Syiahindonesia.com - Di dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), keyakinan tentang hal gaib adalah hak prerogatif mutlak milik Allah SWT semata. Manusia paling mulia sekalipun, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, tidak mengetahui ilmu gaib kecuali sebatas apa yang diwahyukan oleh Allah demi kepentingan risalah kenabian. Prinsip tauhid ini digariskan dengan sangat klir di dalam Al-Qur'an, di mana klaim mengetahui hal gaib oleh makhluk dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran berat terhadap hak ketuhanan (Rububiyah).
Namun, di dalam bangunan teologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep ilmu gaib ini mengalami pergeseran yang sangat radikal. Para rabi Syiah mendoktrinkan bahwa 12 Imam mereka—mulai dari Sayyidina Ali r.a. hingga Imam ke-12 yang diklaim gaib—memiliki otoritas mutlak untuk mengetahui segala sesuatu yang gaib, baik yang telah terjadi di masa lalu, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi di masa depan hingga hari kiamat.
Mengapa sekte Syiah begitu gigih membangun klaim yang menabrak batas-batas tauhid ini? Ada beberapa alasan teologis dan ideologis di balik doktrin ilmu gaib para Imam Syiah.
1. Konsekuensi Logis dari Doktrin Imamah yang Setara Kenabian
Akar dari klaim ini bermuara pada cara pandang Syiah terhadap kedudukan seorang Imam. Bagi Syiah, Imamah bukanlah sekadar jabatan politik sipil untuk mengatur urusan duniawi umat manusia, melainkan kelanjutan dari fungsi kenabian yang diangkat langsung oleh teks suci langit (Nash).
Supaya kedudukan para Imam ini terlihat sakral dan wajib dipatuhi secara mutlak layaknya seorang Nabi, para rabi Syiah harus menyematkan atribut-atribut supranatural kepada mereka.
Salah satu atribut paling krusial adalah kemampuan mengetahui hal gaib. Dalam nalar teologi Syiah, jika seorang Imam tidak mengetahui apa yang disembunyikan di dalam hati manusia atau apa yang akan terjadi esok hari, maka ia dianggap tidak layak menjadi penunjuk jalan yang maksum (suci dari dosa dan salah).
Oleh karena itu, klaim ilmu gaib ini diciptakan demi menjaga wibawa teologis doktrin Imamah agar tetap berdiri tegak di hadapan para pengikutnya.
2. Doktrin Kitab-Kitab Rahasia Langit (Al-Jafr, Al-Jamiah, dan Mushaf Fatimah)
Untuk melegitimasi klaim bahwa para Imam mereka mewarisi seluruh ilmu gaib, sekte Syiah mengarang narasi mengenai keberadaan kitab-kitab rahasia yang konon diwariskan secara turun-temurun dari satu Imam ke Imam berikutnya.
Di dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab-bab khusus yang menceritakan bahwa para Imam memiliki pusaka spritual yang tidak dimiliki oleh manusia lain, seperti:
Al-Jafr dan Al-Jamiah: Sebuah lembaran kulit yang diklaim berisi seluruh pengetahuan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, termasuk hukum-hukum syariat terkecil hingga masalah takdir manusia.
Mushaf Fatimah: Syiah mengeklaim bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, malaikat Jibril turun kepada Sayyidah Fatimah r.a. untuk menghhiburnya dan membacakan berita-berita gaib tentang masa depan dunia, yang kemudian dicatat oleh Sayyidina Ali r.a. menjadi sebuah mushaf yang tebalnya tiga kali lipat dari Al-Qur'an.
Melalui dongeng kitab-kitab rahasia inilah, para rabi Syiah mencuci otak pengikutnya untuk percaya bahwa para Imam memiliki jalur khusus ke alam gaib tanpa melalui koridor wahyu kenabian yang resmi.
3. Matriks Perbandingan Doktrin Ilmu Gaib: Sunni vs Syiah
4. Mendustakan Ayat-Ayat Sharih (Tegas) di dalam Al-Qur'an
Dengan menetapkan bahwa para Imam memiliki ilmu gaib, sekte Syiah secara sadar telah menabrak dan mendustakan sekian banyak ayat di dalam Al-Qur'an yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui perkara gaib. Salah satunya adalah firman Allah SWT dalam Surat An-Naml ayat 65:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah', dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan."
Bahkan Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menegaskan keterbatasan manusiawi beliau dalam Surat Al-A'raf ayat 188:
وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ
"Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemaslahatan..."
Ketika sekte Syiah mengeklaim para Imam mereka justru tahu kapan mereka akan mati dan tahu segala hal gaib, mereka secara tidak langsung memosisikan derajat para Imam lebih tinggi dan lebih hebat daripada Rasulullah ﷺ sendiri. Ini adalah bentuk penghinaan ilmiah terhadap kedudukan kenabian.
Kesimpulan
Klaim sekte Syiah bahwa Imam mereka memiliki ilmu gaib bukanlah sebuah pemahaman spritual yang polos, melainkan sebuah kebutuhan doktrinal demi melanggengkan kultus individu yang berlebihan (Ghuluw). Tanpa adanya klaim mistis semacam ini, konsep Imamah yang mereka agungkan akan terlihat seperti kepemimpinan manusia biasa pada umumnya, yang tentu saja akan melemahkan kontrol para rabi Syiah terhadap para pengikutnya.
Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, kita wajib membentengi diri dari racun pemikiran spritualistik yang menyimpang ini. Menjaga keyakinan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui hal gaib adalah fondasi utama untuk menyelamatkan tauhid kita dari infiltrasi ideologi sektarian Syiah yang mengikis kesucian akidah Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: