Syiahindonesia.com - Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu figur paling agung dalam sejarah Islam. Beliau merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW, sosok pemuda pertama yang memeluk Islam, pahlawan perang yang gagah berani, serta Khalifah Rasyid keempat yang diakui keutamaan dan keadilannya oleh seluruh kaum Muslimin. Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mencintai dan memuliakan Sayyidina Ali serta Ahlul Bait adalah kewajiban agama yang tak terpisahkan dari keimanan.
Namun, di dalam teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), penghormatan terhadap Sayyidina Ali telah melampaui batas (ghuluw) dan dicemari oleh fabrikasi (pemasulan) riwayat secara masif. Demi melegitimasi doktrin Wilayah (kepemimpinan mutlak), ke-maksum-an para Imam, hingga pengkafiran terhadap para Sahabat Nabi lainnya, para ideolog dan perawi Syiah menciptakan serta menyebarkan ribuan hadis palsu (maudhu') yang diklaim bersumber dari atau membahas tentang Ali bin Abi Thalib RA.
Berikut adalah pemaparan mendalam dan komprehensif mengenai kesalahan-kesalahan fatal teologi Syiah dalam merayakan dan menyebarkan hadis-hadis palsu seputar Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA:
1. Pemalsuan Hadis tentang Wasiat Kekhalifahan dan Kepemimpinan Mutlak
Kesalahan paling sentral dalam fabrikasi hadis versi Syiah adalah penciptaan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW secara eksplisit telah menetapkan Ali bin Abi Thalib RA sebagai khalifah pertama melalui wasiat yang wajib ditaati oleh seluruh umat.
Bentuk Penyimpangan: Para perawi Syiah meracik berbagai narasi palsu untuk menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mengangkat Ali sebagai khalifah pertama telah keluar dari Islam. Di antara narasi palsu yang sangat populer di kalangan Syiah adalah pemelintiran dan penambahan teks palsu pada peristiwa sejarah. Mereka membuat riwayat-riwayat klaim seperti: "Ali adalah washiku (penerima wasiatku) dan khalifahku di antara kalian setelahku, maka dengarkan dan taatilah dia."
Bantahan Ilmiah:
Pemeriksaan Sanad: Para imam kritikus hadis (Nuqqad al-Hadits) seperti Imam Al-Bukhari, Yahya bin Ma'in, dan Abu Hatim Ar-Razi telah membongkar bahwa riwayat-riwayat wasiat eksplisit tersebut bersumber dari jalur perawi-perawi wadhdha' (pemalsu hadis) dari kalangan Syiah Kufah yang berkedok pembela Ahlul Bait.
Sikap Sayyidina Ali RA Sendiri: Jika wasiat eksplisit itu benar-benar ada dan shahih dari Nabi SAW, tidak mungkin Sayyidina Ali RA bersedia membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum. Mengklaim adanya wasiat rahasia atau terang-terangan yang diabaikan oleh Ali sama saja dengan menuduh Sayyidina Ali penakut atau melakukan penipuan agama (taqiyyah) dalam urusan syariat yang paling mendasar.
2. Hadis-Hadis Ghuluw yang Mengangkat Kedudukan Ali ke Tingkat Ilahiah atau Setara Nabi
Kejahatan terbesar dari fabrikasi hadis Syiah adalah penyusupan narasi yang mengagungkan Sayyidina Ali secara berlebihan hingga mengikis batasan antara hak Pencipta (Khaliq) dan makhluk, serta menyamakan kedudukannya dengan kenabian.
Bentuk Penyimpangan: Dalam kitab-kitab induk Syiah seperti Al-Kafi dan Bihar al-Anwar, tersebar riwayat-riwayat palsu yang menyebutkan bahwa:
Dunia dan akhirat diciptakan karena Sayyidina Ali.
Sayyidina Ali mengetahui seluruh hal ghaib, melihat amalan seluruh manusia, dan memegang kunci surga serta neraka secara mutlak.
Diciptakannya riwayat palsu seperti: "Aku (Muhammad) dan Ali diciptakan dari satu cahaya yang sama ribuan tahun sebelum penciptaan alam semesta."
Bantahan Ilmiah: Fabrikasi ini berbenturan keras dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan pernyataan tegas dari Sayyidina Ali RA sendiri. Allah SWT menegaskan bahwa ilmu ghaib adalah milik Allah semata (QS. An-Naml: 65). Sayyidina Ali RA sendiri secara tegas membenci dan membasmi kelompok Ghulat (Sekte Saba'iyyah pengikut Abdullah bin Saba') yang mengagungkan beliau secara berlebihan. Dalam riwayat shahih, Ali RA pernah menegaskan:
"Dua kelompok manusia akan binasa karena aku: orang yang mencintaiku secara berlebihan (ghuluw) hingga menempatkanku pada kedudukan yang bukan hakku, dan orang yang membenciku hingga membawanya pada kedudukan menuduhku." (HR. Ahmad dalam Musnad).
3. Pemalsuan Hadis untuk Mencela dan Mengkafirkan Sahabat Nabi Lainnya
Perawi-perawi Syiah tidak hanya membuat hadis palsu untuk memuji Sayyidina Ali, tetapi juga secara aktif merekayasa riwayat palsu atas nama Sayyidina Ali untuk mencerca, melaknat, dan mengkafirkan Sahabat Nabi lainnya.
Bentuk Penyimpangan: Mereka menyebarkan hadis palsu yang mengeklaim bahwa Sayyidina Ali mengutuk Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anhum. Narasi-narasi palsu ini dirancang untuk menciptakan kesan seolah-olah terjadi permusuhan abadi dan dendam kesumat antara Ali dan para Sahabat lainnya.
Bantahan Ilmiah: Sejarah otentik mencatat keharmonisan dan ikatan kekeluargaan yang amat erat di antara mereka. Sayyidina Ali menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Selain itu, Sayyidina Ali menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab RA. Pemalsuan hadis celaan ini murni bertujuan untuk merobek persatuan Umat Islam dan memunculkan rasa benci sektarian.
4. Bahaya Mengancam Ancaman Rasulullah SAW tentang Pemalsu Hadis
Menyebarkan dan meyakini hadis-hadis palsu—meskipun dengan dalih "mencintai Ahlul Bait"—adalah dosa besar yang mengancam pelakunya dengan ancaman neraka secara langsung dari Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan secara mutawatir:
إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah ia bersiap-siap mengambil tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbuatan kelompok Syiah yang merekayasa sabda-sabda Nabi SAW demi kepentingan doktrin politik dan sektarianisme mereka adalah bentuk pencederaan berat terhadap kesucian wahyu dan ajaran Islam.
Kesimpulan
Sikap terbaik kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah memuliakan dan mencintai Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sesuai dengan porsinya yang agung: sebagai Khalifah Rasyid, Sahabat utama, dan keluarga tercinta Nabi SAW, tanpa harus memalsukan hadis, tanpa sikap ghuluw (berlebihan), dan tanpa membenci Sahabat Nabi lainnya.
Membongkar dan menolak hadis-hadis palsu olahan Syiah seputar Sayyidina Ali adalah bagian dari ikhtiar menjaga kemurnian Sunnah Nabi SAW dan membentengi akidah Umat Islam dari kebohongan yang dibungkus dengan nama kecintaan kepada Ahlul Bait.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: