Syiahindonesia.com - Akidah Islam yang lurus berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah telah menetapkan garis batas yang sangat jelas antara kehidupan dunia, alam barzakh, dan hari kebangkitan (Yaumul Qiyamah). Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), seseorang yang telah meninggal dunia akan berpindah ke alam barzakh dan tidak akan pernah kembali lagi ke kehidupan dunia. Kebangkitan jasmani secara massal hanya akan terjadi satu kali, yakni ketika sangkakala ditiup oleh Malaikat Israfil pada hari kiamat kelak.
Namun, dalam teologi sekte Syiah—khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah/Rafidhah)—terdapat satu doktrin eskatologi yang sangat ekstrem, menyimpang, dan sarat dengan kejanggalan teologis, yaitu konsep Raj'ah. Doktrin ini mengajarkan kepercayaan bahwa sebelum datangnya hari kiamat, sekelompok manusia yang telah mati akan dihidupkan kembali ke dunia oleh Allah SWT untuk mengalami pembalasan dendam dan penghakiman politik.
Pemahaman ini bukan sekadar silang pendapat mengenai masalah cabang (furu'), melainkan sebuah penyimpangan akidah yang merusak tatanan iman kepada hari akhir, mencederai keadilan Ilahi, dan membocorkan fantasi kebencian sektarian.
1. Hakikat dan Definisi Doktrin Raj'ah dalam Teologi Syiah
Secara bahasa, Raj'ah (الرَّجْعَةُ) berarti kembalinya sesuatu. Secara istilah dalam teologi Syiah Rafidhah, Raj'ah adalah kebangkitan kembali para Imam Syiah—terutama Imam ke-12 yang diklaim sedang bersembunyi (Al-Mahdi/Al-Qa'im)—bersama dengan musuh-musuh utama mereka (seperti para Khulafaur Rasyidin dan istri-istri Nabi r.a.) ke alam dunia sebelum terjadinya kiamat besar.
Ulama besar Syiah, Al-Majlisi, dalam kitab induknya Bihar al-Anwar secara tegas menyatakan bahwa kepercayaan terhadap Raj'ah adalah syarat mutlak keimanan dalam sekte Syiah:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِرَجْعَتِنَا
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak beriman kepada Raj'ah kami." (Bihar al-Anwar, juz 53, hal. 92)
Tujuan utama dari peristiwa Raj'ah versi Syiah bukanlah untuk memberikan kesempatan beramal atau bertobat, melainkan sebagai panggung eksekusi dan pembalasan dendam historis. Menurut narasi kitab-kitab Syiah, Al-Mahdi versi mereka akan membongkar kuburan Sayyidina Abu Bakar r.a. dan Sayyidina Umar bin Khattab r.a., menghidupkan keduanya, lalu menyalib dan membakar jasad mereka di hadapan publik. Begitu pula terhadap Sayyidah Aisyah r.a., yang diklaim akan dihidupkan kembali untuk menjalani hukuman cambuk (hadd).
2. Deretan Kejanggalan dan Penyimpangan Teologis Doktrin Raj'ah
Jika ditelaah secara kritis menggunakan timbangan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan akal sehat, doktrin Raj'ah memiliki deretan kejanggalan yang sangat nyata:
┌─────────────────────────────────────────────────────────┐
│ KEJANGGALAN DAN PENYIMPANGAN DOKTRIN RAJ'AH │
└────────────────────────────┬────────────────────────────┘
│
┌──────────────────────────┴──────────────────────────┐
▼ ▼
┌─────────────────────────────────┐ ┌─────────────────────────────────┐
│ Menyelisihi Ayat-Ayat Al-Qur'an │ │ Mencederai Konsep Hisab & │
│ tentang Kepastian Alam Barzakh │ │ Hari Kebangkitan (Kiamat) │
└────────────────┬────────────────┘ └────────────────┬────────────────┘
│ │
└──────────────────────┬──────────────────────┘
│
▼
┌───────────────────────────────────┐
│ Mengadopsi Ajaran Reinkarnasi/ │
│ Paganisme Masa Lalu (Tanāsukh) │
└───────────────────────────────────┘
A. Menyelisihi Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Alam Barzakh
Al-Qur'an secara tegas dan eksplisit menyatakan bahwa manusia yang telah meninggal dunia tidak akan pernah dikembalikan lagi ke alam dunia. Allah SWT berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Ayat di atas menetapkan bahwa batas antara dunia dan akhirat adalah barzakh (dinding pemisah) yang tidak bisa ditembus hingga hari kebangkitan umum (Yaum Yub'athun). Doktrin Raj'ah yang mengklaim adanya kepulangan massal sebelum kiamat secara langsung mendustakan firman Allah SWT ini.
Begitu pula firman Allah SWT mengenai kepastian tidak adanya kepulangan ke dunia:
وَحَرَامٌ عَلَىٰ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
"Dan mustahil bagi (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami)." (QS. Al-Anbiya': 95)
B. Mencederai Konsep Keadilan Ilahi dan Hari Hisab
Dalam Islam, pengadilan mutlak atas seluruh perbuatan manusia hanya terjadi pada hari kiamat di Mahkamah Rabbul 'Alamin. Allah SWT adalah satu-satunya Hakim Agung (Ahkamul Hakimin).
Doktrin Raj'ah mengacak-acak konsep ini dengan memindahkan fungsi pengadilan akhirat ke panggung duniawi yang dipimpin oleh Al-Mahdi versi Syiah. Mengapa harus ada eksekusi, penyaliban, dan pencambukan di dunia sebelum kiamat jika setiap manusia kelak pasti akan dihisab dan menerima balasan di akhirat? Hal ini menunjukkan betapa doktrin Raj'ah lahir bukan dari wahyu Ilahi, melainkan dari dorongan dendami sektarian dan fantasi politik yang dipaksakan.
C. Kemiripan dengan Doktrin Reinkarnasi dan Mitos Paganisme
Para peneliti sejarah pemikiran Islam menyimpulkan bahwa konsep Raj'ah tidak dikenal pada masa awal Islam. Ide ini pertama kali disusupkan oleh kelompok ekstrimis (Ghulat) yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba' (seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam).
Abdullah bin Saba' mengadopsi ajaran kembalinya para nabi/tokoh masa lalu dari mitologi kuno dan ajaran reinkarnasi (Tanasukh al-Arwah), lalu mengemasnya dengan baju "kecintaan kepada Ahlul Bait". Konsep ini kemudian diserap dan dijadikan doktrin resmi oleh ulama-ulama Syiah Rafidhah hingga hari ini.
3. Matriks Komparasi: Akidah Hari Akhir Sunni vs Doktrin Raj'ah Syiah
Untuk melihat dengan jelas jurang pemisah antara akidah Islam yang lurus dengan kejanggalan teologi Syiah mengenai alam kematian dan hari akhir, berikut tabel perbandingannya:
4. Bahaya Akidah Raj'ah bagi Karakter dan Jiwa Umat
Pengajaran doktrin Raj'ah secara turun-temurun dalam komunitas Syiah membawa dampak psikologis dan sosial yang sangat merusak:
Memelihara Kebencian dan Dendam Abadi: Doktrin Raj'ah mendidik pengikut Syiah untuk tidak pernah memaafkan dan terus memelihara trauma serta dendam terhadap generasi terbaik Islam (para Sahabat r.a.). Mereka diajarkan untuk selalu menantikan hari di mana tokoh-tokoh suci Sunni disiksa dan dihancurkan.
Merusak Makna Takwa dan Optimisme: Alih-alih mengajak pengikutnya beramal saleh untuk mempersiapkan bekal di akhirat, doktrin ini memfokuskan emosi penganutnya pada dongeng pembalasan fisik di dunia yang tidak pernah terbukti secara historis maupun saintifik.
Menciptakan Paranoia Sektarian: Akidah ini membangun jurang pemisah yang tebal antara penganut Syiah dan mayoritas umat Islam, karena penganut Syiah memandang tetangga dan saudara muslim mereka (Sunni) sebagai keturunan dari "musuh-musuh" yang kelak wajib dihancurkan pada masa Raj'ah.
5. Bantahan Al-Qur'an dan As-Sunnah terhadap Pemikiran Khayali
Islam adalah agama rasional yang dibangun di atas bukti-bukti ilmiah (Burhan) dan wahyu yang suci dari khayalan. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa kematian adalah kepastian yang menandai berakhirnya kesempatan hidup di dunia:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-'Ankabut: 57)
Pengembalian (Turja'un) dalam ayat di atas adalah pengembalian kepada Allah pada hari kiamat di alam akhirat, bukan dikembalikan lagi untuk berputar-putar dalam panggung politik duniawi sebagaimana yang dikhayalkan dalam konsep Raj'ah.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan umatnya untuk fokus mempersiapkan bekal setelah kematian, bukan mengkhayalkan kembalinya orang-orang yang telah wafat. Beliau bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631)
Hadis shahih ini menegaskan bahwa kematian adalah pemutus segala aktivitas dan urusan duniawi. Tidak ada celah sedikit pun bagi doktrin Raj'ah untuk disusupkan ke dalam ajaran Islam yang murni.
Kesimpulan
Doktrin Raj'ah dalam teologi Syiah merupakan salah satu bukti nyata bagaimana sebuah sekte dapat melenceng jauh dari petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah akibat mendahulukan hawa nafsu dan fanatisme sektarian. Konsep yang mengajarkan kembalinya orang mati ke dunia sebelum kiamat demi melampiaskan dendam politik adalah khayalan yang bertentangan dengan sunnatullah, merusak prinsip akidah hari akhir, dan mencoreng kesucian syariat Islam.
Bagi umat Islam di Indonesia, memahami kejanggalan doktrin Raj'ah adalah hal yang sangat penting untuk membentengi diri dan keluarga dari propaganda ajaran sesat Syiah. Kita harus tetap teguh berpegang pada akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini kepastian alam barzakh dan mengagungkan Mahkamah Keadilan Ilahi pada hari kiamat kelak.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: