Syiahindonesia.com - Dalam diskursus perbandingan mazhab, salah satu doktrin sekte Syi'ah Rafidhah Imamiyyah yang paling mengguncang sistem akidah umat Islam adalah pandangan mereka terhadap generasi sahabat Nabi SAW. Bagi kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama'ah, para sahabat Radhiallahu 'Anhum adalah artikulator utama risalah Islam, generasi terbaik yang dipuji langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an, serta perantara suci yang menyampaikan Al-Qur'an dan Sunnah kepada generasi berikutnya.
Namun, di tengah-tengah masyarakat, sering terdengar sebuah klaim yang sangat ekstrem: Benarkah Syiah menganggap semua sahabat Nabi murtad (keluar dari Islam) setelah Rasulullah SAW wafat? Untuk mengantisipasi penyebaran syubhat dan memberikan edukasi yang detail, ilmiah, serta berbasis data autentik, artikel ini akan membedah teks-teks dalam kitab induk Syiah untuk membuktikan orisinalitas doktrin mereka yang sangat berbahaya ini.
Kesaksian Kitab-Kitab Induk Syiah: Kebenaran di Balik Klaim Pengafiran
Menjawab pertanyaan di atas, tuduhan bahwa Syiah mengeklaim mayoritas sahabat Nabi murtad bukanlah sebuah fitnah atau kesalahpahaman. Hal ini adalah fakta teologis yang tertulis secara vulgar, hitam di atas putih, di dalam kitab-kitab hadis rujukan utama mereka sendiri.
Tokoh besar dan teolog utama mereka, Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini, menulis di dalam kitabnya yang paling sakral, Al-Kafi (Jilid 8, Halaman 245), sebuah riwayat yang diklaim berasal dari Imam Muhammad al-Baqir:
كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِلَّا ثَلَاثَةً
"Manusia (para sahabat) seluruhnya murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi, kecuali tiga orang saja."
Ketika perawi bertanya siapakah tiga orang yang selamat dari kemurtadan massal tersebut, riwayat Syiah itu menjawab: Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. Dalam beberapa riwayat pelengkap di kitab mereka yang lain, seperti Ikhtiyar Ma'rifat ar-Rijal karya Al-Khasyi, ditambahkan nama Ammar bin Yasir dan Ali bin Abi Thalib RA.
Fakta tekstual ini membuktikan secara benderang bahwa dalam struktur teologi Syiah, puluhan ribu sahabat Nabi yang ikut serta dalam Baiatur Ridhwan, Perang Badar, Perang Uhud, hingga Fathu Makkah, semuanya divonis telah keluar dari Islam segera setelah Rasulullah SAW mengembuskan napas terakhir.
Mengapa Syiah Mengafsirkan Generasi Terbaik Islam?
Hulu dari lahirnya vonis murtad massal ini adalah karena para sahabat Nabi menolak konsep Imamah (kepemimpinan 12 imam versi Syiah). Syiah meyakini bahwa sebelum wafat, Rasulullah SAW telah menerima wahyu untuk menunjuk Ali bin Abi Thalib RA sebagai khalifah pertama secara mutlak dan maksum.
Ketika Nabi SAW wafat, dan para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk bermusyawarah hingga akhirnya sepakat membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai khalifah berdasarkan prinsip Syura, Syiah menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pembangkangan terbesar terhadap perintah Allah. Di mata teologi Syiah, memilih Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai pemimpin adalah dosa besar yang membatalkan seluruh keislaman seseorang. Oleh karena itu, siapa saja yang rida dan ikut membaiat tiga khalifah pertama dianggap telah murtad secara otomatis.
Kontradiksi Radikal dengan Ayat-Ayat Al-Qur'an
Doktrin pengafiran massal yang dipelihara oleh para mullah Syiah ini berbenturan secara diametral dengan kesaksian Allah SWT di dalam Al-Qur'an. Allah telah memberikan stempel "rida" dan jaminan surga kepada para sahabat Muhajirin dan Anshar. Salah satunya termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Logika keimanan yang lurus tentu akan bertanya: Bagaimana mungkin Allah SWT menyatakan rida dan menjanjikan surga yang kekal kepada sekelompok manusia, jika Allah yang Maha Mengetahui masa depan tahu bahwa mereka semua akan murtad beberapa tahun kemudian? Menuduh para sahabat murtad sama saja dengan menuduh Al-Qur'an telah memberikan informasi yang keliru, dan ini adalah pintu gerbang menuju kekufuran yang nyata.
Dampak Merusak dari Doktrin Pengafiran Sahabat
Klaim Syiah bahwa para sahabat telah murtad memiliki konsekuensi sistemis yang meruntuhkan bangunan agama Islam dari akarnya:
Gugurnya Otentisitas Al-Qur'an dan Hadis: Al-Qur'an yang kita baca hari ini dikumpulkan dan dibukukan di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, lalu diriwayatkan secara mutawatir oleh para sahabat lainnya. Jika para pengumpul dan periwayat ini divonis murtad dan pengkhianat, maka secara otomatis validitas Kitab Suci dan Sunnah Nabi akan runtuh. Inilah mengapa ulama klasik Syiah akhirnya terpaksa melahirkan doktrin Tahrif (tuduhan bahwa Al-Qur'an telah diubah oleh sahabat).
Menuduh Kegagalan Dakwah Rasulullah SAW: Jika seorang nabi berdakwah selama 23 tahun dan setelah beliau wafat, persentase pengikutnya yang murtad mencapai 99,9% (hanya tersisa 3 sampai 5 orang), maka secara tidak langsung doktrin Syiah ini menuduh bahwa misi dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah kegagalan total di sepanjang sejarah umat manusia. Na'udzubillah.
Propaganda "Taqiyyah" Syiah di Era Modern
Di hadapan publik mayoritas Muslim Sunni di Indonesia, para misionaris Syiah kontemporer sering kali menggunakan tameng Taqiyyah (berbohong demi maslahat sekte) untuk menutupi doktrin ekstrem ini. Mereka akan mengeklaim, "Kami tidak mengafirkan sahabat, kami hanya mengkritik ijtihad politik mereka." atau "Itu hanyalah riwayat usang yang tidak kami pakai lagi."
Namun, tipu daya ini langsung sirna ketika kita memeriksa kurikulum internal madrasah mereka dan ritual-ritual keagamaan mereka (seperti melaknat dua berhala Quraisy yang merujuk pada Abu Bakar dan Umar). Selama kitab Al-Kafi dan kitab-kitab hadis utama mereka tetap dijadikan rujukan mutlak dalam menetapkan hukum dan akidah, maka doktrin pengafiran sahabat akan selalu menjadi akidah inti yang mereka sembunyikan di balik topeng pencitraan.
Kesimpulan
Berdasarkan investigasi tekstual dari kitab-kitab primer mereka, adalah sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan bahwa Syiah mengafirkan dan menganggap mayoritas sahabat Nabi SAW telah murtad, kecuali segelintir orang saja. Doktrin kebencian ini bukan sekadar pemikiran alternatif, melainkan sebuah kanker teologis yang merusak legitimasi sumber hukum Islam dan merendahkan integritas Rasulullah SAW beserta generasi terbaiknya.
Bagi kaum muslimin di Indonesia, mengetahui realitas akidah Syiah yang sesungguhnya adalah benteng paling krusial untuk menjaga diri dari infiltrasi ideologi Rafidhah. Mempertahankan kehormatan para sahabat Nabi bukan hanya masalah menghormati sejarah, melainkan bentuk jihad ilmiah untuk mempertahankan kemurnian Al-Qur'an dan Sunnah di bumi nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: