Syiahindonesia.com - Pemeliharaan kemurnian aqidah dan ajaran Islam merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim. Sepanjang perjalanan sejarah Islam, berbagai paham dan pemikiran yang menyimpang dari petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah senantiasa bermunculan. Salah satu kelompok yang secara konsisten mengembangkan doktrin-doktrin kontroversial dan bertentangan dengan prinsip dasar Islam (Ahlussunnah wal Jama'ah) adalah ajaran Syiah. Upaya penetrasi dan penyebaran paham ini di tengah-tengah masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, dilakukan melalui berbagai media dan pendekatan spiritual yang dapat menyesatkan pemahaman kaum muslimin awam jika tidak disikapi dengan kewaspadaan dan literasi keagamaan yang kuat.
Doktrin Utama Syiah yang Menyimpang dari Ajaran Islam
Untuk mengenali bagaimana bentuk penyesatan yang dibawa oleh ajaran Syiah, penting untuk memahami poin-poin doktrinal utama yang menjadi pembeda mendasar antara Islam dan ajaran Syiah (khususnya Syiah Rafidhah / Imamiyah Itna 'Asyariyah):
1. Konsep Imamah sebagai Rukun Iman
Dalam Islam, rukun iman terdiri dari enam perkara yang dilandasi oleh nash-nash shahih. Namun, dalam ajaran Syiah, konsep Imamah (kepemimpinan spritual dan politik 12 Imam) diangkat menjadi rukun iman yang paling utama. Seseorang dianggap tidak beriman atau terancam keislamannya jika tidak memercayai kepemimpinan para imam tersebut. Doktrin ini secara tidak langsung mengeliminasi keabsahan iman mayoritas kaum Muslimin yang tidak meyakini konsep Imamah versi Syiah.
2. Doktrin Ma'shum (Infallibilitas) Para Imam
Ajaran Syiah meyakini bahwa para imam mereka memiliki sifat ma'shum (terbebas dari dosa dan kesalahan) layaknya para nabi. Bahkan, sebagian literatur ekstrem Syiah menempatkan derajat para imam di atas para nabi dan malaikat. Keyakinan ini bertentangan dengan prinsip Islam yang menegaskan bahwa sifat ma'shum hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala.
3. Tudingan Penyimpangan terhadap Para Sahabat Nabi
Salah satu penyimpangan paling mencolok dalam ajaran Syiah adalah pencelaan (tha'n) dan tuduhan murtad terhadap mayoritas Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, termasuk Abu Bakar ash-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum. Padahal, Al-Qur'an dan As-Sunnah telah memberikan persaksian atas kemuliaan dan keridhaan Allah terhadap para Sahabat.
Metodologi dan Upaya Penyesatan Kaum Muslimin
Kelompok Syiah memanfaatkan berbagai sarana dan strategi psikologis untuk melancarkan penyebaran paham mereka di tengah masyarakat Muslim:
1. Penerapan Doktrin Taqiyyah (Penyembunyian Identitas)
Taqiyyah atau berpura-pura menyembunyikan keyakinan sejati merupakan prinsip agama yang sangat ditekankan dalam doktrin Syiah. Dalam konteks sosialisasi di tengah mayoritas Muslim Sunnah, penganut Syiah sering kali menyembunyikan doktrin-doktrin mereka yang kontroversial. Mereka tampil seolah-olah hanya sebagai mazhab fikih biasa atau sekadar kelompok pecinta keluarga Nabi (Ahlul Bait), hingga calon pengikutnya siap menerima doktrin yang lebih ekstrem.
2. Eksploitasi Narasi Kecintaan kepada Ahlul Bait
Strategi paling efektif yang digunakan oleh Syiah untuk menarik simpati kaum Muslimin adalah membungkus ajaran mereka dengan propaganda kecintaan kepada Ahlul Bait (keluarga Rasulullah). Kaum Muslimin awam yang pada dasarnya mencintai keluarga Nabi kerap terjebak ke dalam narasi dramatatisasi sejarah yang penuh kedengkian terhadap para Sahabat Nabi, tanpa menyadari bahwa cara mencintai Ahlul Bait ala Syiah justru keluar dari rambu-rambu syariat Islam.
3. Legalisasi Nikah Mut'ah (Kawin Kontrak)
Salah satu pintu masuk penyebaran paham Syiah yang menyasar generasi muda adalah pembolehan dan bahkan penganjuran praktik Nikah Mut'ah. Dalam hukum Islam yang shahih, nikah mut'ah telah diharamkan secara mutlak hingga hari kiamat. Penghalalan kembali praktik ini oleh Syiah menjadi sarana manipulatif yang merusak tatanan moral dan norma pernikahan dalam Islam.
Bantahan Al-Qur'an dan As-Sunnah terhadap Penyimpangan Syiah
Segala bentuk penyimpangan dan pencelaan terhadap ajaran Islam serta para Sahabat Nabi terpatahkan secara langsung oleh dalil-dalil otentik dari Al-Qur'an dan Hadits.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan keridhaan-Nya kepada para Sahabat dalam firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Mengenai larangan mencela para Sahabat Nabi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda secara tegas:
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (infak) salah seorang dari mereka dan tidak pula separuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Terkait pengharaman Nikah Mut'ah secara abadi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sendiri:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ، وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الإِنْسِيَّةِ
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang nikah mut'ah dengan wanita pada hari Perang Khaibar dan melarang memakan daging keledai jinak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Strategi Membentengi Umat dari Bahaya Penyesatan Syiah
Untuk mengantisipasi penyebaran dan penyesatan ajaran Syiah di Indonesia, diperlukan langkah-langkah nyata dan berkesinambungan dari seluruh lapisan masyarakat Muslim:
Penguatan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah: Menggiatkan majelis ilmu, kajian rutin, dan pembelajaran Aqidah Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para Salafush Shalih di seluruh masjid dan lembaga pendidikan.
Edukasi Kritis Mengenai Bahaya Syiah: Memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat mengenai perbedaan fundamental antara ajaran Islam dan ajaran Syiah, sehingga kaum Muslimin memiliki imunitas terhadap propaganda tersembunyi.
Pengawasan Media dan Literatur: Mewaspadai peredaran buku, majalah, situs web, serta konten media sosial yang menyebarkan doktrin-doktrin Syiah berkedok dakwah Islam atau persatuan mazhab.
Penegakan Hukum dan Ketertiban: Mendorong lembaga keagamaan resmi (seperti Majelis Ulama Indonesia) dan pemerintah untuk terus memberikan panduan serta perlindungan hukum bagi Umat Islam dari potensi konflik sosial akibat penistaan terhadap Sahabat Nabi.
Memahami hakikat ajaran Syiah dan modus operandi penyebarannya adalah kunci utama dalam menjaga kemurnian aqidah Umat Islam di Indonesia. Dengan memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah serta meneladani Generasi Terbaik Islam, kaum Muslimin akan senantiasa terlindungi dari berbagai bentuk penyesatan paham.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: