Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebencian terhadap Khalifah yang Diakui oleh Islam

 


Syiahindonesia.com -
Pilar kekuatan peradaban Islam pasca-wafatnya Rasulullah SAW terletak pada fondasi kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum adalah para pemimpin yang dipilih melalui ijmak (kesepakatan) para Sahabat, dibimbing oleh nilai-nilai Al-Qur'an, dan berhasil memperluas syiar Islam hingga ke berbagai penjuru dunia. Integritas moral, keadilan, dan ketulusan mereka dalam membela dakwah Nabi telah diakui oleh segenap umat Islam lintas generasi.

Namun, dalam narasi teologis sekte Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), ketiga khalifah mulia ini justru ditempatkan sebagai musuh utama agama. Di balik jargon cinta kepada Ahlul Bait, gerakan Syiah secara konsisten memelihara, memproduksi, dan menyebarkan narasi kebencian (subb wa la'n) terhadap para khalifah yang sah. Kebencian dogmatis ini bukan sekadar masalah sentimen sejarah, melainkan telah diangkat menjadi bagian dari ritual ibadah dan rukun akidah di dalam literatur rujukan utama mereka.

Berikut adalah tinjauan ilmiah mengenai hakikat doktrin kebencian Syiah terhadap para khalifah Islam dan dampaknya yang destruktif bagi ukhuwah Islamiyah:

1. Doktrin Tabarra’: Mewajibkan Kebencian dan Permusuhan

Dalam teologi Syiah, iman seseorang tidak akan dianggap sah hanya dengan mencintai para Imam (Wilayah), melainkan harus disandingkan dengan doktrin Tabarra’ (berlepas diri dan membenci). Pihak pertama yang wajib dibenci, dilaknat, dan dikafirkan dalam doktrin tabarra’ ini adalah Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Utsman).

Ulama-ulama rujukan Syiah klasik seperti Al-Majlisi dalam kitab raksasanya Biharul Anwar secara terang-terangan menulis bahwa siapa saja yang tidak mengafirkan Abu Bakar dan Umar, maka dia adalah kafir. Mereka bahkan menciptakan doa khusus yang dipenuhi sumpah serapah, seperti doa Shanamay Quraisy (Dua Berhala Quraisy), yang ditujukan untuk melaknat Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar di setiap pengujung salat mereka. Kebencian yang dilembagakan secara teologis ini menjadi motor penggerak fanatisme buta di kalangan penganut Syiah.

2. Narasi Manipulatif: Menuduh Sahabat Merebut Hak Kekhalifahan

Akar dari munculnya kebencian ini adalah doktrin politik Imamah fiktif yang dibangun oleh para ideolog Syiah. Mereka mengklaim bahwa Rasulullah SAW telah menunjuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti langsung beliau secara maksum (terjaga dari dosa) melalui wahyu ilahi.

Berdasarkan premis cacat tersebut, kelompok Syiah menyimpulkan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah melakukan "kudeta spiritual" dan merampas hak Ali bin Abi Thalib. Para Sahabat mulia yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka di perang Badar, Uhud, dan Khandaq dituduh murtad massal pasca-wafatnya Nabi hanya demi memperebutkan kekuasaan politik duniawi. Narasi distortif inilah yang terus dicekokkan kepada pengikut Syiah untuk memantik rasa dendam historis yang tak berkesudahan.

3. Kontradiksi Nyata dengan Sikap dan Keteladanan Sayyidina Ali

Upaya Syiah untuk memelihara kebencian terhadap para khalifah terdahulu sangat bertolak belakang dengan fakta sejarah otentik mengenai hubungan riil antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan ketiga rekannya tersebut. Pembelaan Syiah yang diklaim demi Sayyidina Ali justru mengerdilkan dan melecehkan karakter asli sang Imam yang dikenal ksatria, jujur, dan berintegritas.

Dalam lembaran sejarah yang valid, Ali bin Abi Thalib hidup berdampingan secara harmonis dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman:

  • Menjadi Penasihat Utama: Sayyidina Ali secara sukarela berbaiat dan menjadi menteri serta penasihat teologis utama bagi Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam mengambil keputusan-keputusan krusial negara.

  • Ikatan Kekeluargaan: Sayyidina Ali menikahkan putri kandungnya, Ummu Kultsum (anak dari Sayyidah Fatimah), dengan Khalifah Umar bin Khattab. Jika Umar adalah seorang musuh atau perampas seperti yang dituduhkan Syiah, tentu mustahil seorang ksatria seperti Sayyidina Ali akan menyerahkan putri tercintanya untuk dinikahi.

  • Pemberian Nama: Bentuk cinta yang tulus ditunjukkan Sayyidina Ali dengan menamai anak-anak kandungnya sendiri dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Sikap hormat dan persaudaraan yang ditunjukkan oleh Ahlul Bait yang asli ini secara sengaja dikubur oleh ulama Syiah demi mempertahankan orisinalitas sekte mereka yang berbasis pada perpecahan.

4. Meruntuhkan Jalur Transmisi Wahyu dan Syariat Islam

Dampak paling berbahaya dari penyebaran fitnah dan kebencian terhadap para khalifah ini adalah runtuhnya otoritas syariat Islam itu sendiri. Perlu disadari bahwa Al-Qur'an yang kita baca hari ini dikumpulkan, dibukukan, dan disebarluaskan ke seluruh dunia di bawah pengawasan langsung dan kebijakan para khalifah, khususnya Khalifah Utsman bin Affan (Mushaf Utsmani).

Ribuan hadits shahih yang menjelaskan tata cara salat, zakat, puasa, dan haji ditransmisikan melalui jalur para Sahabat, termasuk melalui lisan Ibunda Aisyah (putri Abu Bakar) dan Hafshah (putri Umar). Ketika Syiah berhasil meracuni umat untuk membenci dan mengafirkan para perantara wahyu ini, maka secara otomatis validitas Al-Qur'an dan Sunnah di mata umat akan ikut runtuh. Inilah target akhir dari konspirasi ideologis yang diusung oleh sekte tersebut.

Kesimpulan: Menjaga Kehormatan Sahabat adalah Menjaga Islam

Kebencian kelompok Syiah terhadap para khalifah rasyidin yang diakui Islam merupakan bukti nyata bahwa pergerakan ini membawa misi yang merusak dari dalam tubuh umat Islam. Slogan persatuan yang kerap mereka gaungkan di forum-forum internasional hanyalah bagian dari strategi taqiyyah (kamuflase) untuk meredam kewaspadaan kaum Muslimin Sunni.

Umat Islam di Indonesia wajib membentengi diri dengan memahami kedudukan mulia para Sahabat Nabi. Mencintai Ahlul Bait tidak boleh dilakukan dengan cara membenci para Sahabat, karena keduanya adalah satu kesatuan yang saling mendukung dalam perjuangan dakwah Islam awal. Dengan terus menghidupkan literasi sejarah yang lurus dan menjaga lisan dari mencaci maki para kekasih Rasulullah SAW, kita dapat menjaga kemurnian akidah umat dan menyelamatkan bumi nusantara dari infiltrasi ideologi kebencian sekte Syiah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: