Breaking News
Loading...

Syiah dan Kejanggalan dalam Sejarah Imam Mahdi

Syiahindonesia.com - Eksistensi Imam ke-12, Muhammad bin Hasan al-Askari, merupakan poros hidup dan matinya teologi Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah. Bagi mereka, meyakini keberadaan sosok yang diklaim sebagai Imam Mahdi ini adalah kewajiban mutlak yang menentukan sahnya keimanan seseorang.

Namun, jika lembaran sejarah dibuka secara objektif dan ilmiah, narasi seputar kelahiran hingga keghaiban (ghaibah) sosok ini dipenuhi dengan berbagai kejanggalan sejarah (historical anomalies) yang sulit diterima oleh akal sehat maupun metode kritik sejarah yang valid. Berikut adalah penelusuran fakta-fakta sejarah yang menggoncang keabsahan klaim tersebut:

1. Kesaksian Keluarga Terdekat: Hasan al-Askari Mandul

Titik paling rapuh dalam sejarah Imam Mahdi versi Syiah berada pada saat kematian Imam ke-11 mereka, Hasan al-Askari, pada tahun 260 Hijriah di Samarra. Kitab-kitab sejarah Islam yang muktabar—bahkan diakui oleh sebagian sejarawan internal Syiah purba—mencatat sebuah fakta krusial: Hasan al-Askari wafat tanpa meninggalkan keturunan.

Saat beliau wafat, penguasa Abbasiyah mendatangkan tim medis, hakim, hingga qadhi untuk memeriksa kondisi rumah dan istri-istri beliau. Hasilnya nihil. Akibatnya, seluruh harta warisan Hasan al-Askari jatuh ke tangan ibunya dan saudara laki-lakinya yang bernama Ja'far bin Ali.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin besar yang konon diwajibkan memiliki penerus untuk menyelamatkan dunia, wafat tanpa ada satu pun anggota keluarga, pembantu, atau tetangga yang menyaksikan kehadiran anak kandungnya?

2. Kemunculan "Dua Belas Imam" yang Terlambat

Secara historis, istilah dan pembatasan jumlah imam menjadi tepat "Dua Belas Imam" tidak dikenal di awal-awal perkembangan sekte Syiah. Setelah wafatnya Hasan al-Askari, komunitas Syiah mengalami krisis kepemimpinan yang luar biasa dahsyat.

Sejarah mencatat kelompok Syiah terpecah menjadi sekitar 14 sekte baru yang saling kebingungan:

  • Sebagian mengira Hasan al-Askari belum wafat dan akan bangkit kembali.

  • Sebagian mengangkat saudaranya, Ja'far, sebagai imam baru.

  • Sebagian lagi mengklaim imamah telah terputus.

Fakta perpecahan ini membuktikan bahwa di masa itu tidak ada konsep "Dua Belas Imam" yang mapan. Doktrin bahwa jumlah imam harus dua belas baru dirumuskan dan dikodifikasi secara masif oleh para teolog Syiah (seperti Al-Kulaini dan Al-Mufid) puluhan tahun kemudian, sebagai bentuk pelarian teologis untuk menyatukan sisa-sisa pengikut Syiah yang tercerai-berai.

3. Sandiwara Empat Utusan (Sufara al-Arba'ah) dalam Ghaibah Sughra

Kejanggalan sejarah berikutnya tampak jelas pada periode Ghaibah Sughra (Keghaiban Kecil) yang berlangsung selama kurang lebih 70 tahun (260–329 H). Pada masa ini, diklaim bahwa Imam ke-12 bersembunyi namun berkomunikasi dengan pengikutnya lewat empat orang perantara secara bergantian yang disebut Sufir (utusan).

Secara sosiologis dan finansial, periode ini menyimpan kejanggalan besar:

  • Para utusan ini mengklaim menerima surat-surat rahasia (tauqi'at) dari sang Imam yang bersembunyi.

  • Melalui surat-surat "gaib" tersebut, para utusan memerintahkan umat Syiah untuk menyerahkan Khums (dana keagamaan sebesar 20% dari penghasilan) kepada diri mereka atas nama sang Imam.

  • Anehnya, tidak ada satu pun orang lain yang diizinkan melihat di mana sang Imam berada dengan alasan "keamanan."

Sistem perwakilan eksklusif ini terlihat jelas sebagai sebuah skema pengelolaan finansial dan kekuasaan oleh segelintir elit (para pembantu dekat) yang memanfaatkan sentimen kerinduan umat terhadap sosok pemimpin. Begitu utusan keempat wafat tanpa menunjuk pengganti, periode ini ditutup secara sepihak dan dinyatakan sebagai mulanya Ghaibah Kubra (Keghaiban Besar) yang memutus komunikasi total hingga hari ini.

4. Anomali Usia dan Tempat Persembunyian

Dongeng sejarah Syiah menyebutkan bahwa sejak usia balita (sekitar 4 atau 5 tahun), sang anak telah masuk ke dalam ruang bawah tanah (sardab) di rumah ayahnya di Samarra untuk bersembunyi dari kejaran pasukan khilafah.

Secara historis, ada dua anomali besar di sini:

  • Logika Militer: Jika pemerintah Abbasiyah saat itu benar-benar berniat memburu anak tersebut, mengapa kompleks rumah Hasan al-Askari di Samarra tidak dihancurkan atau dijaga ketat selama bertahun-tahun? Nyatanya, tempat itu tetap dibiarkan terbuka.

  • Hukum Alam: Mengurung seorang anak manusia di dalam ruangan bawah tanah selama lebih dari 11 abad tanpa adanya interaksi biologis yang normal adalah klaim yang menabrak seluruh sunnatullah (hukum alam), tanpa ada urgensi syariat yang mendasarinya.

Ahlussunnah meyakini mukjizat para nabi (seperti pemuda Ashabul Kahfi atau Nabi Isa AS) karena validitas teksnya bersumber dari Al-Qur'an. Sementara kisah sardab ini murni lahir dari riwayat sepihak yang kontradiktif.

Kesimpulan

Silsilah sejarah Imam Mahdi versi Syiah tidak dibangun di atas dokumen sejarah yang sahih (historical evidence), melainkan di atas fondasi mitos dan rekayasa politik masa lampau. Narasi ini sengaja dirawat demi menjaga eksistensi sekte agar tidak punah saat garis keturunan imam mereka terputus di dunia nyata.

Bagi umat Islam, kebenaran sejarah adalah hal yang sakral. Menolak dongeng Ghaibah bukan berarti menolak figur penyelamat akhir zaman, melainkan sebuah sikap ilmiah untuk membersihkan sejarah Islam dari khurafat-khurafat politik yang menyesatkan akal budi umat.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: