Syiahindonesia.com – Di dalam manhaj Islam yang murni, hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya, Allah SWT, bersifat langsung tanpa sekat dan tanpa perantara. Setiap muslim diajarkan untuk menghadapkan wajah, doa, dan seluruh ibadahnya secara vertikal kepada Allah semata. Prinsip ini merupakan inti dari ajaran tauhid yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul.
Namun, sekte Syi'ah Rafidhah mengadopsi konsep teologis yang sangat kontradiktif dengan prinsip tersebut. Mereka merumuskan doktrin bahwa para imam maksum adalah perantara mutlak (wasilah) antara makhluk dengan Allah SWT. Tanpa melalui perantara para imam, mereka meyakini bahwa amal ibadah, doa, dan taubat seorang hamba tidak akan pernah sampai atau diterima oleh Allah. Artikel ini akan membedah kekeliruan konsep perantara (tawasul) ala Syiah dari sudut pandang akidah Islam.
1. Menabrak Hakikat Tauhid dalam Berdoa
Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa langsung kepada-Nya tanpa memerlukan perantara manusia, sekecil atau sesuci apa pun kedudukan orang tersebut. Allah SWT berfirman dalam Surah Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu...'"
Begitu pula dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya sangat dekat (Qariib) dan langsung menjawab doa orang yang memohon.
Sebaliknya, kaum Syiah membangun kebiasaan dan doktrin untuk berseru kepada para imam yang telah wafat—seperti melantunkan slogan "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain". Mereka memposisikan para imam sebagai pihak yang mendengar, mengabulkan, dan menyampaikan hajat mereka kepada Allah. Mengalihkan salah satu bentuk ibadah paling agung (doa) kepada selain Allah merupakan bentuk penyimpangan tauhid yang sangat fatal.
2. Doktrin "Imam Pemegang Kunci Syafaat dan Rezeki"
Penyimpangan konsep perantara ini diperluas oleh para ulama Syiah dalam literatur-literatur primer mereka. Di dalam kitab-kitab seperti Al-Kafi atau Biharul Anwar, disebutkan bahwa para imam mengontrol aliran rezeki, mengetahui kapan seseorang mati, serta memegang kendali penuh atas pengampunan dosa di akhirat.
Dalam keyakinan mereka, para imam adalah wajah Allah (Wajhullah) dan pintu Allah (Babullah) yang sesungguhnya. Siapa saja yang ingin mendatangi Allah tanpa melalui jalur 12 imam, maka ia dianggap telah salah jalan dan ibadahnya sia-sia. Pengultusan ini secara tidak langsung menyamakan kedudukan makhluk dengan sifat-sifat khusus kedahsyatan Allah SWT yang Maha Mendengar lagi Maha Kuasa.
3. Meniru Pola Keagamaan Jahiliyah dan Ahli Kitab
Jika dicermati secara sosiologis dan historis, logika beragama kaum Syiah yang menempatkan imam sebagai perantara suci sangat mirip dengan argumentasi kaum musyrikin Jahiliyah di masa lalu. Ketika kaum musyrikin ditegur karena menyembah berhala atau mengultuskan orang saleh yang wafat, mereka berdalih sebagaimana direkam dalam Surah Az-Zumar ayat 3:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
"...Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."
Konsep silsilah perantara suci ini juga menyerupai ajaran Sakerdotalisme atau sistem kependetaan dalam agama lain, di mana umat awam dianggap terlalu kotor untuk langsung berkomunikasi dengan Tuhan sehingga membutuhkan pemuka agama yang "suci" untuk menebus dosa atau menyampaikan doa mereka. Islam datang untuk menghancurkan sistem perantara tersebut dan memerdekakan manusia agar menghamba langsung kepada Allah.
4. Penyalahgunaan Konsep Wasilah dalam Al-Qur'an
Untuk melegitimasi doktrin perantara ini, para mullah Syiah sering kali menggunakan syubhat dengan memotong makna ayat Al-Qur'an, salah satunya Surah Al-Ma'idah ayat 35: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya..."
Mereka mengartikan kata Wasilah secara serampangan sebagai silsilah 12 imam mereka. Padahal, para sahabat Nabi dan pakar tafsir otoritatif (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah) telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan wasilah dalam ayat tersebut adalah amal-amal saleh, ketaatan, dan ketakwaan yang dikerjakan berdasarkan tuntunan syariat. Menjadikan figur manusia sebagai wasilah mutlak yang menyaring sah atau tidaknya iman seseorang adalah bentuk takwil batiniah yang merusak makna asli Al-Qur'an.
Kesimpulan
Konsep imam sebagai perantara kepada Allah dalam akidah Syiah bukan sekadar variasi amalan fikih, melainkan sebuah distorsi serius terhadap fondasi tauhid Uluhiyyah. Dengan mewajibkan perantara manusia dalam wilayah ibadah dan doa, sekte Rafidhah ini telah menjauhkan pengikutnya dari kemurnian hubungan langsung antara hamba dan Pencipta.
Bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, tidak ada dinding pembatas antara seorang mukmin dengan Allah SWT. Menjaga kemurnian tauhid dari noda-noda pengultusan makhluk (ghuluw) dan praktik perantara ala Syiah adalah benteng utama demi memastikan ibadah dan doa kita benar-benar tertuju secara ikhlas dan murni hanya kepada Allah Yang Maha Esa.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: