Syiahindonesia.com – Di dalam Islam, akidah merupakan fondasi utama yang menentukan sah atau tidaknya seluruh amal ibadah seorang hamba di hadapan Allah SWT. Akidah yang lurus adalah akidah yang bersumber murni dari petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW yang shahih, sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik Islam, yaitu para sahabat Radhiallahu 'Anhum.
Namun, sekte Syi'ah Rafidhah (khususnya Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah) telah merumuskan bangunan teologi yang keluar dari jalur utama yang telah disepakati oleh mayoritas kaum muslimin (Ahlussunnah wal Jama'ah). Mereka menyisipkan dogma-dogma baru yang memicu penyimpangan fundamental dalam sendi-sendi peribadatan dan keyakinan. Artikel ini akan membedah poin-poin krusial penyimpangan akidah Syiah ditinjau dari kacamata syariat Islam yang murni.
1. Merombak Rukun Iman Melalui Doktrin "Imamah"
Penyimpangan paling mendasar dan menjadi poros dari seluruh ajaran Syiah terletak pada doktrin Imamah (kepemimpinan 12 imam maksum). Bagi umat Islam, rukun iman yang bersifat baku berjumlah enam perkara (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, serta Qadha dan Qadar).
Namun, kaum Syiah menggeser struktur tersebut dan memasukkan Imamah sebagai rukun iman yang paling utama (Usuluddin). Mereka meyakini bahwa seseorang tidak dianggap memiliki iman yang sah, bahkan amalan salat dan zakatnya akan tertolak, jika tidak menyatakan baiat dan kepatuhan mutlak kepada 12 imam dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib RA. Menetapkan syarat keimanan yang tidak tertulis secara eksplisit di dalam Al-Qur'an merupakan bentuk kelancangan teologis yang sangat nyata.
2. Ghuluw (Ekstrem) dalam Mengultuskan Manusia hingga Derajat Maksum
Umat Islam meyakini bahwa sifat Ishmah (kemaksuman/terjaga dari dosa, kesalahan, dan kelalaian) hanya diberikan Allah SWT khusus kepada para Nabi dan Rasul demi menjaga integritas penyampaian wahyu. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tidak ada lagi manusia di muka bumi yang perkataan atau keputusannya bersifat suci dan mutlak benar.
Sekte Syiah menabrak batasan ini dengan memberikan atribut kenabian dan ketuhanan kepada para imam mereka. Dalam kitab-kitab induk mereka (seperti Al-Kafi), para mullah mengeklaim bahwa 12 imam mereka bersifat maksum, mengetahui perkara gaib (ilm al-ghaib), mengetahui kapan mereka akan mati, bahkan mengontrol atom-atom di alam semesta. Pengultusan yang berlebihan (ghuluw) ini merusak prinsip tauhid dan menodai kesempurnaan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin).
3. Doktrin Pengafiran Massal (Takfir) Terhadap Sahabat Nabi
Para sahabat Nabi SAW adalah generasi emas yang mendapat pujian langsung dari Allah SWT di dalam Al-Qur'an (seperti dalam QS. At-Taubah: 100 dan QS. Al-Fath: 18). Mereka adalah perantara suci yang mempertaruhkan jiwa dan harta demi menyampaikan risalah Islam hingga sampai ke generasi hari ini.
Tragisnya, akidah Syiah mewajibkan pengikutnya untuk meyakini bahwa mayoritas sahabat Nabi telah murtad (keluar dari Islam) pasca-wafatnya Rasulullah SAW. Alasan pengafiran massal ini sangat rapuh: karena para sahabat tidak menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin, melainkan memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq melalui musyawarah (Syura). Konsekuensi dari doktrin kebencian ini sangat merusak, sebab jika para penyampai syariat (sahabat) dicap kafir dan pengkhianat, maka secara otomatis validitas Al-Qur'an dan Hadis yang mereka bawa ikut runtuh.
4. Legalisasi Kebohongan Melalui Konsep "Taqiyyah"
Dalam akidah Islam yang murni, kejujuran adalah akhlak tertinggi, sedangkan kebohongan dan kepura-puraan adalah ciri kemunafikan, kecuali dalam kondisi darurat medis yang mengancam nyawa. Kebalikannya, di dalam sekte Syiah, Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan asli dan menampakkan sebaliknya) diposisikan sebagai bagian dari rukun ibadah yang agung.
Ulama Syiah merumuskan bahwa sembilan persepuluh bagian dari agama mereka adalah Taqiyyah. Di hadapan mayoritas muslim Sunni, mereka diperintahkan untuk berpura-pura rida kepada sahabat, ikut salat dengan cara Sunni, dan mendengungkan jargon persatuan. Namun, ketika berada di komunitas internal, mereka kembali pada akidah asli yang dipenuhi ritual pelaknatan. Menjadikan kedustaan sebagai doktrin teologis yang konstan membuat sistem beragama sekte ini kehilangan nilai ilmiah dan kejujuran hukum.
5. Merusak Moral Keluarga Berkedok "Ibadah Mut'ah"
Penyimpangan akidah Syiah juga berujung pada kerusakan tatanan sosial dan moralitas melalui legalisasi Nikah Mut'ah (nikah kontrak). Praktik nikah jangka pendek (bisa dalam hitungan hari bahkan jam) tanpa wali, tanpa saksi yang kuat, tanpa hak waris, dan tanpa nafkah jangka panjang ini dipromosikan oleh para mullah sebagai ibadah suci berhadiah pahala langit yang setara derajat para nabi.
Padahal, Rasulullah SAW telah mengharamkan praktik mut'ah secara mutlak dan tegas hingga hari kiamat setelah sempat diperbolehkan secara temporer pada masa perang tertentu. Mengubah syariat pengharaman zina menjadi bentuk ibadah kontrak biologis adalah bukti nyata bagaimana akidah yang menyimpang dapat merusak kesucian institusi keluarga dalam Islam.
Kesimpulan
Penyimpangan dalam akidah Syiah bukan sekadar perbedaan interpretasi fikih yang bersifat minor (furu'iyyah), melainkan pergeseran pada level fondasi iman (usuluddin). Dengan merombak rukun iman, mengultuskan manusia biasa, mengafirkan generasi sahabat, melegalisasi kedustaan lewat Taqiyyah, dan menghalalkan Mut'ah, sekte Rafidhah ini telah membangun sebuah sistem keagamaan yang asing dari Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Bagi kaum muslimin di Indonesia, memahami peta penyimpangan akidah ini secara detail dan ilmiah adalah langkah mutlak untuk membentengi diri dan keluarga. Menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang transparan, logis, dan berlandaskan dalil-dalil yang shahih merupakan tameng terbaik dalam menghadapi derasnya arus infiltrasi syubhat ideologi Syiah di bumi nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: