Syiahindonesia.com - Dalam lanskap pemikiran Islam, menjaga kemurnian akidah merupakan kewajiban yang mendasar bagi setiap muslim. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni) dari abad ke abad adalah masifnya gerakan propaganda yang dilancarkan oleh sekte Syi'ah Rafidhah. Agar ajaran mereka yang penuh inkonsistensi teologis dapat diterima oleh masyarakat luas, kaum Syiah merancang berbagai strategi propaganda visual, tekstual, dan sosiologis yang sangat rapi untuk mengaburkan batasan antara kebenaran dan kesesatan.
Di Indonesia dan berbagai belahan dunia Islam lainnya, propaganda ini bergerak secara halus demi memikat hati umat Islam yang awam. Artikel ini akan membedah strategi penyesatan teologis dan pola propaganda sistematis yang terus dimainkan oleh para misionaris Syiah untuk menjerat kaum muslimin.
1. Topeng "Persatuan Islam" (Taqrib) dan Kepalsuan Persaudaraan
Salah satu senjata propaganda paling ampuh yang sering digunakan oleh tokoh-tokoh Syiah modern adalah jargon Taqrib (pendekatan/rekonsiliasi antara Sunni dan Syiah) serta seruan persatuan umat. Di forum-forum internasional maupun seminar akademis, mereka selalu mengampanyekan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah sebatas masalah fikih (furu'iyyah) minor dan dinamika politik masa lalu.
Namun, jargon persatuan ini hanyalah sebuah kosmetik luar. Di balik panggung formal, kitab-kitab rujukan utama mereka tetap menetapkan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah berada pada level Usuluddin (pokok-pokok keimanan). Seseorang tidak dianggap mukmin yang sah dalam teologi Syiah jika tidak mengimani doktrin Imamah (12 imam maksum). Propaganda persatuan ini sengaja diembuskan agar umat Islam Sunni menurunkan kewaspadaan mereka, membiarkan infiltrasi ajaran Syiah masuk ke lembaga-lembaga pendidikan, dan memaklumi penyimpangan akidah atas nama toleransi.
2. Praktis "Taqiyyah": Legalisasi Kedustaan demi Misi Teologis
Memahami propaganda Syiah tidak akan lengkap tanpa membedah doktrin Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan asli dan menampakkan sebaliknya). Berbeda dengan konsep Islam yang murni di mana menyembunyikan iman hanya diperbolehkan dalam kondisi darurat medis atau ancaman pembunuhan nyata, dalam sekte Syiah, Taqiyyah adalah bagian dari ibadah utama yang wajib dijalankan kapan saja demi maslahat sekte.
Ulama-ulama mereka merumuskan bahwa "tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki taqiyyah." Akibatnya, ketika berhadapan dengan mayoritas umat Islam Sunni, misionaris Syiah akan:
Mengaku bahwa mereka juga mencintai para sahabat Nabi.
Melakukan salat dengan melipat tangan (sedekap) mengikuti cara Sunni demi membaur.
Mengklaim menghormati istri-istri Nabi, termasuk Aisyah RA.
Namun, begitu mereka berada di komunitas internal mereka atau ketika kekuatan mereka sudah mendominasi, wajah asli yang penuh dengan doktrin pelaknatan terhadap sahabat dan pengafiran jemaah kaum muslimin awal akan kembali ditampilkan. Taqiyyah menjadikan propaganda mereka sangat licin dan sulit dideteksi oleh masyarakat awam.
3. Komodifikasi Isu "Ahlul Bait" untuk Memancing Simpati
Propaganda sosiologis yang paling sering memakan korban di kalangan umat Islam adalah eksploitasi kecintaan terhadap Ahlul Bait (keluarga Rasulullah SAW). Setiap muslim yang lurus pasti mencintai, menghormati, dan bersalawat kepada keluarga Nabi yang beriman, seperti Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan, dan Husain.
Celah psikologis inilah yang dimanfaatkan oleh Syiah. Mereka membangun narasi seolah-olah hanya kelompok merekalah yang mencintai dan membela hak-hidup Ahlul Bait, sementara umat Islam di luar Syiah dicap sebagai pembenci keluarga Nabi (Nashibi). Mereka membungkus ajaran kelompoknya dengan baju "Cinta Rasul dan Keluarga", padahal esensi ajaran mereka justru mengultuskan individu secara berlebihan hingga taraf maksum dan menodai kesucian Islam dengan dongeng-dongeng mistis yang tidak pernah diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib maupun keturunannya sendiri.
4. Infiltrasi Melalui Yayasan Sosial dan Beasiswa Pendidikan
Di era kontemporer, propaganda Syiah bergerak melampaui sekadar mimbar khotbah. Mereka mendirikan berbagai yayasan kebudayaan, lembaga kajian ilmiah, pusat publikasi buku, hingga lembaga donor kemanusiaan. Melalui jalur-jalur formal ini, mereka menawarkan bantuan sosial kepada masyarakat miskin dan menyediakan program beasiswa pendidikan gratis ke pusat-pusat studi Syiah di luar negeri (seperti di Qom, Iran).
Strategi ini menyasar para pemuda dan intelektual muslim. Ketika para mahasiswa awam ini belajar di sana, mereka dicekoki dengan metodologi sejarah yang telah terdistorsi secara perlahan. Sekembalinya mereka ke tanah air, mereka bertransformasi menjadi agen-agen intelektual yang bertugas menyebarkan syubhat, menggugat kemapanan akidah Ahlussunnah, dan merontokkan benteng keimanan masyarakat dari dalam institusi pendidikan.
Kesimpulan
Propaganda yang dilancarkan oleh sekte Syiah adalah bentuk penyesatan terstruktur yang memanfaatkan keawaman umat Islam terhadap detail sejarah dan akidah mereka sendiri. Dengan menggunakan topeng persatuan, memanipulasi kecintaan pada Ahlul Bait, serta melegalisasi kedustaan melalui Taqiyyah, sekte ini terus berupaya menggeser kiblat pemikiran umat Islam dari kemurnian sunnah menuju jurang pemikiran Rafidhah yang penuh dendam sejarah.
Bagi kaum muslimin di Indonesia, mengenali pola-pola propaganda ini secara ilmiah dan kritis adalah kunci utama untuk menyelamatkan generasi mendatang. Meneguhkan kembali kajian-kajian akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang berlandaskan dalil Al-Qur'an dan Hadis yang shahih merupakan benteng kokoh yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh infiltrasi syubhat sekte mana pun.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: