Syiahindonesia.com - Pemeliharaan persatuan Umat Islam dan keutuhan aqidah Islamiyah merupakan amanah mulia yang senantiasa dijaga oleh para ulama dari masa ke masa. Di tengah keberagaman pemikiran, penting bagi kaum Muslimin untuk secara jujur dan kritis mengenali ajaran-ajaran yang mengusung doktrin eksklusif serta kebencian sektarian. Salah satu fenomena teologis yang menjadi perhatian serius dalam sejarah Islam adalah hadirnya ajaran Syiah (khususnya kelompok Syiah Imamiyah/Rafidhah) yang membangun narasi keagamaannya di atas fondasi permusuhan dan doktrin kebencian terhadap Ahlus Sunnah wal Jama'ah serta para tokoh generasi terbaik Islam.
Akar Teologis Kebencian Syiah terhadap Ahlus Sunnah
Doktrin kebencian yang dikembangkan dalam ajaran Syiah terhadap kaum Muslimin Sunnah bukan sekadar perselisihan politik biasa, melainkan berakar pada konstruksi teologi yang mendasar. Ada beberapa konsep kunci dalam ajaran Syiah yang membentuk pandangan hostil ini:
1. Konsep Nawashib (An-Nashibah)
Dalam literatur fikih dan teologi klasik Syiah, kaum Muslimin yang tidak memercayai konsep Imamah (kepemimpinan 12 Imam) atau yang mendahulukan kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman di atas Ali bin Abi Thalib sering digolongkan atau dikategorikan sejajar dengan Nawashib (pihak yang membenci Ahlul Bait). Berdasarkan terminologi teologis mereka, status ini berimplikasi pada penilaian hukum yang sangat ekstrem terhadap harta, darah, dan keabsahan ibadah penganut paham Sunnah.
2. Doktrin Al-Wala' wal Bara' Versi Syiah (Tawalla dan Tabarra)
Dalam ajaran Syiah, pilar keimanan tidak sempurna hanya dengan mencintai para Imam (Tawalla), tetapi wajib diiringi dengan Tabarra, yaitu berlepas diri, membenci, dan memusuhi siapa saja yang dianggap merampas hak kepemimpinan para Imam. Karena penganut Ahlus Sunnah menghormati dan memuliakan para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar, maka secara otomatis mayoritas Umat Islam Sunnah dipandang sebagai pihak yang wajib dimusuhi dalam kerangka doktrin Tabarra tersebut.
3. Pengafiran dan Desakralisasi Mayoritas Sahabat Nabi
Untuk membenarkan doktrin kebencian kepada Ahlus Sunnah, ajaran Syiah terlebih dahulu menanamkan kebencian mendalam kepada para pendahulu Ahlus Sunnah, yaitu para Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengklaim bahwa mayoritas Sahabat telah murtad dan berpaling dari ajaran Islam sepeninggal Rasulullah hanya karena memutus pembaiatan kepada Ali bin Abi Thalib. Pandangan radikal ini secara otomatis meruntuhkan kehormatan seluruh generasi awal Islam yang dicintai oleh Umat Islam Sunnah.
Manifestasi Doktrin Kebencian dalam Praktik Keagamaan
Prinsip teologis tersebut memicu lahirnya berbagai praktik keagamaan dan narasi propaganda yang disebarkan untuk menumbuhkan rasa permusuhan di tengah pengikut Syiah:
1. Ritual Pencelaan dan Pemanggilan Laknat (La'n)
Dalam kitab-kitab doa dan riwayat rujukan Syiah, terdapat penganjuran ritual membenci dan melaknat figur-figur terhormat Ahlus Sunnah. Doa-doa khusus disusun untuk mengutuk para Sahabat utama serta istri-istri Nabi, seperti Aisyah binti Abi Bakar dan Hafshah binti Umar radhiyallahu 'anhuma. Ritual pencelaan ini dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah dalam perspektif ajaran mereka.
2. Narasi Perampasan dan Penganiayaan Sejarah
Syiah secara konsisten mengulangi kisah-kisah fabrikasi yang menggambarkan bahwa pahlawan-pahlawan Islam (para Sahabat) adalah sosok zalim, licik, dan jahat yang senantiasa menindas Ahlul Bait. Narasi viktimisasi yang berlebihan ini sengaja dipelihara setiap tahun (seperti pada peringatan Hari Asyura) untuk membakar emosi, dendam sejarah, dan kebencian kolektif pengikutnya terhadap pengikut Ahlus Sunnah.
3. Eksploitasi Taqiyyah untuk Penetrasi
Dalam ruang publik yang didominasi kaum Muslimin Sunnah, penganut Syiah sering kali menggunakan Taqiyyah—menyembunyikan doktrin kebencian tersebut dengan mengusung jargon "persatuan Islam" atau "persaudaraan mazhab". Namun, ketika posisi mereka sudah kuat atau berada di lingkungan tertutup, doktrin asli yang penuh dengan pengafiran dan kebencian terhadap Ahlus Sunnah kembali diajarkan secara intensif.
Bantahan Al-Qur'an dan As-Sunnah terhadap Doktrin Perpecahan
Islam adalah agama rahmah yang mengajarkan kasih sayang, persaudaraan, dan kecintaan kepada sesama Muslim serta pemuliaan terhadap generasi Sahabat Nabi. Doktrin kebencian dan permusuhan yang diusung ajaran Syiah secara tegas ditolak oleh nas-nas otentik Al-Qur'an dan Hadits.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kaum Muslimin untuk berdoa memohon ampunan bagi para pendahulu dari kalangan Sahabat, bukannya melaknat mereka:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang lagi Maha Penyayang.'” (QS. Al-Hasyr: 10)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga melarang keras perselisihan, kebencian, dan perpecahan di antara sesama Muslim:
لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ
“Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengenai ancaman bagi orang yang mengafirkan atau menyesatkan sesama Muslim tanpa hak, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan:
إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
“Apabila seseorang mengafirkan saudaranya, maka tuduhan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari)
Dampak Bahaya Doktrin Kebencian bagi Keharmonisan Bangsa
Penyebaran doktrin kebencian Syiah terhadap Ahlus Sunnah membawa ancaman nyata bagi stabilitas sosial dan keagamaan di Indonesia:
Disintegrasi Umat dan Konflik Horizontal: Doktrin yang menanamkan kebencian kepada mayoritas penganut Sunnah berpotensi besar memicu gesekan sosial dan kerusuhan antar kelompok masyarakat.
Penistaan Agama: Praktik pencelaan terhadap para Sahabat dan istri Nabi merupakan bentuk penistaan terhadap simbol-simbol suci agama Islam yang diyakini oleh mayoritas warga Indonesia.
Penyusupan Pemikiran Radikal Sektarian: Penanaman dendam sejarah secara turun-temurun merusak tatanan toleransi dan ukhuwah Islamiyah yang telah dibangun oleh para ulama Nusantara selama berabad-abad.
Langkah Strategis Membentengi Umat dari Propaganda Kebencian
Untuk menjaga kesucian aqidah Islam dan ketenteraman masyarakat dari bahaya doktrin kebencian Syiah, langkah-langkah konkrit berikut perlu dijalankan secara konsisten:
Menguatkan Ajaran Ukhuwah dan Aqidah Ahlussunnah: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya mencintai seluruh Sahabat Nabi dan Ahlul Bait secara seimbang tanpa kebencian dan fanatisme sektarian.
Meningkatkan Kewaspadaan terhadap Infiltrasi Literasi: Mengawasi penyebaran buku, majalah, situs web, dan media sosial yang menyusupkan narasi-narasi pencelaan terhadap Sahabat Nabi atau ajaran Ahlus Sunnah.
Edukasi Kritis di Lembaga Pendidikan: Mengintegrasikan pemahaman teologis yang lurus dalam kurikulum sekolah dan pesantren agar para santri dan pelajar memiliki benteng imunitas terhadap propaganda Syiah.
Peran Aktif Tokoh Masyarakat dan Ulama: Mengimbau para dai dan ulama untuk secara tegas menyuarakan bahaya doktrin kebencian Syiah dengan pendekatan ilmiah, santun, dan berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
Menolak doktrin kebencian Syiah terhadap Ahlus Sunnah adalah upaya penting untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam, menjaga kehormatan para Sahabat Rasulullah, dan merawat kedamaian Umat Islam di Indonesia.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: