Syiahindonesia.com - Sejarah pergulatan pemikiran dalam Islam telah berlangsung selama berabad-abad, menempatkan para ulama pada garis terdepan sebagai penjaga gawang kemurnian akidah. Di tengah gempuran berbagai macam pemikiran dan sekte yang menyimpang dari jalur orisinalitas wahyu, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) secara konsisten dan berkesinambungan mencurahkan waktu, tenaga, hingga karya-karya ilmiah mereka untuk membantah, meluruskan, dan menyingkap kesesatan teologi sekte Syiah. Langkah responsif para ulama ini sering kali disalahpahami oleh sebagian kalangan awam sebagai tindakan yang memicu perpecahan umat atau dianggap sekadar sentimen mazhab yang usang.
Namun, jika dibedah secara komprehensif, kegigihan ulama Sunni dalam menulis kitab, menyelenggarakan seminar, dan menyuarakan bantahan terhadap Syiah bukanlah didorong oleh kebencian personal, melainkan sebuah manifestasi dari kewajiban syar'i untuk menjaga eksistensi Islam itu sendiri. Di Indonesia, di mana gelombang infiltrasi ajaran Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah) bergerak secara terstruktur melalui jalur pendidikan, kebudayaan, dan media sosial, pemahaman mengenai alasan di balik ketegasan para ulama Sunni menjadi sangat krusial. Bantahan-bantahan tersebut merupakan benteng pertahanan ilmiah untuk menyelamatkan umat dari distorsi teologis yang sangat fatal.
1. Menjaga Autentisitas Al-Qur'an dan Sunnah dari Upaya Distorsi
Alasan paling mendasar mengapa ulama Sunni di setiap generasi tidak pernah berhenti membantah Syiah adalah demi melindungi sumber hukum utama Islam, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Teologi Syiah secara sistematis merongrong validitas kedua pilar ini demi menegakkan dogma politik kepemimpinan mereka (Imamah).
Ancaman Terhadap Al-Qur'an
Secara historis, kitab-kitab rujukan utama Syiah—seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini dan Mashahif al-Anwar—memuat ribuan riwayat yang mengeklaim bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah mengalami distorsi, pengurangan, dan pengubahan (Tahrif) oleh para sahabat Nabi. Meskipun di era modern saat ini beberapa tokoh Syiah mencoba mengingkari doktrin tersebut di hadapan publik lewat strategi Taqiyyah, kitab-kitab rujukan utama yang mengajarkan Tahrif tersebut tetap disucikan dan tidak pernah direvisi.
Ancaman Terhadap Hadis
Lebih parah lagi, Syiah memutus mata rantai penukilan hadis dengan mengafirkan dan memfasikkan mayoritas sahabat Nabi (seperti Abu Hurairah r.a., Abdullah bin Umar r.a., dan Ibunda Aisyah r.a.). Tindakan mencoret nama-nama besar pembawa risalah ini secara otomatis membuang lebih dari 90% hadis sahih. Sebagai gantinya, mereka memproduksi hadis-hadis palsu berskala masif yang dicatut atas nama keluarga Nabi (Ahlul Bait).
Jika para ulama Sunni diam dan tidak membantah metodologi rusak ini, maka dalam beberapa generasi ke depan, umat Islam akan kehilangan orientasi hukum yang valid. Ulama bergerak atas dasar sabda Rasulullah ﷺ:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
"Aku tinggalkan bersama kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya." (HR. Malik).
2. Kewajiban Menunaikan Amanah Ilmiah dan Menolak Kebatilan
Bagi seorang ulama, menyuarakan kebenaran dan membongkar kebatilan bukanlah sebuah pilihan opsional, melainkan kontrak keimanan langsung kepada Allah SWT. Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat keras bagi orang-orang berilmu yang dengan sengaja menyembunyikan kebenaran demi mencari aman atau stabilitas semu di dunia. Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Baqarah ayat 159:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّانَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua makhluk yang dapat melaknat."
Ulama Sunni memahami bahwa membiarkan penyimpangan akidah Syiah berkembang tanpa adanya bantahan ilmiah sama saja dengan mengkhianati amanah ilmu tersebut. Ketika Syiah menyebarkan paham bahwa para Imam mereka mengetahui perkara gaib secara mutlak, mengontrol butiran atom alam semesta, hingga menuduh Allah mengalami perubahan pikiran (Bada’), maka ini adalah kebatilan nyata yang merusak Tauhid. Membisu di hadapan kesesatan teologis seperti ini adalah dosa besar dalam dunia keulamaan.
3. Membela Kehormatan Sahabat dan Istri Rasulullah ﷺ
Salah satu noda hitam yang paling mencolok dalam ajaran Syiah adalah legalitas ritual mencela, melaknat, dan mengafirkan para sahabat agung, khususnya Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., serta Ummahatul Mukminin seperti Ibunda Aisyah r.a. Bagi Sunni, tindakan menistakan para sahabat bukan sekadar masalah konflik sejarah masa lalu, melainkan serangan langsung terhadap kehormatan Rasulullah ﷺ.
Logika ilmiah para ulama sangat tegas: kredibilitas sebuah ajaran dinilai dari kredibilitas orang-orang yang membawanya. Para sahabat adalah generasi yang dididik langsung oleh madrasah kenabian. Jika generasi terbaik itu dituduh sebagai kelompok pengkhianat dan murtad tak lama setelah Nabi ﷺ wafat, maka secara tidak langsung Syiah sedang menuduh Rasulullah ﷺ telah gagal total dalam mendidik para pengikutnya.
Rasulullah ﷺ secara eksplisit telah melarang umatnya untuk mencela para sahabat melalui sabdanya:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
"Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya itu tidak akan menyamai satu mud (infak) salah seorang dari mereka, tidak pula separuhnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Membantah Syiah adalah cara ulama Sunni membuktikan kecintaan yang tulus kepada Rasulullah ﷺ dengan jalan membentengi kehormatan para sahabat dan istri-istri beliau dari fitnah keji kaum ekstremis.
4. Melindungi Umat Awam dari Penipuan Strategi Taqiyyah
Di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni, termasuk di Indonesia, pergerakan misionaris Syiah tidak pernah dilakukan secara vulgar atau terang-terangan. Mereka dipandu oleh doktrin Taqiyyah (legalitas berbohong dan menyembunyikan akidah asli demi keselamatan atau infiltrasi).
Ulama Sunni terus membantah dan membedah kitab-kitab asli Syiah untuk menyingkap topeng kamuflase ini. Tanpa adanya bimbingan dari para ulama, masyarakat awam akan sangat mudah terkelabui oleh propaganda Syiah yang kerap kali dibungkus dengan narasi-narasi yang memikat, seperti:
Slogan Pecinta Ahlul Bait: Mereka mengeklaim bahwa Syiah hanyalah sekadar mazhab fikh yang fokus mencintai keluarga Nabi, padahal di dalamnya terdapat doktrin pengafiran sahabat dan penambalan rukun iman.
Seruan Ukhuwah Islamiyah Semu: Mereka sering mengadakan seminar persatuan antara Sunni dan Syiah, namun di saat yang sama, kurikulum di dalam lembaga internal mereka tetap mewajibkan santrinya untuk merutinkan laknat kepada Abu Bakar dan Umar.
Retorika Politik Anti-Barat: Menggunakan isu-isu geopolitik global untuk menarik simpati para pemuda Muslim yang semangat namun minim pemahaman akidah yang mendalam.
5. Metodologi Ulama Sunni: Menghadapi Syiah dengan Argumen Ilmiah
Bantahan ulama Sunni terhadap Syiah tidak dilakukan secara serampangan atau menggunakan otot, melainkan menggunakan pendekatan ilmiah tingkat tinggi melalui metodologi Al-Jarh wat Ta'dil (kritik narator) dan pembongkaran teks secara tekstual.
Tradisi menulis kitab bantahan ini diteruskan oleh ulama-ulama kontemporer dunia hingga para ulama di Nusantara, seperti fatwa-fatwa tegas dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan panduan kewaspadaan nasional terhadap bahaya paham Syiah.
Kesimpulan
Ketegasan dan konsistensi ulama Sunni dalam membantah kesalahan Syiah bukanlah sebuah upaya memecah belah, melainkan sebuah tindakan penyelamatan darurat atas akidah umat. Ulama bergerak sebagai tabib yang mendiagnosis dan melokalisir penyakit pemikiran agar tidak mewabah dan merusak tubuh umat Islam secara keseluruhan. Membiarkan doktrin Imamah, kema'shuman manusia biasa, penghinaan sahabat, dan konsep Bada’ berkembang tanpa adanya konter ilmiah adalah bentuk pembiaran terhadap perusakan agama.
Bagi umat Islam di Indonesia, eksistensi bantahan-bantahan ilmiah dari para ulama ini harus disambut dengan cara terus belajar dan memperdalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mengenali syubhat (kerancuan pemikiran) Syiah melalui kacamata penjelasan ulama adalah benteng terbaik yang akan menjaga kemurnian iman kita, keluarga kita, dan generasi masa depan dari racun sekte sektarian yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: