Syiahindonesia.com - Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah adalah salah satu figur paling mulia dalam sejarah peradaban Islam. Beliau adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW, pahlawan pemberani di berbagai medan perang, pintu gerbang ilmu, serta Khalifah keempat yang sah dalam jajaran Khulafaur Rasyidin. Umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah menempatkan Sayyidina Ali pada kedudukan yang sangat terhormat, mencintai beliau dengan ketulusan iman, dan menjadikannya sebagai teladan utama dalam zuhud, ilmu, dan keadilan.
Namun, di dalam doktrin teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), kedudukan Sayyidina Ali telah digeser keluar dari batas-batasan syariat yang rasional. Demi melegitimasi konsep kepemimpinan absolut (Imamah), para ideolog Syiah menciptakan pabrikasi kedustaan dan riwayat fiktif yang mengangkat derajat Sayyidina Ali secara berlebihan (Ghuluw). Mereka tidak hanya menyetarakan kedudukan Ali dengan Nabi, tetapi pada tingkat tertentu, teolog-teolog ekstrem Syiah memberikan sifat-sifat ketuhanan (Uluhiyyah) kepada beliau. Pengkultusan individu secara membabi buta ini justru menodai kemurnian tauhid dan mencederai karakter asli Sayyidina Ali yang sangat membenci sikap ekstrem tersebut.
1. Kedustaan Konsep Wilayah Takwiniyyah (Menguasai Atom Semesta)
Kedustaan paling ekstrem yang bersarang di dalam kitab-kitab induk akidah Syiah mengenai Sayyidina Ali adalah doktrin Wilayah Takwiniyyah. Ulama-ulama besar Syiah, termasuk tokoh modern mereka seperti Ayatullah Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumah al-Islamiyyah, menetapkan bahwa para Imam mereka—dimulai dari Sayyidina Ali—memiliki otoritas kosmik atas alam semesta.
Di dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini, diproduksi riwayat-riwayat palsu yang mengklaim bahwa Sayyidina Ali memegang kunci takdir, mengatur turunnya hujan, mengendalikan pergerakan atom di alam semesta, serta mengetahui seluruh ilmu gaib yang ada di langit dan di bumi. Doktrin ini jelas-jelas meruntuhkan fondasi tauhid, karena sifat-sifat tersebut merupakan hak prerogatif mutlak milik Allah SWT semata. Menyematkan kemampuan mengatur alam semesta kepada makhluk, sekalipun itu adalah seorang Sahabat Nabi, adalah bentuk syirik akbar (kesyirikan yang besar) yang dibungkus dengan atas nama kecintaan kepada Ahlul Bait.
2. Klaim Penyetaraan Derajat Ali dengan Rasulullah SAW
Sekte Syiah juga membangun narasi dusta yang menyatakan bahwa secara esensi spiritual, derajat Sayyidina Ali adalah setara dan sebanding dalam segala hal dengan Rasulullah SAW, kecuali dalam urusan menerima wahyu kenabian. Demi memuluskan klaim ini, mereka kerap kali menyalahgunakan ayat-ayat Al-Qur'an, salah satunya adalah Ayat Mubahalah (Surah Ali 'Imran: 61).
Dalam ayat tersebut, terdapat frasa:
أَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ
“...diri kami dan diri kamu...”
Ulama Syiah mengklaim bahwa ketika Nabi SAW membawa Ali dalam peristiwa mubahalah, kata anfusana (diri kami) menunjukkan bahwa Ali adalah "jiwa" atau pencerminan langsung dari diri Rasulullah SAW sendiri. Dari sini mereka mengambil kesimpulan keliru bahwa apa yang melekat pada diri Nabi (maksum, wajib ditaati secara mutlak, sumber syariat) secara otomatis melekat pada diri Ali.
Bantahan Ilmiah:
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa penggunaan frasa anfusana dalam bahasa Arab tidak selalu berarti kesetaraan esensi biologis atau derajat spiritual. Frasa tersebut digunakan untuk menunjukkan kedekatan hubungan kekerabatan, cinta, dan aliansi yang erat, sebagaimana Allah juga menggunakan kata serupa dalam ayat lain untuk menggambarkan hubungan antar-sesama Muslim. Mengangkat kedudukan Ali hingga sejajar dengan nabi penutup (Khatamun Nabiyyin) adalah bentuk pelecehan terhadap keistimewaan kedudukan Rasulullah SAW yang tidak tertandingi oleh manusia mana pun.
3. Sikap Nyata Sayyidina Ali: Memerangi Kaum Pengkultus
Ironisme terbesar dari seluruh kedustaan Syiah mengenai kedudukan Sayyidina Ali adalah fakta sejarah bahwa Sayyidina Ali sendiri adalah sosok yang paling keras memerangi orang-orang yang mengkultuskannya.
Pada masa kekhalifahannya, muncul kelompok ekstrem awal (embrio sekte Syiah Saba'iyyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba') yang mendatangi Ali dan berkata, "Engkau adalah Dia (Tuhan)!" Menanggapi kesesatan yang sangat keji ini, Sayyidina Ali tidak merasa bangga ataupun membenarkannya. Sebaliknya, beliau sangat marah, menyuruh mereka bertobat, dan ketika mereka menolak, Sayyidina Ali memerintahkan untuk membuat parit berapi dan membakar hidup-hidup orang-orang yang menuhankannya tersebut demi menjaga kesucian tauhid.
Rasulullah SAW sendiri sebenarnya telah memberikan nubuwah (prediksi) mengenai munculnya dua kelompok yang akan celaka karena menyikapi Ali secara keliru, sebagaimana diriwayatkan dalam musnad Imam Ahmad, di mana Ali berkata:
يَهْلِكُ فِيَّ رَجُلَانِ: مُحِبٌّ غَالٍ، وَمُبْغِضٌ قَالٍ
“Akan celaka karena urusanku dua golongan manusia: orang yang mencintaiku secara berlebihan (ekstrem/ghuluw) dan orang yang membenciku secara berlebihan.”
Kelompok Syiah adalah representasi nyata dari golongan pertama (muhibbun ghalin), yang celaka karena mengangkat kedudukan Ali melampaui batas kemanusiaan dan syariat.
Bahaya Propaganda Pengkultusan Ali di Indonesia
Di Indonesia, propaganda mengenai kedudukan mistis Sayyidina Ali ini disebarkan melalui pendekatan seni, filsafat sufisme semu, dan kajian-kajian "makrifat" yang tidak berlandaskan syariat lurus. Para propagandis Syiah mencoba menyusupkan pemikiran bahwa berislam tidak akan sempurna tanpa mengimani kekuatan spiritual Ali yang bersifat supranatural.
Jika doktrin Ghuluw ini berhasil meracuni pemikiran umat Islam awam, dampak destruktifnya sangat fatal:
Peralihan Ibadah dan Doa: Umat akan digiring untuk melakukan kesyirikan nyata, seperti berdoa dan beristigatsah langsung kepada Ali dengan seruan "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah kami), alih-alih meminta langsung kepada Allah SWT.
Merendahkan Sahabat Lain: Ketika Ali digambarkan sebagai makhluk kosmik yang maksum, maka tiga khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar, Utsman) akan dengan mudah dicitrakan sebagai manusia-manusia biasa yang penuh dosa dan inferior. Ini taktik sistematis untuk menghancurkan legitimasi Khulafaur Rasyidin secara keseluruhan.
Kesimpulan
Segala bentuk klaim kelompok Syiah mengenai kedudukan metafisik, Wilayah Takwiniyyah, maupun penyetaraan derajat Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Rasulullah SAW adalah kedustaan teologis yang nyata. Doktrin-doktrin pengkultusan tersebut bertentangan secara frontal dengan Al-Qur'an, sunnah yang shahih, serta sikap tegas yang ditunjukkan oleh Sayyidina Ali sendiri sepanjang hidupnya.
Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah pengikut setia Sayyidina Ali yang sejati. Kita mencintai beliau sebagai ahli surga, menantu kesayangan Nabi, dan pemimpin yang adil, tanpa harus terjerumus ke dalam khurafat kultus individu versi Syiah. Membentengi umat Islam Indonesia dari narasi-narasi dusta ini adalah tugas krusial untuk menjaga kemurnian tauhid dari noda kesyirikan sektarian.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: