Syiahindonesia.com - Pertanyaan mengenai status sekte Syiah dalam konstelasi dunia Islam merupakan salah satu bahasan teologis paling krusial yang telah dikaji oleh para ulama kaum muslimin selama berabad-abad. Di panggung formal atau diplomasi politik, sering kali digaungkan narasi bahwa perbedaan Sunni dan Syiah hanyalah sebatas perbedaan mazhab fikih belahan semata, seperti perbedaan antara Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanafi.
Namun, di meja ilmiah para ulama akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, realitasnya tidak sesederhana itu. Mayoritas ulama kredibel, lembaga fatwa internasional, hingga konsensus para ulama menggarisbawahi bahwa penyimpangan Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah (Dua Belas Imam)—yang merupakan sekte mayoritas Syiah hari ini—telah keluar dari batas-batas pokok keislaman (Ushuluddin).
Berikut adalah argumen teologis utama mengapa ulama Sunni menegaskan bahwa akidah Syiah tidak dapat diakui sebagai bagian dari agama Islam yang murni:
1. Membatalkan Rukun Iman Melalui Doktrin "Imamah"
Dalam Islam, Rukun Iman telah final digariskan oleh Rasulullah SAW dalam Hadis Jibril yang masyhur, yaitu iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi/Rasul, Hari Kiamat, dan Qadha-Qadar. Tidak ada satu pun celah untuk menambah atau menguranginya.
Namun, sekte Syiah secara sepihak merombak total struktur ini dengan memasukkan Imamah (kepemimpinan metafisik 12 Imam) sebagai rukun iman yang paling utama (Usuluddin).
Bagi Syiah, siapa saja yang tidak mengimani ke-12 imam mereka, maka seluruh amal ibadahnya (syahadat, salat, zakat, puasa, haji) batal dan dinilai sia-sia.
Implikasinya sangat fatal: doktrin ini secara otomatis mengafirkan miliaran umat Islam (Ahlussunnah) dari zaman sahabat hingga hari kiamat kelak hanya karena tidak menyembah dan mengultuskan garis keturunan para imam versi mereka.
Bagi ulama Sunni, membuat syariat baru dan menciptakan prasyarat keimanan di luar yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah bentuk kelancangan yang merusak fondasi agama Islam.
2. Menodai Kesucian Al-Qur'an (Keyakinan "Tahrif")
Kitab suci Al-Qur'an yang dipegang oleh kaum muslimin hari ini adalah kitab yang dijamin keasliannya oleh Allah Swt. (QS. Al-Hijr: 9). Siapa pun yang meragukan, menuduh ada pengurangan, atau mengeklaim adanya perubahan pada satu huruf saja di dalam Al-Qur'an, maka dia telah jatuh ke dalam kekafiran yang nyata secara ijma'.
Di dalam kitab-kitab rujukan utama (magnum opus) milik sekte Syiah—seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, Al-Ihtijaj karya Al-Thabarsi, hingga kitab Fashl al-Khithab karya Al-Nuri al-Tabarsi—terdapat ribuan riwayat yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah mengalami Tahrif (distorsi dan pengurangan) oleh para sahabat Nabi.
Meskipun tokoh Syiah modern sering melakukan taktik Taqiyyah (berpura-pura) di depan publik untuk menepis isu ini, fakta bahwa kitab-kitab yang berisi doktrin pelecehan Al-Qur'an tersebut tetap dijadikan rujukan suci dan disucikan oleh para mullah mereka menjadi bukti kuat bahwa akidah mereka berada di luar Islam.
3. Pengafiran Massal dan Pelaknatan terhadap Sahabat serta Istri Nabi
Sahabat Nabi adalah generasi emas yang dipilih langsung oleh Allah untuk menemani perjuangan Rasulullah SAW dan menghantarkan syariat Islam hingga sampai ke generasi hari ini. Membenci, mencaci, apalagi mengafirkan mereka berarti meruntuhkan jembatan penyampai agama Islam itu sendiri.
Teologi Syiah berdiri di atas fondasi kebencian, pelaknatan (la'nah), dan pengafiran massal terhadap para sahabat, termasuk Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Utsman), serta istri-istri Nabi tercinta seperti Ummul Mukminin Aisyah RA dan Hafshah RA.
Mereka mengeklaim bahwa pasca-wafatnya Nabi, para sahabat telah murtad kecuali hanya segelintir saja (sekitar 3 hingga 5 orang).
Ritual mencaci-maki para simbol kesucian Islam ini bahkan dijadikan sebagai salah satu bentuk ibadah ritual (Tabarra') di dalam ajaran mereka.
Ulama Sunni menegaskan bahwa mustahil sebuah sekte diakui sebagai bagian dari Islam jika napas keagamaannya diisi dengan mengafirkan manusia-manusia yang telah diridai oleh Allah di dalam Al-Qur'an.
4. Ghuluw (Pengultusan Ekstrem) yang Berujung pada Kesyirikan
Islam adalah agama Tauhid yang memurnikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah Swt. Namun, dalam praktik sosiologis dan teks keagamaan Syiah, batas antara Sang Pencipta dan makhluk telah kabur akibat pengultusan berlebihan (ghuluw) terhadap para imam.
Di kalangan Syiah, para imam diberikan hak-hak ketuhanan, seperti:
Diyakini mengetahui seluruh hal gaib, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.
Diyakini mengatur setiap atom di alam semesta ini.
Diperbolehkannya berdoa, beristighatsah (meminta pertolongan darurat), dan menyembelih kurban dengan memanggil nama para imam (seperti "Ya Ali Madad" atau "Ya Husain") alih-alih memanggil nama Allah.
Bagi ulama Islam, manifestasi ajaran yang memalingkan hak peribadatan dari Allah kepada kuburan atau figur manusia—meskipun itu adalah keluarga Nabi—adalah tindakan syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari benteng Islam.
Kesimpulan
Berdasarkan penyimpangan-penyimpangan yang menyentuh ranah akar akidah di atas—mulai dari doktrin Imamah yang merombak rukun iman, pelecehan terhadap Al-Qur'an, pengafiran generasi sahabat, hingga tindakan syirik kultus individu—para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah di berbagai lembaga riset internasional (seperti Al-Azhar di masa-masa ketatnya, Rabithah Alam Islami, dan Majelis Ulama di berbagai negara Islam) menyimpulkan bahwa Syiahiyyah bukanlah sebuah mazhab di dalam Islam, melainkan sebuah ideologi politik berkedok agama yang mandiri dan berada di luar garis batas Islam (Kharij 'an al-Islam).
Menjaga jarak dan memberikan edukasi yang jelas kepada umat tentang hakikat Syiah adalah langkah penyelamatan akidah agar kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tetap terjaga tanpa distorsi.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: