan keluarga demi membela ajaran Rasulullah SAW tidak mungkin secara kompak dan serta-merta bersepakat untuk mufakat melanggar perintah tegas Nabi SAW hanya beberapa hari setelah beliau wafat.
Pemahaman Para Sahabat tentang Ghadir Khum: Peristiwa Ghadir Khum dipahami oleh para Sahabat (termasuk kaum Anshar dan Muhajirin) sebagai penegasan keutamaan, pemuliaan, dan kewajiban mencintai Sayyidina Ali untuk menghentikan desas-desus kebencian, bukan sebagai pengumuman struktur politik kepemimpinan negara.
3. Kedustaan tentang "Penyerangan Rumah Sayyidatuna Fatimah"
Salah satu cerita rekaan paling ekstrim dalam tradisi Syiah terkait dampak Saqifah adalah dongeng penyerangan rumah Sayyidatuna Fatimah az-Zahra radhiyallahu 'anha oleh Umar bin Khattab. Mereka mengklaim bahwa Umar mendobrak pintu rumah, membakar pintunya, hingga menyebabkan Sayyidatuna Fatimah keguguran janinnya (yang mereka sebut Muhsin) dan terluka parah.
Pembongkaran Mitos Kedustaan Ini:
Cacat Sanad dan Matan: Narasi penyerangan ini tidak memiliki satu pun sanad yang shahih dalam kitab-kitab hadis dan sejarah Islam yang mu'tabar. Bahkan sebagian ulama kritis Syiah modern mengakui bahwa riwayat ini adalah cerita rekaan yang tidak masuk akal.
Mencederai Keberanian Sayyidina Ali: Menggambarkan Sayyidina Ali—sosok yang bergelar Asadullah (Singa Allah) dan terkenal sangat pemberani—hanya diam terpaku dan membiarkan istrinya dianiaya di depan matanya sendiri merupakan bentuk penghinaan terselubung terhadap harga diri dan keberanian Sayyidina Ali.
Harmoni Pasca-Peristiwa: Sejarah mencatat bahwa Sayyidina Ali tetap menjalin hubungan sangat baik dengan Umar bin Khattab, bahkan menikahkan putri beliau (Umi Kultsum binti Ali) dengan Umar bin Khattab. Mustahil Sayyidina Ali menikahkan putrinya kepada orang yang dituduh membunuh istrinya sendiri.
4. Sikap Hakiki Sayyidina Ali terhadap Pembaiatan Saqifah
Syiah menggambarkan seolah-olah Sayyidina Ali berada dalam posisi memusuhi Abu Bakar dan menganggap kekhalifahannya tidak sah sama sekali.
Padahal, fakta sejarah mencatat bahwa meskipun Sayyidina Ali sempat terlambat memberikan baiat secara terbuka karena sibuk mengurus jenazah Rasulullah SAW dan menemani Sayyidatuna Fatimah yang sedang berduka, beliau pada akhirnya secara resmi membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq. Sayyidina Ali menjadi penasihat utama, hakim, serta bagian integral dari tatanan pemerintahan Khulafaur Rasyidin.
Dalam kitab Syiah sendiri (Nahjul Balaghah, Surat 6), terekam pengakuan Sayyidina Ali mengenai keabsahan sistem musyawarah Saqifah:
"Sesungguhnya orang-orang yang telah membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah membaiatku di atas apa yang mereka membaiat mereka... Musyawarah hanyalah milik kaum Muhajirin dan Anshar, jika mereka telah bersepakat atas seorang pria dan menamakannya sebagai Imam, maka hal itu adalah keridhaan Allah."
Kesimpulan
Narasi Syiah mengenai peristiwa Saqifah Bani Sa'idah adalah bentuk pengangkatan dongeng dan kedustaan sejarah untuk melegitimasi doktrin Imamah serta menanamkan kebencian terhadap para Sahabat Nabi. Peristiwa Saqifah sejatinya adalah bukti kearifan dan kedewasaan para Sahabat dalam menjaga keberlangsungan syariat dan kesatuan politik umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah SAW.
Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang seluruh Sahabat yang terlibat dalam Saqifah—baik Anshar maupun Muhajirin, Abu Bakar maupun Ali—sebagai generasi terbaik yang saling mencintai, bersaudara, dan berjuang bersama di bawah naungan Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: