Syiahindonesia.com - Memuliakan, mencintai, dan meneladani Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari identitas keimanan seorang Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah. Beliau adalah menantu kesayangan Rasulullah SAW, gerbangnya kota ilmu, singa lapangan kecamuk perang, serta Khalifah Rasyid yang keempat. Rekam jejak kesalehan dan kepahlawanan beliau telah abadi di dalam catatan sejarah Islam yang otentik.
Namun, di tangan kelompok Syiah Itsna Asyariyyah, rasa cinta yang seharusnya proporsional itu diubah menjadi pengkultusan yang ekstrem dan membabi buta. Mereka memproduksi ribuan riwayat palsu demi mendongkrak klaim keutamaan Imam Ali hingga ke tingkat yang tidak masuk akal, bahkan sampai menembus batas-batas akidah tauhid. Di balik ornamen "cinta Ahlul Bait", Syiah sebenarnya sedang membangun distorsi teologis yang sistematis untuk merendahkan kedudukan para Nabi dan menyingkirkan para Sahabat mulia lainnya dari panggung sejarah Islam.
1. Mengangkat Derajat Keimaman di Atas Kenabian
Salah satu klaim paling palsu dan menyesatkan yang dipelihara oleh teologi Syiah adalah keyakinan bahwa derajat keutamaan Imam Ali jauh lebih tinggi daripada para nabi dan rasul terdahulu—seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa alaihimush shalatu was salam—kecuali Nabi Muhammad SAW.
Para ulama besar Syiah, seperti Al-Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyyah, secara tegas menuliskan dogma ini:
"Sesungguhnya di antara perkara prinsip dalam mazhab kita (Syiah) adalah bahwa para Imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat terdekat maupun nabi yang diutus."
Klaim sepihak ini jelas menabrak tatanan hierarki makhluk yang telah ditetapkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an. Para nabi adalah manusia-manusia pilihan yang menerima wahyu langsung dari langit untuk membimbing umat manusia, sementara seorang Imam atau ulama—setinggi apa pun ilmunya—hanyalah pengikut yang bertugas menjaga syariat nabi tersebut. Mengangkat kedudukan manusia biasa yang tidak menerima wahyu di atas para nabi Ulul 'Azmi adalah bentuk penyesatan akidah yang sangat fatal.
2. Memalsukan Klaim Hak Khilafah Melalui Distorsi Ayat
Untuk melegitimasi bahwa Sayyidina Ali adalah satu-satunya pemimpin yang berhak memegang kendali umat setelah wafatnya Rasulullah SAW, kelompok Syiah kerap memaksakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an keluar dari konteks aslinya (tahrif ma'nawi). Salah satu contohnya adalah klaim mereka atas Surat Al-Ma'idah ayat 55:
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk.”
Ulama Syiah dengan narasi fiktifnya mengklaim bahwa ayat ini turun khusus untuk Ali bin Abi Thalib ketika beliau memberikan cincinnya kepada seorang pengemis saat sedang melakukan posisi rukuk dalam salat. Berdasarkan dongeng sejarah ini, mereka mengklaim kata Wali di atas berarti "pemimpin politik mutlak" (Amir/Khilafah).
Padahal, para ahli tafsir terkemuka telah menjelaskan bahwa ayat ini menggunakan bentuk jamak (jam') yang ditujukan kepada seluruh kaum mukminin yang saling tolong-menolong dalam kebaikan. Kata Wali dalam bahasa Arab pada konteks ayat tersebut bermakna kekasih, pelindung, atau penolong, bukan mandat kekuasaan politik sepihak untuk menyingkirkan legitimasi Sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
3. Dongeng Teologis: Ali sebagai Penentu Surga dan Neraka
Efek samping dari pengkultusan yang berlebihan membuat kaum Syiah tega menyematkan sifat-sifat ketuhanan (Rububiyah) kepada sosok Ali bin Abi Thalib. Di dalam kitab-kitab induk mereka, seperti Kitab al-Kafi dan Biharul Anwar, beredar klaim palsu bahwa Ali adalah sang pembagi (Qasim) yang menentukan siapa saja manusia yang berhak masuk ke dalam surga dan siapa yang harus dilempar ke dalam neraka di hari kiamat kelak.
Mereka menukil riwayat palsu yang berbunyi: "Wahai Ali, engkaulah pembagi surga dan neraka." Klaim ini secara terang-terangan merebut otoritas mutlak Allah SWT selaku Hakim Agung di Hari Pembalasan. Allah SWT menegaskan di dalam Al-Qur'an bahwa urusan hisab, pembalasan, dan penentuan tempat kembali seluruh makhluk adalah hak mutlak Sang Pencipta, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Ghasyiyah ayat 25-26:
“Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah membuat perhitungan atas mereka.”
4. Sikap Asli Sayyidina Ali yang Berlepas Diri dari Pengkultusan Syiah
Sejarah otentik Islam membuktikan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib semasa hidupnya justru merupakan figur yang paling keras dalam memerangi orang-orang yang mengkultuskan dirinya secara berlebihan. Ketika sekelompok orang ekstrem (Ghulat) di bawah pimpinan Abdullah bin Saba' datang dan menyembah beliau dengan meneriakkan kalimat "Engkau adalah Tuhan!", Sayyidina Ali tidak tinggal diam. Beliau memerintahkan agar orang-orang ekstrem tersebut dihukum keras dan membakar mereka yang menolak untuk bertaubat.
Sayyidina Ali juga sangat menghormati kapasitas kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Beliau pernah berpidato di atas mimbar Kufah yang dicatat secara mutawatir:
“Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar.”
Kenyataan sejarah ini menjadi pukulan telak bagi klaim-klaim palsu kaum Syiah. Sosok Ali yang asli adalah seorang hamba yang tawaduk, teguh di atas sunnah, dan sangat mencintai saudara-saudaranya sesama Sahabat Nabi. Sementara sosok "Ali" yang digambarkan dalam teologi Syiah adalah sosok fiktif yang sengaja diciptakan untuk memecah belah persatuan umat.
Kesimpulan: Mencintai Imam Ali Tanpa Jatuh ke Dalam Kesesatan
Membongkar klaim-klaim palsu kelompok Syiah terhadap Sayyidina Ali bukan berarti kita sedang merendahkan kedudukan beliau yang mulia. Sebaliknya, ini adalah upaya nyata untuk membersihkan nama baik beliau dari noda-noda pengkultusan ekstrem yang justru mengotori kesucian rekam jejak spiritual beliau.
Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia, kita wajib waspada terhadap infiltrasi pemikiran Syiah yang sering kali bersembunyi di balik kegiatan puji-pujian berlebihan kepada Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait. Kita mencintai Ali bin Abi Thalib karena beliau adalah Sahabat, menantu, dan pejuang Islam yang agung, namun kita tetap menjaga lisan dan hati agar tidak tergelincir ke dalam lubang syirik dan penyesatan akidah demi menjaga kemurnian Islam di bumi nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: