Syiahindonesia.com - Mencintai dan memuliakan Ali bin Abi Thalib RA adalah bagian integral dari keimanan setiap muslim yang berafiliasi kepada Ahlussunnah wal Jama'ah. Beliau adalah menantu Rasulullah SAW, sepupu yang setia, singa medan perang, serta Khalifah Rasyid yang keempat. Keutamaan dan jasa beliau dalam membela panji Islam tercatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah yang valid.
Namun, kaum Syiah (Rafidhah) telah melangkah terlalu jauh. Dalam upaya melegitimasi doktrin politik dan sekte mereka, para mullah Syiah membangun narasi pengultusan yang berlebihan (ghuluw) terhadap Ali bin Abi Thalib RA. Klaim-klaim sepihak yang mereka ciptakan justru melahirkan kesalahan fatal yang menabrak prinsip dasar akidah Islam, logika sejarah, dan bahkan bertentangan dengan sikap pribadi Ali bin Abi Thalib sendiri.
1. Mengangkat Derajat Ali ke Tingkat Transendental dan Maksum
Kesalahan paling fatal dari doktrin Syiah adalah mengeklaim bahwa Ali bin Abi Thalib RA bersifat maksum (suci dari segala dosa, kesalahan, dan kelalaian) serta memiliki pengetahuan gaib mutlak (ilm al-ghaib). Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah, para imam mereka—termasuk Ali—diklaim mengatur atom-atom di alam semesta dan mengetahui kapan mereka akan mati.
Secara akidah Islam yang murni, sifat maksum dan menerima wahyu hanyalah hak eksklusif para nabi dan rasul. Ketika Syiah memberikan atribut kenabian dan ketuhanan ini kepada Ali, mereka secara tidak langsung telah merusak konsep finalitas kenabian Nabi Muhammad SAW. Mengultuskan seorang manusia hingga derajat di atas kemanusiaannya adalah pintu gerbang menuju penyimpangan teologis yang sangat berbahaya.
2. Membenturkan Keutamaan Ali dengan Merendahkan Sahabat Lain
Untuk meninggikan posisi Ali bin Abi Thalib RA, propaganda Syiah selalu menggunakan metode kontras yang destruktif: mereka mengecilkan, menuduh, bahkan mengafirkan para sahabat nabi yang lain, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Mereka mengeklaim bahwa hak kekhalifahan Ali telah dirampas secara zalim oleh ketiga khalifah pendahulunya.
Paradoks ini justru merendahkan martabat Islam itu sendiri. Jika generasi terbaik di sekeliling Nabi SAW dituduh sebagai para pengkhianat yang haus kekuasaan segera setelah Nabi wafat, maka hal itu secara tidak langsung menuduh Rasulullah SAW telah gagal mendidik para sahabatnya. Ahlussunnah memandang bahwa keutamaan Ali tidak perlu diraih dengan cara mencaci maki Abu Bakar atau Umar; semua sahabat memiliki kedudukan mulia di sisi Allah sesuai dengan porsi dan jasa mereka masing-masing.
3. Klaim Keutamaan Sepihak yang Dikontradiksikan oleh Sikap Ali
Setiap klaim yang dipaksakan oleh teolog Syiah mengenai "wasiat mutlak kepemimpinan Ali" selalu runtuh ketika dihadapkan pada realita sikap Ali bin Abi Thalib RA sendiri selama hidupnya.
Membaiat Para Khalifah: Sejarah mencatat secara valid bahwa Ali bin Abi Thalib secara sukarela membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Beliau bahkan menjadi penasihat utama di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
Hubungan Kekeluargaan: Hubungan erat ini diperkuat secara biologis ketika Ali menikahkan putrinya, Ummu Kultsum (anak dari Fatimah az-Zahra), dengan Umar bin Khattab.
Penamaan Anak: Sebagai bentuk cinta dan penghormatan, Ali menamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali (yang beberapa di antaranya ikut gugur syahid bersama Husain di Karbala).
Jika kaum Syiah mengeklaim para sahabat adalah musuh dan perampas hak Ali, mengapa Ali justru membaiat mereka, menikahkan putrinya dengan mereka, dan menamai anak-anaknya dengan nama mereka? Sikap legawa dan persaudaraan yang ditunjukkan oleh Ali ini mematikan seluruh narasi dendam sejarah yang dipelihara oleh sekte Syiah.
4. Penyalahgunaan dan Pemalsuan Riwayat Teks
Untuk mendukung klaim-klaim mereka yang tidak masuk akal, para mubaligh Syiah sering kali memotong konteks hadis-hadis keutamaan (fadha'il) Ali atau bahkan memproduksi riwayat-riwayat palsu. Sebagai contoh, hadis kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa (HR. Bukhari & Muslim) dipelintir seolah-olah Ali adalah pengganti Nabi secara mutlak dalam segala hal.
Padahal, hadis tersebut diucapkan Nabi ketika Ali diminta tinggal di Madinah untuk menjaga wanita dan anak-anak saat Perang Tabuk. Nabi menghibur Ali yang sedih karena tidak bisa ikut berperang dengan menyamakannya seperti Harun yang ditinggal Musa untuk menjaga kaumnya sementara waktu. Memotong konteks sejarah (asbabur wurud) demi kepentingan teologi politik adalah bentuk distorsi ilmiah yang sangat fatal.
Kesimpulan
Kesalahan fatal kaum Syiah dalam mengeklaim keutamaan Ali bin Abi Thalib RA berakar dari sikap ekstrem (ghuluw) yang mengabaikan teks al-Qur'an dan realita sejarah yang jernih. Mereka menciptakan sosok "Ali fiktif" yang penuh dendam dan terzalimi, demi memuaskan kepentingan ideologis sekte mereka.
Bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, Ali bin Abi Thalib RA adalah figur teladan yang agung justru karena ketulusannya, kepatuhannya pada musyawarah kaum muslimin, dan cintanya yang besar kepada para sahabat Nabi lainnya. Menolak pengultusan ala Syiah dan mendudukkan keutamaan Ali secara proporsional adalah cara terbaik untuk memuliakan serta menjaga warisan suci yang ditinggalkan oleh sang Khalifah Rasyid tersebut.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: