Syiahindonesia.com - Khalifah Abu Ishaq Muhammad Al-Mu'tasim Billah rahimahullah merupakan salah satu penguasa tangguh dalam sejarah Kekhalifahan Abbasiyah. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang gagah berani, pelindung keutuhan imperium Islam, serta sosok pahlawan penakluk benteng Amorium (Amuriya) dalam perang melawan Kekaisaran Bizantium. Sejarah mencatat seruan ikonik "Wa Mu'tasimah!" dari seorang Muslimah yang ditawan tentara Romawi, yang direspons secara langsung oleh Khalifah Al-Mu'tasim dengan memimpin ribuan pasukan bergerak membela kehormatan umat Islam. Kendati memiliki rekam jejak perjuangan yang begitu cemerlang dalam mempertahankan kedaulatan Islam, nama besar Khalifah Al-Mu'tasim tidak luput dari serangan fitnah, pembunuhan karakter, dan penyimpangan narasi sejarah yang dilancarkan secara masif oleh kelompok Syiah.
Dalam narasi teologis dan propaganda sektarian Syiah, Khalifah Al-Mu'tasim dicitrakan sebagai sosok penguasa kejam, jahat, penindas keturunan Nabi, hingga dituduh bertanggung jawab atas wafatnya Imam Muhammad al-Jawad rahimahullah (Imam ke-9 versi Syiah Imamiyah). Pembentukan opini negatif ini dirancang secara sistematis untuk merusak kredibilitas para khalifah Ahlus Sunnah wal Jama'ah serta mendegradasi kejayaan sejarah peradaban Islam.
Untuk memahami akar kebohongan dan fitnah kelompok Syiah terhadap Khalifah Al-Mu'tasim, perlu ditinjau kembali konstelasi politik pada abad ke-3 Hijriah. Pada masa pemerintahannya (218–227 H / 833–842 M), Al-Mu'tasim mengambil berbagai kebijakan tegas untuk menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan negara dari ancaman disintegrasi internal maupun serangan luar.
Kelompok Syiah—yang senantiasa menolak keabsahan kekhalifahan selain dari jalur Imamah versi mereka—memandang pemerintahan Al-Mu'tasim sebagai rezim yang tidak sah (thaghut). Setiap tindakan hukum dan penertiban keamanan yang dilakukan oleh pihak kekhalifahan terhadap kelompok-kelompok rahasia sektarian diputarbalikkan menjadi narasi "penindasan Ahlul Bait". Dendam politik akibat kegagalan mewujudkan kekuasaan teokrasi Syiah melahirkan pabrikasi riwayat-riwayat palsu untuk mencemarkan nama baik sang Khalifah.
Membongkar Fitnah Pembunuhan Imam Muhammad al-Jawad
Tuduhan paling fiktif dan tajam yang ditiupkan oleh literatur Syiah kepada Khalifah Al-Mu'tasim adalah klaim bahwa beliau merancang pembunuhan Imam Muhammad al-Jawad rahimahullah dengan cara meracuninya di Baghdad pada tahun 220 H melalui perantara istrinya (Ummul Fadhl, putri Khalifah Al-Ma'mun).
Fitnah keji ini runtuh di hadapan penelusuran sejarah yang adil dan obyektif dari kitab-kitab tarikh terkemuka Ahlus Sunnah seperti Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir dan Siyar A'lam an-Nubala' karya Imam Adz-Dzahabi:
Wafat Secara Alami: Catatan sejarah otentik menegaskan bahwa Imam Muhammad al-Jawad wafat secara alami di Baghdad dalam usia yang sangat muda (sekitar 25 tahun). Tidak ada bukti historis berdasar sanad yang shahih yang menunjukkan adanya peracunan yang diinstruksikan oleh Al-Mu'tasim.
Penghormatan Pihak Istana: Khalifah Al-Mu meletakkan penghormatan kepada keluarga Muhammad al-Jawad. Ketika berita wafatnya beliau terdengar, pihak kekhalifahan ikut berduka dan memberikan prosesi pemakaman yang mulia di pemakaman Quraisy di Baghdad.
Pola Tuduhan Berulang: Syiah memiliki pola penulisan sejarah yang seragam di mana hampir setiap tokoh imam mereka yang wafat di era kekhalifahan Ahlus Sunnah selalu dituduh mati diracun oleh khalifah yang berkuasa pada zaman tersebut. Pola penulisan ini membuktikan adanya bias teologis untuk menciptakan mitos kemartiran (syahadah) sektarian.
Pembunuhan Karakter: Mengaburkan Kepahlawanan dan Kebijakan Negara
Selain tuduhan pembunuhan, kelompok Syiah berusaha mengecilkan dan mengaburkan peninggalan serta jasa besar Al-Mu'tasim dalam menjaga kedaulatan Islam. Beliau dicitrakan sebagai penguasa militeristis tanpa ilmu yang hanya mengandalkan tentara Turki.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menilai sosok Khalifah Al-Mu'tasim secara proporsional dan ilmiah:
Pahlawan Penjaga Kehormatan Umat: Keberanian beliau merespons jeritan seorang Muslimah yang diculik di Amorium dengan mengerahkan puluhan ribu pasukan hingga berhasil menaklukkan benteng terkuat Bizantium adalah fakta sejarah yang diakui dunia.
Ketaatan pada Penjagaan Negeri: Langkah beliau mereorganisasi militer dan memindahkan pusat pemerintahan ke Samarra dilakukan demi menjaga ketertiban masyarakat Baghdad serta efisiensi pertahanan imperium Islam dari ancaman musuh-Musuh Islam.
Imam Adz-Dzahabi menggambarkan karakter Khalifah Al-Mu'tasim dalam Siyar A'lam an-Nubala' sebagai sosok pemimpin yang memiliki keberanian luar biasa, kewibawaan tinggi, serta ketegasan dalam membela kedaulatan Islam:
وَكَانَ مِنْ أَشَجَّ المُلُوكِ وَأَعْظَمِهِمْ هَيْبَةً وَأَشَدِّهِمْ بَطْشًا بِأَهْلِ العَنَادِ
"Beliau termasuk di antara raja/khalifah yang paling berani, paling agung kewibawaannya, dan paling tegas tindakannya terhadap orang-orang yang melakukan pembangkangan (terhadap negara)."
Penegasan Al-Qur'an tentang Keadilan dan Melawan Fitnah
Tindakan kelompok Syiah yang gemar menyebarkan fitnah dan merusak reputasi para pemimpin Islam terdahulu bertentangan secara tegas dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui meadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Menilai tokoh-tokoh sejarah Islam harus bersandar pada prinsip tabayyun dan konfirmasi riwayat yang shahih, bukan pada dongeng dan rekayasa politik sektarian.
Mengantisipasi Propaganda Penyesatan Sejarah di Indonesia
Di Indonesia, upaya mendistorsi sejarah kekhalifahan Islam sering kali disusupkan oleh penganjur Syiah melalui penerbitan artikel media sosial, diskusi sejarah semu, dan buku-buku terjemahan yang bias. Tujuannya adalah untuk mendiskreditkan pahlawan-pahlawan Islam Ahlus Sunnah dan menanamkan rasa benci terhadap sejarah kejayaan Islam.
Langkah-langkah strategis untuk membentengi masyarakat dari fitnah ini meliputi:
Penguatan Literasi Sejarah Islam Berbasis Sanad Sahih: Mengajarkan sejarah Khilafah Abbasiyah secara jujur dan ilmiah melalui kitab-kitab standar seperti Tarikh at-Thabari, Al-Bidayah wa an-Nihayah, dan karya Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi.
Membongkar Pola Fabrikasi Riwayat Syiah: Mengedukasi para santri, mahasiswa, dan akademisi agar bersikap kritis terhadap narasi sejarah yang bersumber dari kitab-kitab kronik Syiah yang sarat dengan bias ideologis.
Mengangkat Kembali Narasi Kepahlawanan Islam: Menyebarluaskan kisah-kisah perjuangan nyata seperti penaklukan Amorium oleh Khalifah Al-Mu'tasim untuk membakar semangat izzah dan kebanggaan generasi muda Muslim.
Peran Aktif Dai dan Media Digital: Menghadirkan konten-konten edukatif di berbagai platform digital untuk membantah syubhat dan fitnah yang dilancarkan terhadap para tokoh Islam klasik.
Membongkar fitnah Syiah terhadap Khalifah Al-Mu'tasim merupakan bagian penting dari ikhtiar menjaga kehormatan para pemimpin dan pahlawan peradaban Islam. Dengan memahami sejarah secara jernih, lurus, dan berbasis keilmuan yang sah, umat Islam di Indonesia akan senantiasa terhindar dari pemutarbalikkan fakta yang dapat merusak akidah dan persatuan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: