Syiahindonesia.com - Dalam pandangan masyarakat awam, kelompok Syiah sering kali terlihat sebagai satu kesatuan yang solid karena sama-sama mengusung jargon kecintaan kepada Ahlul Bait. Namun, jika kita membedah isi kitab-kitab rujukan utama dan sejarah perkembangan teologi mereka, akan ditemukan realitas yang sangat mengejutkan. Alih-alih memiliki kesatuan iman, para ulama internal Syiah justru terlibat dalam perselisihan akidah yang sangat tajam, mendasar, dan saling mengafirkan satu sama lain. Pertanyaan ilmiah yang kemudian muncul adalah: mengapa para ulama Syiah tidak pernah sepakat dalam fondasi akidah mereka sendiri?
Untuk mengantisipasi penyebaran propaganda Syiah di Indonesia—yang selalu mengeklaim bahwa ajaran mereka bersatu dan maksum—artikel ini akan mengupas secara mendalam akar penyebab perpecahan teologis di antara para mullah dan ulama Syiah.
1. Ketiadaan Standar Kesahihan Hadis yang Objektif
Salah satu penyebab utama mengapa ulama Syiah tidak pernah mencapai kata sepakat dalam akidah adalah hancurnya sistem kodifikasi dan verifikasi riwayat di dalam internal mereka. Bagi Ahlussunnah wal Jama'ah, ilmu sanad dan kritik perawi (jarh wa ta'dil) memiliki kaidah-kaidah ilmiah yang pasti dan objektif untuk menentukan sebuah hadis itu sahih atau dhaif.
Di dunia Syiah, standar tersebut tidak berlaku secara konsisten. Akibatnya, kitab-kitab induk mereka—seperti Al-Kafi—menjadi gudang penampungan ribuan riwayat yang saling bertabrakan secara ekstrem. Ketika para ulama mereka hendak merumuskan sebuah konsep akidah, satu ulama menggunakan hadis A, sementara ulama lainnya menolak hadis tersebut dan menggunakan hadis B yang isinya berbalik 180 derajat. Kebingungan metodologis inilah yang membuat bangunan akidah Syiah selalu berubah-ubah dan pecah menjadi banyak faksi di setiap generasi.
2. Doktrin Sembilan Persepuluh Agama: "Taqiyyah"
Faktor terbesar yang merusak konsensus akidah di antara ulama Syiah adalah penyalahgunaan doktrin Taqiyyah (legalitas menyembunyikan keyakinan atau berbohong demi kepentingan sekte). Dalam kitab-kitab fikih dan akidah Syiah, terdapat riwayat yang mengeklaim bahwa para imam sengaja memberikan fatwa yang berbeda-beda kepada murid yang berbeda demi menjaga keselamatan mereka dari pengawasan khilafah Sunni.
Dampaknya sangat fatal bagi generasi ulama Syiah setelahnya. Ketika mereka membaca fatwa atau ucapan dari para imam mereka, mereka tidak pernah bisa membedakan dengan pasti:
Mana ucapan imam yang merupakan akidah asli dan murni?
Mana ucapan imam yang diucapkan hanya karena bersandiwara (Taqiyyah)?
Ketidakpastian ini melahirkan spekulasi tanpa akhir di kalangan ulama mereka. Akibatnya, lahir friksi teologis yang hebat antara faksi yang tekstual (Akhbariyyah) dengan faksi yang menggunakan rasio (Ushuliyyah) dalam menentukan doktrin keimanan.
3. Lahirnya Konsep "Bada'" (Tuhan Mengubah Pikiran)
Dalam teologi Syiah Imamiyyah, terdapat sebuah doktrin yang sangat ganjil dan memicu perpecahan besar, yaitu doktrin Bada'. Secara bahasa, Bada' berarti tampak setelah tersembunyi. Secara istilah dalam akidah Syiah, doktrin ini meyakini bahwa Allah SWT bisa mengubah keputusan-Nya yang telah ditetapkan atau baru mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui-Nya setelah hal itu terjadi.
Doktrin ini sebenarnya lahir sebagai "alat penyelamat" bagi para mullah ketika ramalan atau janji-janji politik dari para imam mereka ternyata meleset dan tidak terbukti di dunia nyata. Namun, efek samping dari doktrin ini justru menghancurkan stabilitas akidah mereka sendiri. Jika keputusan Tuhan bisa berubah di tengah jalan, maka konsep kepemimpinan imam (Imamah) pun menjadi tidak pasti. Hal inilah yang memicu lahirnya puluhan sekte baru di dalam Syiah (seperti Ismailiyyah, Zaidiyyah, Kaisaniyyah, dan Waqifiyyah) karena masing-masing faksi ulama berbeda pendapat tentang siapa imam yang sah setelah terjadinya "perubahan keputusan" tersebut.
4. Perselisihan Radikal Mengenai Kemurnian Al-Qur'an
Pertentangan paling mendasar dan berbahaya di antara ulama Syiah adalah dalam memandang kesucian Kitabullah. Di dalam internal Syiah, para ulama mereka terbelah menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang:
Kubu Pertama (Mendukung Tahrif): Ulama-ulama besar klasik mereka—seperti Al-Kulaini, Al-Majlisi, Ni'matullah Al-Jaza'iri, hingga Al-Nuri Al-Thabarsi—secara terang-terangan menulis kitab yang menegaskan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah mengalami distorsi dan pengurangan (tahrif) oleh para sahabat.
Kubu Kedua (Menolak Tahrif secara Lahiriah): Sebagian ulama kontemporer mencoba menolak doktrin tersebut demi kepentingan diplomasi politik dan pencitraan di hadapan dunia Islam.
Perbedaan dalam memandang orisinalitas Al-Qur'an ini bukanlah masalah kecil, melainkan masalah batas antara iman dan kufur. Kenyataan bahwa ulama mereka tidak satu suara dalam masalah ini adalah bukti konkret bahwa pondasi teologi Syiah sangat rapuh. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 82 mengenai ciri ajaran yang bukan berasal dari sisi-Nya:
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."
Kesimpulan
Ketidaksepakatan dan kontradiksi massal yang terjadi di antara ulama Syiah dalam urusan akidah adalah konsekuensi logis dari sebuah ajaran yang tidak dibangun di atas wahyu yang murni, melainkan di atas rekayasa politik, debasement metodologi hadis, dan doktrin kepalsuan (taqiyyah). Ket ketidakjelasan ini membuat bangunan teologi mereka senantiasa rapuh dan terpecah-belah.
Bagi umat Islam di Indonesia, realitas perpecahan akidah internal Syiah ini harus disosialisasikan secara masif. Hal ini penting agar masyarakat tidak mudah teperdaya oleh bualan para mubaligh Syiah yang sering mengeklaim bahwa mazhab mereka adalah jalan keselamatan yang padu dan terjaga. Menyingkap kerapuhan ilmiah mereka adalah langkah strategis dalam menjaga stabilitas iman dan membentengi kaum muslimin nusantara dari penyimpangan Rafidhah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: